Jakarta, NU Online
Norwegia, negara paling utara di planet bumi ini, jika bulan Ramadhan bertepatan dengan musim panas, umat Islam di Kutub Utara itu berpuasa selama 18 jam. Di Norwegia, saat musim panas, waktu subuh pk 03.00 dan maghrib pk 21.00. Ini menunjukan bahwa umat Islam di Norwegia, paling lama mengalami siang hari saat musim panas.
Sebaliknya, bila musim dingin seperti sekarang, umat Islam Norwegia paling singkat menjalankan ibadah puasa. Subuh pk 06.00 dan adzan maghrib pk 14.00. "Sewaktu di Norwegia, saya pernah menjalankan ibadah puasa bertepatan musim dingin. Siang hari cukup singkat, cuma 7 jam. Saya berpuasa dapat diskon," kata Sigit Khumaidi salah seorang mahasiswa NU di Norwegia kepada NU Online yang diceritakan via E-mailnya, Jum'at (15/10).
<>Puasa dalam Alquran disebut siyam, adalah menahan hawa nafsu, menahan rasa lapar dan haus mulai imsak (menjelang shubuh) hingga adzan maghrib. Rasulullah SAW tidak menjelaskan pukul berapa harus dimulai puasa dan mengakhirinya kecuali dengan ditandai terbit dan tenggelamnya matahari.
Menahan makan dan minum dari pagi hinga petang, tidaklah sama waktunya bagi umat Islam di Indonesia dan mancanegara. Hal itu disebabkan, perbedaan geografis masing-masing negara berlainan. Indonesia misalnya, memiliki waktu siang yang stabil yakni sepanjang 14 jam, mulai sahur pk 04.00 hingga maghrib pk 18.00.
Berbeda dengan negara Inggris, Norwegia maupun Amerika Serikat. Di tiga negara ini waktu siangnya tidak stabil. Jika musim dingin, waktu siangnya lebih singkat. Sebaliknya bila musim panas, waktu siang lebih lama.
Perbedaan waktu siang hari di belahan dunia, karena jarak negara yang bersangkutan dengan matahari berlainan. Indonesia misalnya, terletak di garis katulistiwa, sehingga waktu siang dan malam relatif sama, baik di musim dingin maupun musim panas. Namun dibanding negara di Eropa dan Amerika, siang hari bisa lebih lama dan lebih pendek, tergantung musim. (cih)
Terpopuler
1
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
2
KH Nurul Huda Djazuli: Saya Cinta NU, Saya Tak Ingin Melihat Pengurus Bertengkar, NU dan Pesantren Harus Menguatkan
3
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
4
Kepada Pengurus NU, KH Nurul Huda Djazuli: Tetap Ikhlas demi Menghidupkan NU
5
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
6
Ketum PBNU: Barokah Kiai Sepuh, Munas dan Konbes NU di Ploso Berjalan Sukses
Terkini
Lihat Semua