Surabaya, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Drs A Hasyim Muzadi mengaku pihaknya sudah mengingatkan Malaysia dengan mengirim delegasi ke negeri jiran pada 14 Maret lalu terkait sengketa blok Ambalat. "Pak Said Aqil Siradj sudah bertemu Perdana Menteri (PM) Malaysia, karena jika terjadi perang maka Shell (perusahaan tambang minyak raksasa Belanda) yang untung," katanya di Surabaya, Minggu (20/3) seperti dikutip ANTARA.
Di sela-sela haul (peringatan wafat tahunan) ke-14 KH Mas Tholhah Abdullah Sattar selaku pendiri Pesantren At-Tauhid, Sidoresmo, Surabaya, ia menjelaskan Malaysia tak perlu melibatkan perusahaan tambang minyak Shell dalam agitasi."Perang antara RI-Malaysia akan menguntungkan Shell, tapi justru merugikan Islam, OKI, dan ASEAN. Malaysia sebagai Ketua OKI tidak baik bertempur dengan anggota OKI (Indonesia)," katanya.
<>Selain itu, kata mantan Ketua PWNU Jatim itu, pertempuran yang terjadi juga akan berarti perang sesama muslim, karena RI-Malaysia sama-sama negara yang mayoritas muslim. "Sebagai sesama muslim dan OKI, harga persatuan RI-Malaysia jauh lebih mahal dibanding harga minyak yang disengketakan," kata mantan Cawapres PDIP dalam pilpres 2004 itu.
Menanggapi peringatan delegasi PBNU, katanya, PM Malaysia menilai Malaysia tidak akan mengambil hak Indonesia, karena itu perlu diperjelas siapa pemilik hak yang sebenarnya."Untuk itulah, pemerintah Indonesia dan Malaysia akan berunding pada 22-23 Maret guna membicarakan solusi yang terbaik," katanya.
Ditanya langkah PBNU mengingatkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ia menyatakan PBNU mendukung langkah TNI menjalankan langkah-langkah pro-aktif. Diberitakan sebelumnya, kedua negara telah memberi konsesi eksplorasi blok kepada perusahaan berbeda yakni Indonesia telah memberi izin kepada ENI (Italia) dan Unocal (AS), sementara Shell mengantongi izin dari Malaysia.(cih)
Terpopuler
1
Kultum Ramadhan: Keutamaan 10 Malam Terakhir dan Cara Mendapatkan Lailatul Qadar
2
Menurut Imam Ghazali, Lailatul Qadar Ramadhan 1447 H Akan Jatuh pada Malam Ke-25
3
Syed Muhammad Naquib al-Attas: Cendekiawan tanpa Telepon Genggam
4
Makna Keterpilihan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
5
Lafal Doa Malam LaiLatul Qadar, Lengkap dengan Latin dan Terjemah
6
Cendekiawan Malaysia Syed Naquib Alatas Meninggal Dunia dalam Usia 94 Tahun
Terkini
Lihat Semua