Pemerintah Upayakan Tidak Ada Perbedaan Hari Idul Fitri Di Indonesia
NU Online · Sabtu, 30 Oktober 2004 | 02:12 WIB
Jakarta, NU Online
Pemerintah menyatakan akan mengusahakan semaksimal mungkin tidak akan ada perbedaan waktu jatuhnya hari raya Idul Fitri tahun 2004 atau 1425 H di Indonesia.
"Kita usahakan semaksimal mungkin supaya tidak akan ada perbedaan. Seperti diketahui, Ramadhan tidak ada perbedaan. Insya Allah (Idul Fitri) tidak akan ada perbedaan," kata Menteri Agama Maftuh Basyuni di Cikarang, Bekasi, Jumat petang.
<>Maftuh, yang ditanyai wartawan usai mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berbuka puasa bersama masyarakat Bekasi, mengatakan bahwa pemerintah telah mengantisipasi upaya pemecahannya jika terjadi perbedaan. "Kita kan ada majelis ’tarjih’ atau ’isbat’. Kita sudah ada panitia," kata Maftuh.
Penentuan jatuhnya hari raya Idul Fitri biasanya dilakukan pada saat habisnya bulan Ramadhan.
Sementara itu, menurut kalender masehi, hari raya Idul Fitri pada tahun 2004 ini akan jatuh pada tanggal 14 November. Dalam penentuan hari dimulainya bulan Ramadhan sendiri, Indonesia tidak mengalami perbedaan, yaitu dimulai pada tanggal 15 Oktober 2004.
Penentuan tanggal 15 Oktober itu diambil dalam Sidang Isbat di Departemen Agama yang dihadiri sejumlah Ormas Islam seperti PBNU, Dewan Dakwah Islamiyah, Dewan Masjid, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Al Washliyah, dan lainnya serta sejumlah Duta Besar negara Muslim termasuk Dubes Palestina Ribhi Awad.
Keputusan tanggal 15 Oktober 2004 sebagai dimulainya bulan Ramadhan tersebut dituangkan dalam Keputusan Menag No 411 tahun 2004 tentang Penetapan Tanggal 1 Ramadhan 1425 H yang menyatakan perhitungan data hisab yang dihimpun Depag.
Keputusan itu juga didasarkan atas kesepakatan ahli hisab dan rukyat yang tergabung dalam Badan Hisab dan Rukyat Depag.(an/mkf)
Terpopuler
1
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
2
KH Nurul Huda Djazuli: Saya Cinta NU, Saya Tak Ingin Melihat Pengurus Bertengkar, NU dan Pesantren Harus Menguatkan
3
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
4
Kepada Pengurus NU, KH Nurul Huda Djazuli: Tetap Ikhlas demi Menghidupkan NU
5
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
6
Ketum PBNU: Barokah Kiai Sepuh, Munas dan Konbes NU di Ploso Berjalan Sukses
Terkini
Lihat Semua