Ibukota Prefektur Miyagi, Jepang, yang terletak di bagian utara Jepang, termasuk salah satu kawasan yang menderita kerusakan paling parah akibat gempa dan tsunami yang mengguncang Jepang, Jum'at 11 Maret 2011 kemarin.
Cukup banyak Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di kota ini. Kini, mereka telah ditampung di sejumlah lokasi di Sendai seperti sekolah-sekolah dan masjid. Beberapa lokasi di Sendai yang menjadi tempat penampungan WNI adalah SD Kunimi, SD Tatemachi, SD Kimachi, SMP Sanjo, dan Masjid Sendai.
/>
Sejauh ini terdapat lebih dari 20 orang WNI di SMP Sanjo, sekitar 7 orang WNI di Masjid Sendai, sekitar 8 orang WNI di SD Kunimi, 4 orang WNI di SD Tatemachi, dan 2 orang di SD Kimachi.
Ada pula beberapa orang WNI di Sendai yang sudah berhasil terhubung dengan pihak KBRI, namun belum diketahu persis lokasi keberadaaanya. Saat ini, WNI yang berada di lokasi pengungsian di Sendai berhadapan dengan sejumlah kendala seperti suhu yang rendah, keterbatasan konsumsi, serta ketiadaan air, listrik, dan gas. Konsumsi saat ini masih dipasok oleh sejumlah sukarelawan yang menyediakan nasi ransum.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai kondisi terbaru WNI di Sendai, dapat dilihat di http://www2.indonesianembassy.jp/ Selain WNI di Sendai, dalam situs Indonesian Embassy Tokyo itu juga dapat dilihat perkembangan mutakhir WNI yang berada di kawasan lain seperti Prefektur Ibaraki.
Terdapat banyak mahasiswa asal Indonesia yang sedang mengambil studi di Universitas Tsukuba, Ibaraki. Rata-rata mereka mengungsi di Kampus Kasuga. Mereka dalam kondisi aman walaupun gempa susulan saat ini masih juga terjadi setiap sepuluh menit sekali. (syf)
Terpopuler
1
Kultum Ramadhan: Keutamaan 10 Malam Terakhir dan Cara Mendapatkan Lailatul Qadar
2
Orang Wajib Zakat Fitrah Tapi Juga Boleh Menerima?
3
Makna Keterpilihan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
4
Cendekiawan Malaysia Syed Naquib Alatas Meninggal Dunia dalam Usia 94 Tahun
5
Perang Iran dan Israel-AS Berdampak Global, Ketua Umum PBNU Desak Perdamaian
6
Syed Muhammad Naquib al-Attas: Cendekiawan tanpa Telepon Genggam
Terkini
Lihat Semua