Jakarta, NU Online
Bagi siapapun pemangku kebudayaan Jawa, kebudayaan itu tentu tetap melekat sedemikian kuat, sehingga apapun agamanya, kejawaan itu tidak akan lenyap begitu saja. Begitu juga pengalaman yang diperoleh seorang aktivis kebudayaan, Slamet Rahardjo Djarot, dalam memahami keislaman. Ketika Islam modern mulai giat disiarkan di Indonesia, ia menentang warisan-warisan kebudayaan Jawa seperti slametan, tahlilan, ziarah kubur dan sebagainya yang dituduh sebagai takahyul, bid'ah dan churafat yang disingkat dengan (TBC) yang diasosiasikan dengan penyakit rakyat yang berbahaya.
Hinaan semacam itu dialami oleh keluarga Djarot di Yogyakarta yang semua lingkungannya adalah pengikut Muhammadiyah Islam modirnis kearaban. Sementara keluarganya menganut Islam ahlussunnah ala NU yang bernuansa kejawen. Keluarganya ini dianggap orang berpenyakit TBC, sehingga setiap kali bertemu dengan tetanggaanya selalu ditanya apakah sudah sembuh TBC-nya.
<>Walaupun penghinaan begitu gencar bahkan terus dilakukan hingga sekarang, komitmen Slamet dan seluruh keluarga besar Djarot untuk tetap mengamalkan tradisi-tradisi NU tidak bergeser. Karena tradisi-tradisi itu dinilainya bukan hanya menyangkut soal doktrin tetapi juga soal rasa.
"Bagaiman mungkin saya membiarkan kakek saya yang saya cintai meninggal dengan membiarkan begitu saja, tanpa saya mendoakan, sebagai ungkapan rasa hormat, rasa haru, rasa cinta terhadap beliau. Tetapi ini dianggap musyrik, padahal dalam doa dan zikir saya saya tidak menyebut nama kakek, melainkan menyebut asma Allah dan asma Nabi. Di mana letak musyriknya, karena itu saya tetap melaksanakan amalan peninggalan nenek moyang saya," kata Slamet belum lama ini.
"Kebetulan amalan itu direstui dan dianggap amalan yang soleh oleh NU, maka keluarga saya bisa melakasanakan ajaran dan falsafah jawa karena mengikuti tradisi NU. Dengan mengikuti tradisi NU Islam saya bisa sesuai dengan kultur
Menurutnya, kita perlu belajar dari kearifan tradisi sendiri, sehingga keberagamaan kita bisa lebih mendalam, lebih tepat dan lebih ramah. "Kalau kita sudah terpola oleh tradisi Arab ada kecenderungan akan melenyapkan semua yang berbau non Arab yang dianggap bid’ah dan tidak Islami. Memang dalam kultur Arab ada kecenderungan hegemonic. Perilaku ini yang akan mendangkalkan keberagamaan kita."
Actor dan sutradara terkenal ini mengatakan, kita berislam tidak lain adalah untuk meningkatkan kualitas kemanusiaan kita, derngan mencari kesempurnaan hidup. (dz)
Terpopuler
1
Sambangi PBNU, 23 PWNU Sampaikan Harapan Soal Muktamar ke-35 NU
2
Innalillahi, Pengurus Muslimat NU Kemayoran Wafat dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi
3
Stasiun Bekasi Timur Ditutup Sementara, KRL Hanya Beroperasi hingga Stasiun Bekasi
4
KA Jarak Jauh Tabrak KRL di Bekasi Timur, Gerbong Perempuan Ringsek
5
Sempat Hilang, Karyawan Kompas TV Aini Meninggal Dunia dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
6
3 Orang Tewas dalam Tabrakan Kereta di Bekasi, KAI Minta Maaf Fokus Evakuasi
Terkini
Lihat Semua