Cerpen

Aura Berkah dari Sebuah Sekolah 

Ahad, 15 Februari 2026 | 21:00 WIB

Aura Berkah dari Sebuah Sekolah 

Ilustrasi (Meta AI)

Di sebelah lorong gedung sekolah, terdapat ruang berukuran 5 x 6 meter. Ruang itu berdinding keramik dipadu warna coklat dan hitam. Di dinding sebelah utara tergantung lukisan para tokoh agama. Di sisi ruang sebelah timur terdapat rak tropi juara berjajar rapi. Tropi-tropi tersebut menutupi warna dasar dinding. Sisi lain di ruang itu dibiarkan kosong sehingga motif keramik dinding terlihat sangat eksotik. Di sudut sebelah selatan menghadap ke barat ada meja kerja. Terlihat beberapa tumpukan berkas yang perlu tanda tangan. Di situlah lelaki berkacamata rutin menandatangani berkas administrasi para guru dan tenaga kependidikan serta menyusun program kegiatan yang akan dilaksanakan dalam setahun ini. 

 

Sosok lelaki berkacamata itu adalah kepala sekolah itu. Dia bernama Syafii. Orang-orang sering menerjemahkan nama itu sebagai penolong. Antara nama dan perilakunya sangat sesuai. Syafii dikenal sering menolong para bawahan yang sedang menghadapi kesulitan tanpa pamrih.

 

Postur Syafii biasa-biasa saja. Tingginya rata-rata para guru dan pegawai di sekolahnya. Badannya juga begitu; standar. Bahkan bisa dibilang lebih kurus daripada anak buah. Berat badannya kira-kira 60 sampai 65 kilogram, sedangkan guru atau tenaga sekolah ada yang mencapai 89 kilogram. 

 

Penampilan Syafii biasa-biasa. Dia sangat sederhana. Tidak pernah terlihat pakaian atau fasilitas pribadi lainnya yang istimewa. Yang membedakan antara Syafii dan para bawahannya hanyala kopiah dan kaca mata. Syafii memang tidak pernah lepas kopiah baik saat mengikuti kegiatan formal maupun kegiatan santai. Kaca mata plus yang dipakai itu digunakan sebagai pembantu penglihatan saat membaca atau menulis. Maklumlah, saat ini usia Syafii 58 tahun. Tinggal dua tahun lagi akan memasuki masa pensiun. Jadi, wajarlah kalau dia selalu menggunakan kacamata sebagai alat bantu penglihatan.

 

Syafii kepala sekolah yang karismatik. Dia disegani para guru dan tenaga kependidikan di sekolah ini. Setiap dia memberi pembinaan dan pengarahan, semua bawahannya mendengarkan dengan khusuk. Apabila ada guru atau tenaga lainnya yang tidak sepaham dengannya, Syafii melakukan pendekatan dan pembinaan yang halus.


Sifatnya yang terbuka, mudah menerima masukan orang lain, membuat dirinya semakin diidolakan anak buah. Banyak guru dan tenaga lainnya tidak sungkan menyampaikan permasalahan dan meminta Solusi. 

 

Pernah suatu hari dia didatangi rekanan yang menawarkan kerja sama pengerjaan proyek rehap gedung sekolahnya. Rekanan tersebut memberi iming-iming bagi hasil. Bahkan, rekanan itu menjanjikan apabila proyek itu dia yang mengerjakan, Syafii akan dibelikan mobil baru. 

 

“Tidak. Saya tidak mau. Itu bukan uangku. Silakan mencari kepala sekolah lain yang mau diajak seperti itu.”

 

“Tapi itu bukan suap, Pak. Bagian itu murni hak, Bapak,” sangkalnya.

 

“Apa pun nama atau istilahnya, saya tetap tidak mau,” pungkasnya.

 

Rekanan itu bingung. Dia tidak mau menerima imbalan yang ditawarkan. Dia akan mencoba menawarkan imbalan yang lebih besar nilainya daripada yang ditawarkan sebelumnya.

 

“Saya tetap tidak mau. Kalau memang kalian tetap ngotot ingin mengerjakan proyek di sini, silakan. Tapi jangan sekali-kali menawarkan itu kepada saya. Gunakan anggaran itu sesuai dengan kegunaannya. Jangan menambah atau mengurangi rancangan anggaran belanja,” kata Syafii dengan tegas.


“Baik, Pak.”

 

Dua bulan para rekanan selesai mengerjakan proyek. Mereka membelanjakan anggaran sesuai aturan. Antara anggaran dan hasil pekerjaannya sesuai. Hal ini tidak lepas dari pengawasan Syafii yang sangat ketat kepada mereka. Kurang sedikit saja, pasti dikomplain. 

 

Jarwo sebagai pimpinan proyek masih menyimpan keinginan akan memberikan sesuatu kepada Syafii sebagai ucapan terima kasih. Namun, dia tidak tahu bagaimana cara memberikannya kepada Syafii. Diberi uang tunai, dia pasti menolak. Dibelikan barang, dia pasti mengembalikannya. 

 

“Bagaimana kalau kita transfer melalui rekening banknya?” usul asisten Jarwo.


“Mana mungkin dia mau memberikan nomor rekeningnya.”

 

“Kita bertanya kepada stafnya. Dalam dokumen-dokomen itu pasti ada rekening bank Syafii.”

 

Tak berselang lama, asisten Jarwo mendekati staf kepala sekolah. Dia meminta nomor rekening Syafii. Tidak membutuhkan waktu lama, nomor rekening bank kepala sekolah ini berada di catatan HP-nya.

***


Pagi buta Syafii keluar rumah. Dia mengenakan baju koko dan bersarung. Para tetangga yang sebagian masih bersantai di teras masjid samping rumahnya menebak-nebak akan kemana Syafii. Yastur-salah satu dari mereka- menebak bahwa Syafii akan ke tempat tugasnya. 

 

“Tidak mungkin jam segini berangkat ke sekolah. Kepala sekolah itu pekerjaannya ringan. Berangkat kapan pun tidak masalah,” sanggah Yanto.

 

“Syafii ini berbeda dengan kepala sekolah lainnya. Dia ini orangnya disiplin. Dia tepat waktu. Sebelum para guru dan karyawan sekolah lainnya datang, Syafii sudah di pintu gerbang sekolah,” tandas Yastur. 

 

“Pantas dia menjadi ketua MKKS. Kabarnya dia juga kepala sekolah yang jujur. Gak doyan duit selain gaji dan tunjangannya,” kata Yanto yang semula meragukan Syafii.

 

Syafii terhenyak. Matanya menatap tajam layar hapenya. Dia tidak percaya dan bercampur geram saat di mobile banking terdapat transaksi masuk sejumlah 30 juta. Jantungnya berdegub kencang. Darahnya mendidih. Wajahnya memerah. Seumur-umur tidak ada orang yang berani mentransfer uang ke rekening pribadinya. Apalagi jumlahnya sebesar itu. 


“Ini pasti ulah Jarwo,” tebak lelaki berkacamata dan religius ini.

 

Dia membuka layar HP. Jari-jemarinya bergetar. Dia kesulitan mencari dan menelepon nomor Jarwo. Bahkan Syafii berkali-kali salah panggil orang lantaran tingkat keakuratan jarinya menurun akibat emosi.


Nomor HP yang belum berhasil dicari tiba-tiba memanggil. Foto Jarwo tampak di layar HP Syafii. Tanpa basa-basi Syafii membuka panggilan. 

 

“Pak Jarwo, pagi ini kita bertemu di kantor,” kata Syafii kemudian menutup hapenya.

 

Tidak sampai satu jam, mereka bertemu di kantor. Mata Syafii memerah. Mulutnya terkunci. Dia menatap wajah Jarwo tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Jarwo sudah menebak pertemuan ini akan diwarnai dengan amarah. Jarwo mengikuti Syafii ke ruang kerjanya. Dia duduk di kursi tamu seperti biasanya.

 

“Saya sudah bilang berkali-kali. Jangan memberi apa pun kepada saya terkait proyek ini,” suara Syafii menggetarkan bunga-bunga kecil di atas mejanya.


“Tapi, Pak, saya tidak enak. Proyek sebesar itu masak kepala sekolah tidak mendapatkan bagian apa-apa,” sanggah Jarwo.

 

Brak! Tangan Syafii menghantam meja kerjanya. Dia semakin marah pada alasan yang disampaikan Jarwo. Mata yang tak pernah melotot kini terbelalak lebar. Mulut yang tak pernah berkata kasar kini seperti halilintar.

 

“Saya tersinggung. Saya tidak seperti yang kaukira. Semenjak pertama saya sebagai kepala sekolah sampai sekarang, belum pernah serupiah pun menerima atau meminta bagian dari pengerjaan proyek untuk kepentingan pribadi. Sekarang juga saya akan mengembalikan uang itu ke nomor rekeningmu. Selanjutnya, jangan sekali-kali mengulangi hal itu lagi,” kata Syafii dengan nada tinggi.

 

“Maaf, Pak. Saya minta maaf jika ini membuat tersinggung. Saya berjanji tak akan melakukannya lagi,” rengek Jarwo dengan nada penyesalan yang sangat mendalam.


“Baik. Saya ucapanmu. Jika mengulanginya lagi, jangan sekali-kali menginjakkan kaki di ruang ini.”

 

Jarwo tertunduk malu. Dia tidak menyangka apa yang telah dilakukan membuat Syafii murka. Zaman seperti ini, masih ada kepala sekolah sejujur ini, kata Jarwo dalam hati.

 

Syafii mengantar Jarwo sampai pintu gerbang. Dia melihat kendaraan yang membawa Jarwo lenyap dari pandangannya. 

 

Lelaki berkaca mata dan berkpiah tetap berdiri di depan pintu gerbang. Dia memberi hormat dan menjabat tangan para guru dan tenaga kependidikan yang baru datang. Senyum dan wajah Syafii berubah ramah. Kesan usai marah tak terlihat sama sekali. Pandangan matanya terduh. Senyumnya mengembang. Kumis tipis melengkung di atas bibirnya menambah kewibawaannya. 


Matahari meninggi. Sinarnya memancarkan aura keberkahan dari gedung sekolah. Bunga di taman pun bermekaran sembari menyebarkan aroma harum ke seluruh lingkungan sekolah. Aromanya terbawa oleh para guru dan murid yang melintas di dekatnya. Syafii dan warga sekolah berbaur dalam rasa syukur ke hadirat-Nya. Mereka menyenandungkan ayat-ayat Al-Quran sebagai pembuka aktivitas di dalam sekolah. 


Lamongan, 13 Januari 2026


Ahmad Zaini, lahir di Lamongan, 7 Mei 1976. Ia adalah Ketua Lesbumi PCNU Babat. Beberapa cerpen dan puisinya sering terbit di berbagai media cetak dan online. Saat ini dia berdomisili di Wanar, Pucuk, Lamongan.