Petinggi Demokrat Silaturrahim ke PBNU, Jelaskan Situasi Politik Nasional
NU Online Ā· Kamis, 7 Mei 2009 | 08:49 WIB
Salah satu petinggi Partai Demokrat (PD), Ahmad Mubarok, bersilaturrahim ke Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya, Jakarta, Kamis (7/5) siang. Kedatangan Mubarok yang juga Wakil Ketua DPP PD itu diterima langsung Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi.
Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan situasi politik nasional terkini, terutama menjelang Pemilu Presiden pada Juli nanti. Menurut dia, partainya yang mengusung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai capres, menginginkan terbentuk koalisi yang kuat.<>
PD, imbuh Mubarok, tidak akan mengulangi praktik politik ādagang sapiā seperti yang terjadi dalam koalisi pada Pemilu Presiden 2004. āPartai Demokrat dan Pak SBY menginginkan koalisi yang jelas dan kuat, tidak seperti politik dagang sapi, seperti pada 2004,ā jelasnya.
Untuk kepentingan itu, lanjutnya, PD telah menyiapkan tiga gagasan pokok yang bisa dijadikan acuan dalam membentuk jalinan koalisi. Di antaranya, meliputi komitmen terhadap kelanjutan pembangunan, penegakan hukum demi terciptanya keadilan dan demokratisasi.
Ia tak mau menyebutkan saat ditanya nama cawapres pendamping SBY. Ia mengaku hanya mengetahui pertimbangan-pertimbangan strategisnya dalam memilih cawapres yang tepat. āHitungan matematisnya (baca: pertimbangan) sudah ada,ā katanya. Namun, soal nama, itu hak prerogatif sang capres, yakni SBY.
Karena alasan itu pula, PD, ujar Mubarok, tak sependapat dengan usulan beberapa partai anggota koalisi yang meminta dilibatkan dalam penentuan cawapres SBY. Sebab, pihaknya ingin sungguh-sungguh menerapkan sistem pemerintahan presidentil. Pengertiannya, wapres dan kabinet bertanggung jawab pada presiden. Itu berarti juga bahwa parpol atau parlemen, tidak bisa dilibatkan.
āBerbeda dengan sistem parlementer. Sistem presidentil, wapres atau para menteri bertanggung jawab pada presiden. Kalau parlementer, presiden bertanggung jawab pada parlemen yang tidak lain merupakan perwakilan parpol,ā jelas Mubarok.
Kunjungan Mubarok dalam kesempatan itu atas undangan PBNU. Tuan rumah memang sengaja mengundang sejumlah politikusāsebagian besar ketua umum parpolāyang berlatar belakang nahdliyin (warga NU). Sebelumnya, PBNU juga menerima Ketua Umum Partai Kebangkitan Nasional Ulama, Khoirul Anam.
Rabu (6/5) kemarin, pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia itu berturut-turut menerima tamu tiga ketua umum parpol, antara lain, Muhaimin Iskandar (Partai Kebangkitan Bangsa), Suryadharma Ali (Partai Persatuan Pembangunan) dan Jusuf Kalla (Partai Golkar). (rif)
Terpopuler
1
Syuriyah PBNU Harapkan Muktamar Ke-35 Digelar di Pesantren dengan Dua Kriteria
2
Khutbah Jumat: Menumbuhkan Empati dan Solidaritas Sosial Melalui KurbanĀ
3
Khutbah Idul Adha 2026: Menguatkan Solidaritas Melalui Semangat Berbagi
4
Khutbah Jumat: Meraih Pertolongan Allah dengan Membantu Sesama
5
Rapat Pleno PBNU: Munas dan Konbes Digelar 20-21 Juni 2026, Lokasi Diputuskan Menyusul
6
Menhan Sebut Seluruh Kabupaten di Jawa Akan Dikawal Batalyon Teritorial pada 2026
Terkini
Lihat Semua