Kesenian dalam berbagai bentuknya yang merupakan aktualisasi dari rasa keindahan manusia dapat menjadi jembatan dari kekakuan hubungan-hubungan antara agama yang tak bisa dipertemukan dalam konteks kebenaran masing-masing agama.
Demikian pendapat Ketua PBNU KH Masdar F. Mas'udi dalam sambutannya di acara Borobudur Spiritual Art, Sabtu (26/4) malam, di area taman Lumbini kompleks Candi Borobudur Magelang Jaten<>g.
“Perbedaan yang dianggap mutlak dan tak bisa ketemu dalam konteks kebenaran agama bisa dipertemukan lagi dalam kesenian,” katanya di hadapan penonton yang memenuhi area tersebut.
Dalam situasi seperti sekarang ini, peran kesenian tersebut menjadi semakin penting, mengingat kekerasan atas nama agama begitu nyata dan tampak di depan mata bahkan melibatkan para pimpinan agama. Perbedaan sesungguhnya adalah kodrat dari kehidupan manusia.
“Rasanya kita tak pernah melihat ada seniman yang melakukan perusakan. Justru seniman memperhalus dan mempedalam keagamaan kita,” ujarnya.
Kesenian, Menurut Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) ini, adalah puncak dari ciptaan, konsep, dan penghayatan keindahan, karena keindahan itu sendiri adalah puncak dari ciptaan. “Allah Maha Indah dan mencintai keindahan,” tandasnya.
Borobudur Spiritual Art ini adalah sebuah pagelaran (event) yang menampilkan karya-karya seni dari berbagai agama yang diharapkan dapat meningkatkan rasa toleransi dan saling menghargai antarumat beragama.
Berbagai karya seni yang khas dari Islam, Kristiani, Budha, Hindi, Kong Hu Cu dan Aliran Kepercayaan ditampilakan di hadapan para penonton. Sejumlah wisatawan asing juga tampak menikmati pagelaran yang berlangsung pada 25-27 April ini. (mkf)
Terpopuler
1
Kepada Pengurus NU, KH Nurul Huda Djazuli: Tetap Ikhlas demi Menghidupkan NU
2
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
3
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
4
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
5
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
6
KH Afifuddin Muhajir: Mekanisme Pemilihan Pemimpin, Apakah Harga Mati atau Beradaptasi?
Terkini
Lihat Semua