Cerpen

Suara Ayah Menjadi Suaraku

Senin, 22 Juni 2026 | 07:00 WIB

Suara Ayah Menjadi Suaraku

Ilustrasi (NU Online/AI Generated)

Setelah reuni kampus, aku diajak ngobrol oleh Komsun. Dia memang teman akrab waktu masih bergiat di kampus. Di sebuah warung kopi, dia bercerita bahwa keputusannya salah karena dia gagal menjadi anggota legislatif di tingkat kabupaten. 

 

Untuk membenarkan keputusan yang sudah berlalu itu, dia menegaskan padaku. "Apakah sudah betul keputusanku dulu untuk mencalonkan diri sebagai anggota legislatif?”

 

“Ya betul, tidak ada yang perlu disesali,” kataku. 


“Lalu, perihal kekalahan yang merugikan keuangan bagaimana?” tanyanya dengan suara berat.

 

Aku lihat wajahnya tampak kusam. Dia menahan lelah. Tatapan penuh optimis tidak seperti waktu mahasiswa. Itu tampak sekali dari binar matanya yang redup. 
Dengan binar mata penuh sesal, ditatapnya aku. Barangkali dia menerka kalimat apa yang akan keluar dari mulutku. Aku masih berpikir kata apalagi yang harus kusampaikan.


“Uang bisa dicari, tapi harga diri sulit dibayar. Aku hargai integritasmu menjaga idealisme dulu untuk engkau terapkan ke dunia politik,” jawabku lebih panjang.

 

Komsun terlihat menelan ludah. Kulihat jakunnya bergerak naik, lalu turun. Jawaban panjangku menentramkan jiwanya. Itulah perkiraanku. Lalu dia terdiam, berpikir sejenak dan tersenyum kepadaku.


Aku pun puas melihat senyum lepas itu. Setidaknya, saranku tepat mengenai dasar hatinya. Sebaliknya, dia merasa bahwa teman sesama aktivis dulu masih menghargai dan selalu mendukungnya walaupun dalam keterpurukan atas kekalahannya. Batinku. 

 

***

 

Dua puluh lima tahun lalu kami secara tidak sengaja bertemu dalam upacara orientasi. Kami berpanas-panasan mengikuti acara penyambutan mahasiswa baru. Komsun di depan dan aku di belakangnya, dalam satu barisan. Sama-sama satu jurusan. 
 

Berbekal kepercayaan diri masing-masing kami akhirnya akrab. Menurut Komsun dia dulu adalah seorang pengurus OSIS. Berbicara di depan adalah salah satu kesukaan dia. Sebaliknya, dia menanyakan kepadaku mengapa bisa kuliah. Kami ternyata mempunyai kesamaan. Aku juga mantan pengurus OSIS. 


Tanpa ada dorongan dari luar, spontan kami tersenyum dan berjabat tangan.


“Komsun, ya?” kataku sambil melirik nama di dadanya.


“Tirto,” balasnya sambil melirik nama di dadaku.

 

Pembicaraan kemudian berlanjut. Mulai dari asal rumah, sekolah dan keinginan untuk berorganisasi menjadi pembahasan menarik di antara kami. Sehingga, ketika ada brosur atau presentasi salah satu organisasi kemahasiswaan, kami memperhatikan dengan seksama. Setiap alumni yang berprestasi menjadi daya tarik tersendiri ketika disebutkan. 


Kami memilih jalur berbeda. Aku bergabung dengan organisasi intra kampus sedangkan Komsun ekstra kampus. Menurut Komsun organisasi ekstra kampus menjanjikan karena kiprah alumni yang berkarir di berbagai bidang. Nama-nama tersebut sering muncul pada pemberitaan media nasional ternama. 

 

Seiring berjalannya usia di kampus, aku dengar Komsun semakin menanjak karirnya. Tidak hanya kudengar, aku, jika bertemu, juga bertanya tentang kegiatannya. Pada awalnya, dia masih sebatas panitia pelaksana. Kini, dia menjadi salah satu pengurus. 

 

Penasaran dengan kiprahnya, aku menanyakan harapannya di organisasi ekstra tersebut. “Apa rencanamu mengikuti organisasi ini?”

 

“Jika diizinkan aku ingin menjadi ketua, rasanya belajarku belum sempurna kalau hanya menjadi pengurus saja,” jawab Komsun. Tampak keseriusan dan optimisme dari raut wajahnya. 


Keinginannya terwujud. Melalui pemilihan langsung dalam satu ruangan, Komsun meraih suara terbanyak. Terpilihlah dia menjadi seorang formateur organisasi ekstra kampus tingkat fakultas. Namanya melambung dan dikenal hampir oleh seluruh mahasiswa tempat kami belajar. 


​​​​​​​Dia termasuk rajin. Buku-buku para pemikir bangsa dibaca. Buku-buku pengembangan diri, psikologi, kepemimpinan dan manajemen tidak luput dari kegemarannya. 

 

Selain itu, kegiatan yang melambungkan namanya adalah menuliskan pemikiran tentang sosial, budaya dan politik dalam surat kabar lokal atau nasional. Menurutku, dia merupakan sosok aktivis yang ideal. Kiprahnya benar-benar dapat diacungi jempol.


​​​​​​​Seiring pertemuan demi pertemuan, aku menanyakan tentang pencapaian ini. “Apa sudah cukup dengan pencapaianmu?”


“Sebenarnya masih ada. Ada tingkat lebih tinggi yakni regional. Setelah aku menyelesaikan tingkat fakultas, aku mencoba memahami bagaimana dinamika mengelola organisasi lebih besar. Tapi, di tingkat paling bawah ini aku sudah mendapatkan inti dari kepemimpinan.”

 

“Apa itu yang kau dapatkan,” tanyaku penasaran.


“Di dalam statusku sebagai pucuk pimpinan, aku harus bisa mengelola dinamika tiap orang, pengurus maupun anggota. Mereka adalah aset berharga. Aku juga bisa mengganti dan mempertahankan para pengurus selayaknya presiden mengelola sebuah kabinet,” katanya dengan senyum. Menurutku dia seolah menemukan sebuah mutiara yang terpendam di dasar samudra. 

 

Aku semakin salut kepadanya. Pencapaiannya patut dibanggakan. Benar, setelah menyelesaikan kepemimpinan tingkat fakultas, dia melanjutkan di tingkat regional. Sebuah posisi tidak sampai ke pucuk pimpinan dia dapat. Atas rekomendasi dari organisasi terdahulu, dia mendapatkan jabatan itu dengan mudah. Tujuannya adalah mempelajari bagaimana dinamika pada tingkat regional setiap organisasi di bawahnya, yakni unit organisasi terkecil.


​​​​​​​Setelah lulus kami terpisah. Tidak ada kabar berita di antara kami berdua. Masing-masing disibukkan oleh rutinitas kerja. Aku berkarir di media nasional, sedangkan Komsun mengelola sebuah pesantren milik keluarga. Dia diberi tugas untuk mengajar di situ. Itu yang aku tahu ketika reuni. 

 

Pada pertemuan itu, dia menceritakan bahwa dia mengalami satu kekalahan dalam pemilihan anggota legislatif tingkat kabupaten. Dia menceritakan apa kekurangannya saat itu? 

 

“Aku sudah mantan aktivis mahasiswa dan punya pesantren. Basis massa apa yang kurang?” katanya mengawali pembicaraan. 


“Pemilihan dalam dunia nyata tidak cukup hanya berbekal integritas diri, massa butuh sesuatu yang nyata. Kita harus memberikan kebutuhan mereka,” kataku mencoba menganalisis. 

 

“Setidaknya, karakter diri itu jaminan bahwa keadilan bisa diperjuangkan oleh sosok yang berintegritas,” kata Komsun. 

 

“Di alam demokrasi, kelemahannya adalah kekuatan massa. Semakin banyak orang berkontribusi dalam mencukupi kebutuhannya saat itu, semakin mudah seseorang menang dalam pemilihan. Figur bisa jadi dasar. Tapi, tanpa sentuhan modal, figur itu akan kalah walaupun sosok tersebut sangat ideal,” kataku mencoba mengikuti alam pikirannya. 

 

Komsun mencoba menangkap analisisku. Dia mengambil segelas kopi di hadapannya. Seteguk kopi masuk ke rongga mulutnya. 


“Menurutku coba sadari hal itu. Meminta massa untuk menyesuaikan dengan keadaan kita merupakan suatu hal yang sulit dilakukan, bukan tidak bisa,” kataku. 

 

“Hm…,” Komsun mengangguk setuju. 


​​​​​​​Aku sadari Komsun memang terpukul dan masih sulit menerima kekalahan. Seandainya dia bisa menerima kekalahan mungkin aku tidak berbicara panjang lebar. Setidaknya, pola pikirnya harus lebih luas membaca diri dan hubungannya dengan situasi di sekitarnya. 

 

***

 

Tiba-tiba, Komsun di sela-sela pembicaraan bercerita bahwa dia ditangisi oleh ayahnya yang sudah meninggal. Menurut Komsun awalnya dalam mimpi tersebut tergambar prestasi selama sekolah hingga kuliah. Lalu, kekalahan dalam pertarungan politik mengemuka di akhir mimpinya. 

 

Kata Komsun “Ayahku memanggil namaku dua kali. Suara pertama cukup berat dan suara kedua semakin berat lagi menyayat hati. ‘Komsun… Komsun….!’ Di akhir, untuk yang ketiga, suara itu berubah menjadi suaraku sendiri dengan sangat menyayat hati. Seketika itu, aku terbangun dan bersedih memikirkan arti tangis ayah dan tangisku. ‘Komsun…!’”

 

***


Di akhir pembicaraan sebelum kami berpisah di warung kopi itu, aku berpesan, “Saatnya berubah menjadi lebih baik. Mimpimu adalah titik balik. Rawatlah pesantren peninggalan ayahmu dengan sungguh-sungguh.”


“Pasti, Tirto,” katanya.


​​​​​​​Setelah perpisahan reuni itu, aku jarang berkomunikasi dengan Komsun. Tanpa sadar aku membuka halaman opini di media tempatku bekerja. Tertulis sebuah opini dengan nama pengarangnya “Komsun”, seorang pengasuh pesantren di kota tempat kami dulu kuliah. Puas membaca artikel tersebut, aku berharap Komsun bisa aktif berkarya seperti dulu waktu kuliah sekaligus bisa menerapkan ilmu keorganisasian pada pesantren dengan baik. “Berkarya tidak harus selalu dalam dunia politik yang pernah kau geluti,” batinku. 


​​​​​​​Jember, 2 Maret 2026 


M. Ali Albalya, lahir di Jember, 17 April 1981. Seorang lulusan Sastra Inggris dari Universitas Jember dan mantan wartawan Tabloid Mahasiswa IDEAS Fakultas Sastra (kini: Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Jember. Tulisannya dimuat: titian.id, Radar Jember, Majalah Tabilla MAN 1 Jember, Majalah MATAN milik Pengurus Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur dan Koran Suara Rakyat Lumajang.