Menag: Penguatan Etika Penting untuk Pembentukan karakter Bangsa
NU Online · Kamis, 10 Juni 2010 | 02:38 WIB
Keteladanan sangat penting di tengah anak bangsa yang tengah mengalami degradasi etika. Karenanya, penguatan etika sangat penting dalam membentuk karakter bangsa ke depan. Terutama di saat masyarakat mulai kehilangan kemuliaan akhlak, kepedulian sesama, dan kepekaan nurani.
Demikian dinyatakan Menteri Agama Suryadharma Ali dalam pembukaan Kongres III Tokoh Agama di Hotel Mercure Convention Center Jakarta, Rabu (9/6). Menurut Menag, peneguhan karakter bangsa bukan semata tugas Kementerian Agama, melainkan pemangku kepentingan lain juga harus ikut terlibat di dalamnya.
>
Lebih lanjut, Menag mengaku akan bekerja keras meneguhkan komitmen bangsa dalam mengangkat etika sebagai modal membentuk karakter bangsa. Dalam acara jumpa pers bersama para tokoh agama, Menag kembali mengulangi pentingnya pembentukan karakter bangsa.
"Termasuk di bidang politik, tumbuh demokrasi yang ditandai kebebasan berpendapat dengan mengabaikan etika, tak memperhatikan ekses negatif. Begitu pula di bidang budaya, masyarakat telah terjebak pada budaya materialistik dan sekularistik, melupakan nilai spiritual dan akal sehat," tutur Suryadharma.
Untuk itu ia berharap tokoh agama sebagai agent of social change (agen perubahan sosial) dapat menjadi teladan agar nilai etika dan moral dapat dianut masyarakat Indonesia.
Kongres tokoh agama ini mengangkat tema "Memantapkan Etika Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa, dan Bernegara". Hal ini erat kaitannya dengan keprihatinan para tokoh agama terhadap semakin tergerusnya etika dan moralitas di berbagai bidang kehidupan, bidang politik, kebudayaan, dan ekonomi.
Di bidang ekonomi, etika dan moralitas telah hilang ke arah perilaku ekonomi monopolistik dan penumpukan kekayaan pada orang tertentu. (min)
Terpopuler
1
Cara Penguburan Ikan Sapu-Sapu oleh Pemprov DKI Dapat Kritik dari MUI
2
Hukum Mengubur Ikan Sapu-Sapu Hidup-hidup, Bolehkah?
3
Sejumlah Pemberitaan Wafat KH A Wahid Hasyim di Media Massa
4
118 Hotel Siap Tampung 108 Ribu Jamaah Haji Indonesia Kloter Pertama
5
Delegasi Belanda Belajar Nilai dan Kehidupan Santri di Pesantren
6
Risih Tangisan Bayi di Transportasi Umum: Ruang Publik Bukan Milik Kita Sendiri
Terkini
Lihat Semua