Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menyatakan penetapan Hari Raya Idul Adha 1431 Hijriah berpotensi akan berbeda diantara umat Islam.
"Itu dapat terjadi karena ketinggian hilal hanya 01.05 derajat atau kurang dari 2 derajat," kata Ketua Lajnah Falaqiah PWNU Jatim KH Abdus Salam Nawawi di Surabaya, Ahad.<>
Menurut dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya itu, ketinggian hilal di bawah 2 derajat itu memungkinkan hilal (rembulan usia muda sebagai pertanda dari pergantian kalender) tidak terlihat.
"Kalau tidak terlihat akan diistikmalkan atau usia bulan Dzulqa`dah disempurnakan menjadi 30 hari, sehingga kemungkinan Idul Adha akan sama pada 17 November, tapi bila tidak terlihat akan terjadi perbedaan itu," katanya.
Namun, katanya, perbedaan itu bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan, karena perbedaan cara untuk menetapkan awal bulan/kalender antara "rukyatul hilal" dan "hisab" memang memungkinkan perbedaan itu.
"Kalau NU melakukan rukyat, sedangkan organisasi lain melakukan hisab, maka wajar kalau berbeda. Tapi, kalau cara berbeda dan hasilnya sama, maka hal itu patut disyukuri," katanya. (ant/mad)
Terpopuler
1
Menakar Kapasitas Al-Albani dalam Ilmu Hadits: Benarkah Layak Disebut Muhaddits?
2
Gus Kikin Sebut NU Dukung Program Pemerintah, Fokus pada Pembangunan Manusia
3
PCNU Jombang Harapkan PBNU Masa Khidmah 2026-2031 Prioritaskan Program Keumatan
4
Gus Kikin Targetkan Susunan Kepengurusan PBNU 2026-2031 Rampung dalam 30 Hari
5
Seismik Anak Krakatau Menurun, PVMBG Ingatkan Potensi Letusan Lebih Kuat Masih Terbuka
6
10 Pendapat Al-Albani yang Bertentangan dengan Imam Mazhab dan Mayoritas Ulama Ahlussunnah
Terkini
Lihat Semua