Persaudaraan Warga NU yang Beda Politik Harus Dipelihara
NU Online · Selasa, 28 September 2004 | 03:51 WIB
Magelang, NU Online
Persaudaraan antar-warga Nahdlatul Ulama (NU) dengan berbagai perbedaan pandangan politiknya harus tetap dipelihara, kata Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid.
"Persaudaraan NU harus dipelihara, apapun pandangan politik, baik warga NU yang di Golkar, PPP, PDIP, apalagi PKB. Itu boleh asalkan bukan PKI," katanya di Magelang, Senin malam saat berbicara pada Haflah At Tasyakkur Lil Ikhtitam ke-61 Asrama Perguruan Islam Ponpes Salaf Tegalrejo Magelang Jateng.
<>Ia mengaku dua malam sebelum Pilpres putaran kedua (20/9) didatangi sekitar seratus kyai menanyakan masa depan NU pasca Pemilu.Kehadiran para kyai saat itu, katanya, patut disyukuri karena mereka ternyata bukan ingin membicarakan masalah terkait Pemilu tetapi membicarakan masa depan organisasi Islam terbesar di Indonesia itu.
              Â
Tugas pendidikan
Menurut dia, NU harus dikembalikan kepada tugas pendidikan baik sekolah, madrasah maupun pondok pesantren guna penanaman akhlak mulia generasi penerus bangsa. Para kyai, katanya, memiliki tanggung jawab besar dalam rangka pembentukan akhlak mulia generasi penerus bangsa.
Sejak masa lampau sebelum terbentuk NU dan Muhammadiyah, katanya, para ulama menggunakan pendekatan budaya dan kelembagaan dalam melaksanakan ajaran Islam.
Hingga saat ini, katanya, budaya tahlil, shalawat, halal bi halal masih tetap hidup.       Budaya menjadi penentu jalannya pikiran dan jalan hidup manusia. Sejak awal para santri harus dibentuk pribadinya menjadi berakhlak mulia melalui pendekatan budaya
Misalnya, katanya, kebiasaan tunduk kepada pimpinan pondok, melakukan perbuatan baik dengan tetangganya dan dikirim untuk berkotbah. "Artinya santri dilatih dalam pendidikan secara lengkap, melaksanakan akhlakul kharimah. Hal ini penting kita sadari," katanya.
Ia mengakui proses pendidikan di Ponpes cenderung ketinggalan dari perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan modern."Tetapi itu tidak penting karena masalah teknologi dan ilmu pengetahuan modern bisa dikejar, sedangkan masalah akhlak tidak bisa dikejar tetapi harus dilaksanakan," katanya.
Akhlak, katanya, mengarahkan manusia untuk menjalani kehidupan secara baik. Manusia Indonesia harus menjadi modern tetapi tidak boleh kehilangan akhlak mulia. Para santri pada masa mendatang harus mampu menegakkan kejujuran dan tidak boleh berbuat curang dalam kehidupan sehari-hari.
"Pendidikan dengan dasar akhlakul kharimah selalu mengajarkan sesuatu yang sifatnya peri kemanusaian," kata Abdurrahman Wahid.(an/mkf)
Â
Â
Terpopuler
1
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
2
KH Nurul Huda Djazuli: Saya Cinta NU, Saya Tak Ingin Melihat Pengurus Bertengkar, NU dan Pesantren Harus Menguatkan
3
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
4
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
5
Ketum PBNU: Barokah Kiai Sepuh, Munas dan Konbes NU di Ploso Berjalan Sukses
6
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
Terkini
Lihat Semua