Pameran kaligrafi di gelar di Gedung Jam'iyyatul Hujjaj Kudus (JHK) baru-baru ini atas prakarsa PT. Mubarokfood memeringati Seabad kehadirannya di tengah masyarakat. Terpampang seniman kaligrafi papan atas di Kudus, di antaranya adalah Nur Aufa Sidik, Anif Faridzi, Muhammad Assiry Jasiri, Turmudzi Elfais, Hasan Makmuri, dan Syukron Makmun.
Pameran kaligrafi ini merupakan yang terbesar pertama kali diadakan di Kudus. Salah satu kreator, Anif Faridzi, menuturkan bahwa kualitas dan kuantitas pameran mampu menyangi pameran kelas nasional.<>
Hasan Makmuri mengemukan hal serupa, setiap lima tahun sekali di Masjid Istiqlal Jakarta diadakan pameran. Seniman Kudus selalu mendominasi. Sehingga jika mereka datang menyaksikan karya yang dipajang di sini pasti akan terperanjat.
“Tidak akan menyangka di sini ada pameran yang mampu menyaingi even di Istiqlal,” kata Hasan. Pameran ini, menurut Hasan, merupakan bagian dari gelar karya. Tidak ada maksud untuk pamer. Ia menggarisbawahi bahwa yang terpenting dari seorang seniman adalah tetap berkarya. “Di pamerkan atau tidak karyanya, seniman harus terus berkarya,” kata dia.
Anif yang ditanya soal pasar konsumen atau pembeli kaligrafi menjelaskan, tidak ada pengaruhnya terhadap sebuah fenomena pasar karya seni lukis maupun kaligrafi di tempat lain. Menurutnya, kaligrafi mempunyai pasar tersendiri.
“Kecenderungan terhadap sebuah karya kaligrafi tidak bisa dipaksakan, setiap orang mempunyai ketertarikan sendiri-sendiri,” jelas Anif yang juga Kepala Sekolah SMK Grafika R. Umar Said Kudus ini.
Yang perlu dipertahankan, lanjut Anif, adalah makna spiritual karya. Pesan-pesan religi yang disampaikan lewat medium kaligrafi diharapkan mampu menyadarkan keberadaan Tuhan dan Agama yang selalu mengajakkepada kebaikan.
Ia berharap bahwa even seperti ini tidak hanya sekali diadakan. “Sayang, jika kota Kudus yang terkenal santri, seni kaligrafinya kurang disemarakkan,” kata Anif.
Karya yang dipamerkan selama dua hari Jumat sampai Sabtu (9-10/7) itu mematok harga dari Rp 500 ribu sampai di atas Rp 5 juta. Medium yang digunakan beragam, mulai dari kanvas, stereofom, sampai kayu. (zak)
Terpopuler
1
Ancam Ekosistem Pertembakauan, Lesbumi PBNU Tolak Rancangan Aturan Kemenko PMK dan Kemenkes soal Tembakau
2
Kapten Timnas Iran Kritik FIFA, Sebut Piala Dunia 2026 'Bencana' dan Berjalan Tidak Adil
3
Pemerintah Tetapkan Logo Resmi HUT ke-81 RI, Ini Makna Desain dan Cara Unduhnya
4
DPR Desak Latsarmil Calon Manajer Kopdes Dihapus, Negara Bisa Hemat Lebih dari Rp1 Triliun
5
Hari Bhayangkara Ke-80, Presiden Prabowo Klaim Polri Berkontribusi pada Ketahanan Pangan dan MBG
6
Rais Syuriah PBNU Ingatkan Pengurus PWNU Aceh: Jangan setelah Dilantik Malah Jadi Urusan
Terkini
Lihat Semua