Delegasi Belanda Belajar Nilai dan Kehidupan Santri di Pesantren
NU Online · Selasa, 21 April 2026 | 13:00 WIB
Delegasi Belanda berbincang dengan para santri di Pesantren Ash-Shiddiqiyah Jakarta, Senin (20/4/2026). (Foto: istimewa)
Amien Nurhakim
Penulis
Jakarta, NU Online
Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta menjadi ruang perjumpaan lintas negara dalam kegiatan bertajuk The Role of Pesantren in Shaping Values: Dialogue and Friendship. Kegiatan ini mempertemukan akademisi, praktisi, dan pelaku industri dari Belanda dengan kalangan pesantren dan akademisi Indonesia dalam suasana dialog yang hangat dan terbuka.
Acara ini merupakan hasil kolaborasi antara Vrije Universiteit Amsterdam, Universitas Indonesia, Yayasan Santri Mengglobal, dan Pondok Pesantren Asshiddiqiyah. Fakultas Syariah dan Hukum Universitas PTIQ Jakarta turut berperan dalam mengoordinasikan jalannya kegiatan, mulai dari penyusunan agenda hingga fasilitasi dialog.
Sebanyak 17 peserta dari Belanda hadir dalam kegiatan ini, terdiri dari profesor, konsultan, hingga profesional dari berbagai sektor industri. Beberapa di antaranya berasal dari Vrije Universiteit Amsterdam, sektor energi, kesehatan, hingga lembaga riset dan organisasi internasional . Mereka bergabung bersama akademisi dari Universitas Indonesia, perwakilan pesantren, serta komunitas Santri Mengglobal.
Pengasuh Pesantren Asshiddiqiyah KH Ahmad Mahrus Iskandar menekankan pentingnya pendidikan yang integratif di pesantren. Menurutnya, penggabungan antara nilai agama dan teknologi menjadi bekal penting bagi santri dalam menghadapi kehidupan nyata.
"Bahasa Arab dan bahasa Inggris merupakan dua program yang komitmen kami terapkan kepada santri, sehingga setelah lulus dari pesantren, mereka bisa bersaing di kancah global," kata Gus Mahrus, sapaan akrabnya, pada Senin (20/4/2026) sore.
Sementara itu, Dito Alif Pratama, perwakilan dari Santri Mengglobal sekaligus Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas PTIQ Jakarta, menekankan bahwa kesuksesan santri tidak lepas dari nilai-nilai dasar yang terus ditanamkan.
"Di pesantren kita diajarkan sikap menghargai orang lain dan kedisiplinan waktu. Dua hal ini selalu diajarkan dalam kehidupan pesantren, sehingga santri terbiasa mengimplementasikannya di tengah masyarakat," ujarnya.
Kesan mendalam juga datang dari para peserta internasional. Eline van Doorn, salah satu peserta dari Belanda, mengaku terkesan dengan pola kehidupan di pesantren. Ia menilai ritme aktivitas yang dimulai sejak dini hari menjadi pengalaman yang unik.
Menurutnya, jika ia pernah merasakan kehidupan pesantren di masa muda, mungkin akan memberikan perspektif yang berbeda dalam hidupnya. Ia juga menyoroti kedisiplinan waktu di pesantren sebagai sistem pendidikan yang kuat dan positif bagi pembentukan karakter.
Melalui kegiatan ini, pesantren tidak hanya hadir sebagai lembaga pendidikan tradisional, tetapi juga sebagai ruang dialog global yang menawarkan nilai, kedisiplinan, dan cara hidup yang relevan di tengah dunia yang terus berubah.
Terpopuler
1
LF PBNU Umumkan 1 Dzulqadah 1447 H Jatuh pada Ahad 19 April
2
17 Kader NU Diwisuda di Al-Ahgaff, Ketua PCINU Yaman Torehkan Terobosan Filologi
3
Mengapa Tidur setelah Subuh Sangat Berbahaya bagi Tubuh?
4
LF PBNU Rilis Data Hilal Awal Dzulqa’dah 1447 H, Berpotensi Jatuh pada 19 April
5
Cara Penguburan Ikan Sapu-Sapu oleh Pemprov DKI Dapat Kritik dari MUI
6
Benarkah Pendiri PMII Hanya 13 orang?
Terkini
Lihat Semua