Ribuan Jamaah Padati Makam Sunan Bonang, Gus Qoyyum Jelaskan Jalan Syariat Wali Allah
NU Online · Rabu, 29 April 2026 | 19:00 WIB
Ayu Lestari
Kontributor
Rembang, NU Online
Ribuan jamaah memadati kompleks makam Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang) di Desa Bonang, Lasem, Rembang, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026). Mereka mengikuti pengajian dalam rangka haul Sunan Bonang yang disampaikan KH Abdul Qoyyum Mansur atau Gus Qoyyum.
Dalam tausiyahnya, Gus Qoyyum menjelaskan tahapan seseorang untuk mencapai derajat sebagai wali Allah (waliyullah). Menurutnya, terdapat beberapa syarat utama yang harus dipenuhi.
Pertama adalah keimanan. Ia menegaskan bahwa seorang wali harus memiliki iman yang kuat.
“Wali Allah harus memenuhi syarat iman. Misalnya ada orang pandai tetapi tidak beriman, itu hanya sakti, bukan wali,” jelasnya.
Ia menambahkan, kemampuan luar biasa seperti kebal api atau bisa terbang tidak menjadikan seseorang sebagai wali jika tidak dilandasi keimanan. Keimanan mencakup keyakinan kepada Allah SWT, malaikat, hari akhir, takdir, serta kehidupan setelah mati.
“Iman menjadi syarat utama, tetapi juga harus disertai ketakwaan yang tinggi, berbeda dengan keimanan orang pada umumnya,” ujarnya.
Gus Qoyyum juga menyinggung sejumlah kisah sebagai ilustrasi, termasuk cerita tentang seseorang yang memiliki kemampuan luar biasa namun tidak beriman, serta kisah Labid bin A’sham yang pernah menyihir Rasulullah SAW. Ia menjelaskan bahwa Rasulullah diselamatkan melalui turunnya surah Al-Falaq dan An-Nas.
Selain itu, ia mengutip kisah dalam Al-Qur’an tentang malaikat penjaga neraka, zabaniyah, yang berjumlah 19, sebagai pelajaran tentang pentingnya keimanan di atas segala kemampuan.
Tahapan kedua adalah ibadah. Ia menegaskan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah SWT.
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku,” ujarnya mengutip ayat Al-Qur’an.
Menurutnya, seorang wali memiliki tingkat ibadah yang tinggi, baik ibadah wajib maupun sunnah, serta dikenal istiqamah dalam menjalankannya.
Ia mencontohkan kisah Fudail bin Iyadh, seorang mantan penyamun yang bertaubat hingga menjadi wali, serta Junayd al-Baghdadi yang tetap tekun beribadah meski dalam kesibukan berdagang.
Tahapan ketiga adalah memiliki akhlak mulia. Gus Qoyyum menegaskan, seorang wali tidak ditentukan oleh penampilan, melainkan oleh perilaku yang baik.
Keempat, seorang wali harus memiliki sifat dermawan. Kemampuan menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat menjadi indikator penting dalam kehidupan seorang wali. Ia mencontohkan keteladanan Sunan Bonang dalam hal kedermawanan.
Dalam penutupnya, Gus Qoyyum mengisahkan Ibnu ‘Arabi, ulama besar asal Spanyol, yang dikenal melalui karya Al-Futuhat al-Makkiyyah dan Fusus al-Hikam. Dikisahkan, ia pernah menghadiahkan rumah yang baru diterimanya dari seorang raja kepada seorang pengemis. Kisah tersebut menjadi teladan tentang pentingnya sifat pemurah dalam diri seorang wali.
Terpopuler
1
Sambangi PBNU, 23 PWNU Sampaikan Harapan Soal Muktamar ke-35 NU
2
5 Santri Laki-laki Jadi Korban Pelecehan Seksual, Syekh Ahmad Al Misry Jadi Tersangka
3
Innalillahi, Pengurus Muslimat NU Kemayoran Wafat dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi
4
Stasiun Bekasi Timur Ditutup Sementara, KRL Hanya Beroperasi hingga Stasiun Bekasi
5
KA Jarak Jauh Tabrak KRL di Bekasi Timur, Gerbong Perempuan Ringsek
6
3 Orang Tewas dalam Tabrakan Kereta di Bekasi, KAI Minta Maaf Fokus Evakuasi
Terkini
Lihat Semua