Yogyakarta, NU Online
Pasar bebas yang diimpikan oleh Adams Smith yang digerakkan oleh invisible hands (tangan tak terlihat) itu tidak pernah terjadi, sebab dalam perkembangan ekonomi ternyata intervensi kekuasaan baik negara maupun korporasi sangat besar. Terbukti dalam persaingan yang besar selalu membunuh dulu yang kecil secara curang, ini yang terjadi.
Tidak jarang hal itu dilakukan melalui mekanisme regulasi. Anehnya tesis tentang invisible hands itu masih dihargai, terbukti dengan diberikannya hadiah Nobel Ekonomi pada penerus teori yang sudah usang itu. Demikian KH Mohammad Maksum, Dosen Fakultas Pertanaian Universitas Gadjah Mada (UGM) kepada NU Online berkaitan dengan pemberian Hadiah Nobel Ekonomi pada ahli ekonomi Amerika tahun 2007 ini.
t;
Wakil ketua Pengurus Wilayah NU Daerah Istimewa Yogyakarta itu mengatakan, untuk mengatasi pasar yang saling membunuh itu semestinya negara turun tangan untuk melakukan mediasi, agar terjadi fairness (kejujuran) dalam mekanisme pasar. Ketika tidak terjadi fairness maka negara yang harus masuk melakukan intervensi untuk mengkomunikasikan market player yaitu antara konsumen dengan produsen.
Tetapi celakanya dalam kasus Indonesia ketika negara campur tangan fairness tidak terjadi sebab mereka hanya mementingkan kroninya untuk pengembangan ekonomi jangka pendek. Dari situ kemudian selama masa orde baru dikenal dengan pengusaha klien, yang mendapatkan fasilitas besar dari negara. Karena mereka hanya bermodal uang tanpa pengalaman bisnis yang memadai akhirnya mereka sangat mudah digoyah oleh krisis. Sekali kena krisis mereka limbung.
Pasar bebas yang berlaku saat benar-benar manipulatif, tidak digerakkan oleh mekanisme pasar dengan sistem kompetisi murni, seperti yang diduga, dan diharapkan tetapi dikendalikan oleh kartel, atau oleh kapitalisme negara beserta kroninya, dalam bentuk berbagai regulasi yang menentukan. Karena itu kita masih perlu mencermati apa agenda politik di balik pengembangan teori invisible hands yang sudah lama diabaikan orang itu bagi perkembangan sistem ekonomi ke depan.
Sebab teori yang dikukuhkan dalam hadiah Nobel itu biasanya akan dikembangkan berbagai universitas terkemuka di dunia, berikutnya akan diadobsi oleh PBB, dan akan menjadi program umum yang digerakakan oleh UNDP, IMF atau Bank Dunia. Kita harus tunggu perkembangan selanjutnya. "Yang jelas teori itu lahir dengan semangat kapitalisme yang ofensif," kata Maksum. (mdz)
Terpopuler
1
Munas-Konbes NU 2026 di Ploso Bakal Dihadiri Lebih dari 500 Peserta dan Peninjau
2
Bahlil Janji BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir 2026, Pertamax Malah Melonjak Jadi Rp16.250 per Liter
3
Menjaga Marwah Pemilihan Pengurus NU: Catatan dari Sowan kepada KH Afifuddin Muhajir
4
Gus Ipul: Pembukaan Munas-Konbes NU 2026 di Bangkalan Masih Sebatas Usulan
5
Khutbah Jumat: Meneladani Hidup Rasulullah di Masa Ekonomi Sulit
6
Gempa M7,8 Guncang Filipina: 35 Orang Meninggal Dunia, Ribuan Bangunan Rusak
Terkini
Lihat Semua