Pondok pesantren mampu menjadi pilar mewujudkan perbaikan lingkungan yang belakangan mengalami kerusakan. Salah satunya bisa dilakukan dengan menerapkan gaya hidup lestari yang dipelopori oleh pimpinan pondok pesantren tersebut.
Demikian disampaikan Guru Besar IAIN Walisongo Semarang Prof.Dr.Mujiyono Abdillah MA pada seminar "Ngaji lingkungan: Ikhtiar jihad melawan ekoterorisme", yang diselenggarakan Pondok pesantren Darul Falah Jekulo Kudus, belum lama ini.<>
Menurut Mujiyono, pesantren merupakan media yang efektif untuk menyuarakan lingkungan menjadi baik kembali.
"Meski belum banyak yang memanfataakannya, namun saat ini moment yang tepat untuk mengangkat green pesantren," katanya.
Lebih jauh Mujiyono mencontohkan apabila gaya hidup lestari dikembangkan di pesantren, maka kemungkinan gaya itu akan meluas besar. Sebab, lulusan pondok biasanya lebih banyakk yang pulang kembali ke desa masing-masing.
"Karena itu, seorang santri bisa mengembangkannya di desa tempat dia tinggal sehingga mampu menyosialisasikan dan terjaga pula lingkungannya," tandasnya.
Mengenai problem lingkungan, tambah Mujiyono, diakibatkan munculnya gaya hidup kontraekologi.
"Makanya gaya hidup lestari menjadi keniscayaan yang tak terbantahkan. Karena hidup lestari adalah cermin dari keyakinan menyeluruh, al aqidah al muttahidah al mufuqiyah al mu'tadillah," tegasnya lagi.
Selain Mujiyono, tampil menjadi pembicara Pimpinan Ponpes MIS Sarang Rembang KH. Roghib Mabru, Pegiat LP2NU Kudus Rois Noor. Hadir pula pengasuh Pesantren Darus Falah KH. Ahmad Badawi, tamu undangan dan ratusan santri dari ponpes se kabupaten Kudus. (adb)
Terpopuler
1
LF PBNU Umumkan 1 Dzulqadah 1447 H Jatuh pada Ahad 19 April
2
17 Kader NU Diwisuda di Al-Ahgaff, Ketua PCINU Yaman Torehkan Terobosan Filologi
3
Mengapa Tidur setelah Subuh Sangat Berbahaya bagi Tubuh?
4
LF PBNU Rilis Data Hilal Awal Dzulqa’dah 1447 H, Berpotensi Jatuh pada 19 April
5
Cara Penguburan Ikan Sapu-Sapu oleh Pemprov DKI Dapat Kritik dari MUI
6
Benarkah Pendiri PMII Hanya 13 orang?
Terkini
Lihat Semua