Pendekatan Islam Monodisiplin Tidak Lagi Memadai
NU Online · Rabu, 12 Oktober 2011 | 06:07 WIB
Pangkalpinang, NU Online
Tuntutan modernitas dan globalisasi menuntut kajian Islam yang saintifik, yang secara serius melibatkan berbagai pendekatan.
Wacana tersebut mengemuka pada seminar Annual Conference on Islamic Studies (ACIS) ke-10 yang diselenggarakan di Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Selasa (11/10).<>
Prof Dr Amin Abdullah yang menjadi pembicara utama pada hari pertama seminar bertema “Mozaik Islam dan Karakter Bangsa” mengatakan, “Pendekatan Islam monodisiplin tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan zaman yang dihadapi umat Islam di berbagai tempat.”
Guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga itu menjelaskan tentang perkembangan studi Islam di Indonesia. Menurutnya, perkembangan studi Islam terbagi dalam tiga ranah atau periode.
Pertama tahun 1950 – 1970 atau disebut periode atau disebut ulum al-din. Kedua, tahun 1970 – 1990 atau disebut al-fikr al-Islamy, dan ketiga tahun 1991 – 2011 atau dirasat Islamiyyah.
“Dari periode tersebut perlu dibeda-bedakan meskipun tidak bisa dipisah-pisahkan antara tiga ranah kajian Islam,” ujar Amin Abdullah yang menjadi pembicara utama bersama pakar sejarah Prof Dr Taufik Abdullah.
Menurut Amin Abdullah, “Kajian keislaman era kontemporer di Indonesia perlu melibatkan ulum al-din, al-fikr al-Islamy, dan dirasat Islamiyyah. "Ke depan Annual Conference of IslamiC Studies atau ACIS di Indonesia perlu mempertimbangkan kesalingterkaitan antara ketiganya.”
Redaktur : Syaifullah Amin
Terpopuler
1
LF PBNU Umumkan 1 Muharram 1448 H Jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026
2
Ini Lafal Doa Akhir dan Awal Tahun Hijriah
3
PWNU dan PCNU Se-Yogyakarta dan Jawa Tengah Tolak Pembatasan Ahwa hingga Perubahan Kedudukan Rais Aam
4
LF PBNU Instruksikan Rukyatul Hilal Awal Muharram 1448 H Sore Ini
5
Lafal Niat Puasa Muharram, Tasua, dan Asyura
6
BEM UI Dukung Gelombang Aksi di Berbagai Daerah, Siapkan Gerakan Lanjutan
Terkini
Lihat Semua