New York, NU Online
Sekjen PBB Kofi Annan mengingatkan masyarakat di dunia untuk segera meninggalkan Islamophobia, yakni sikap takut atau benci terhadap hal-hal yang berkaitan dengan Islam, karena bertentangan dengan prinsip penghormatan terhadap hak azasi manusia.
Dalam sambutannya pada Seminar tentang Islam di Sekretariat PBB, New York, Selasa, Annan mengatakan bahwa Islamophobia tumbuh karena ada kesalahpahaman yang tersebar melalui media masa atau pun komentar-komentar."Kita harus mencegah media massa dan internet untuk penyebaran rasa kebencian," kata Annan.
<>Misalnya hubungan sejarah antara Kristen dan Islam, tambah Annan, lebih sering menonjolkan konflik-konflik. Padahal banyak hal di luar konflik, dalam konteks hubungan Kristen-Islam, misalnya perdagangan dan ilmu pengetahuan.
Istilah Islamophobia mulai tumbuh pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, namun gejalanya sudah ada bertahun-tahun sebelumnya.
Kini, kata Annan, akibat dari sejumlah peristiwa, banyak kaum Muslim di seluruh dunia merasa dirugikan dan menjadi korban kesalah-pahaman, merasa hak-haknya dikurangi dan bahkan khawatir atas keselamatan jiwanya. "Islam sering dilihat sebagai monolith, dimana penganutnya dianggap anti modernisasi dan cenderung ke arah tradisonal," kata Annan.
Misalnya disebut-sebut Islam anti demokrasi dan mengekang hak-hak kaum perempuan. Islam juga sering diidentikkan dengan dunia Arab, padahal mayoritas Muslim berada di negara-negara Asia non-Arab seperti Indonesia, Iran, Turki, serta negara-negara di Asia Tenggara dan Tengah.
Upaya menghapus Islamophobia juga harus terkait dengan upaya memisahkan Islam dengan aksi-aksi terorisme dan kekerasan yang membawa nama Islam. "Islam tidak boleh dihukum karena aksi sebagian orang yang melakukan aksi terorisme itu," katanya.
Menurut Annan, para pemimpin dunia juga tidak boleh hanya sekedar mengecam Islamophobia, namun harus memastikan bahwa tidak ada diskriminasi dalam penegakan hukum dan tindakan lainnya.
Sementara itu bagi kaum Muslim sendiri harus lebih banyak bicara, terutama sejak peristiwa 11 September 2001, dan menunjukkan komitmen bahwa mereka terpisah dengan kelompok yang melakukan kekerasan.
Seminar bertema,"Melawan Islamophobia: Pendidikan bagi toleransi dan saling pengertian" itu merupakan seri kedua dari seminar yang diselenggaran Departemen Informasi Publik PBB.
Seri pertama berlangsung pada 21 Juni lalu dengan tema "Melawan Sikap Anti-Semit".  Pembicara dalam seminar tersebut antara lain guru besar Studi Islam Universitas George Washington Prof Seyyed Hossein Nasr, wakil ketua Egyptian Council for Human Rights/guru besar Universitas Kairo Hany El-Banna, dan ketua Persatuan Muslim Sufi Amerika Imam Feisal Abdul Rauf.(an/mkf)
Â
Â
Terpopuler
1
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
2
KH Nurul Huda Djazuli: Saya Cinta NU, Saya Tak Ingin Melihat Pengurus Bertengkar, NU dan Pesantren Harus Menguatkan
3
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
4
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
5
Ketum PBNU: Barokah Kiai Sepuh, Munas dan Konbes NU di Ploso Berjalan Sukses
6
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
Terkini
Lihat Semua