Perkembangan dunia pariwisata yang kerap kali identik dengan kegiatan yang berbau maksiat menjadi keperihatinan para ulama. Kebutuhan akan wisata yang sehat dapat diwujudkan dengan wisata ziarah.
“Pengembangan wisata ziarah dapat mencegah dampak negatif wisata bergaya barat seperti free sex dan narkoba,” kata ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi dalam pencanangan wisata ziarah akhir pekan lalu di Lamongan.<>PBNU bekerjasama dengan departemen partiwisata dan budaya saat ini tengah mengembangkan potensi wisata ziarah terutama makam-makam wali songo.
Tradisi ziarah merupakan tradisi yang sudah lama dijalankan oleh warga NU, maka pelayanan terhadap para peziarah diupayakan akan diperbaiki dalam program ini.
Kiai Hasyim mengatakan, dengan mengunjingi para wali kita dapat belajar banyak hal, terutama metode dakwah yang dilakukan yang tanpa konflik yang saat ini telah menurunkan ulama-ulama pesantren.
Kita perlu menemukan kembali rumusan-rumusan dakwah para wali untuk menyelamatkan multi budaya dan multi agama di Indonesia.
“Para wali mengajarkan Islam yang substansialis bukan Islam yang formalis, pengembangan Islam yang kultural bukan stru.tural. Formalitas Islam malah bisa menimbulkan perpecahan diantara elit sendiri,” tutur Hasyim.
Dalam Proyek wisata ziarah dengan alokasi dana 30 miliar ini departemen pariwisata dan budaya akan membantu memperbaiki infrastruktur, pengelolaan dan sosialisasi makam-makam. Untuk sementara fokus pengembangannya di makam Wali Songo dan selanjutnya akan dikembangkan di makam-makam lain di seluruh Indonesia.
Sementara itu PBNU akan membantu dalam aspek keagamaan tentang bagaimana berziarah yang benar untuk menghindari klaim bid’ah. Salah satu caranya adalah membuat buku panduan tuntuan berzaiarah yang berna sesuai dengan syariat Islam. Kiai Hasyim mengaku pernah ditanyai ulama dari Rabithah ‘Alam Islami tentang apakah orang NU pernan menyembah kuburan. “Hal2 seperti ini ang harus dijelaskan,” tegasnya.
Pengembangan wisata ziarah selain mengenalkan masyarakat pada aspek sejarah dan budaya juga akan meningkatkan potensi ekonomi masyarakat di sekitar lokasi wisata zaiarah. Peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar lokasi ziarah merupakan salah satu indikator berhasilnya program wisat ziarah ini. (mkf)
Terpopuler
1
Pemadaman Listrik dan Pergeseran Tanggung Jawab Negara atas Barang Publik
2
Muktamar Ilmu Pengetahuan 2026 di UIN Sunan Kudus Perkuat Konsolidasi Ilmuwan NU untuk Transformasi Sosial
3
Gempa Magnetudo 5,6 Guncang Pacitan, Terasa hingga Yogyakarta
4
Muktamar Ilmu Pengetahuan IV Dorong Lahirnya Gagasan Strategis untuk Bangsa
5
Kapten Timnas Iran Kritik FIFA, Sebut Piala Dunia 2026 'Bencana' dan Berjalan Tidak Adil
6
Mulai 1 Juli 2026, Kemenhaj Alihkan Seluruh Penerbangan Umrah dan Haji Khusus ke Terminal 2F
Terkini
Lihat Semua