Dari Jamaah Termuda hingga Usia 101 Tahun, Dua Wajah Aceh Warnai Musim Haji 2026
Sabtu, 9 Mei 2026 | 07:00 WIB
Banda Aceh, NU Online
Musim haji 2026 menghadirkan kisah yang bukan sekadar tentang perjalanan menuju Tanah Suci, tetapi juga harapan, keteguhan iman, dan panggilan Allah yang datang tanpa memandang usia. Dari dataran tinggi Gayo hingga pesisir timur Aceh, dua sosok jemaah menjadi perhatian masyarakat karena mewakili dua generasi berbeda dalam rombongan haji Aceh tahun ini.
Muhammad Alfaruq Addawami, remaja asal Uning Gelime, Kabupaten Bener Meriah, tercatat sebagai salah satu jamaah termuda Aceh tahun ini dengan usia 15 tahun. Sementara di sisi lain, Ramlah Sali, perempuan asal Gampong Blang, Kota Langsa, menjadi jamaah tertua dengan usia mencapai 101 tahun.
Dua nama itu menjadi gambaran bagaimana panggilan menuju Baitullah mampu menyatukan manusia dari awal perjalanan hidup hingga penghujung usia.
Di tengah ribuan haji asal jamaah Aceh yang mulai diberangkatkan menuju Arab Saudi, sosok Alfaruq mencuri perhatian karena usianya yang masih sangat muda. Ia tergabung dalam Kloter 14 dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga serta masyarakat Bener Meriah.
Pada usia ketika banyak anak muda masih disibukkan dengan mengejar cita-cita duniawi, Alfaruq justru bersiap menempuh perjalanan spiritual terbesar dalam hidupnya. Warga sekitar memang mengenalnya sebagai pribadi santun dan rendah hati yang tumbuh dalam lingkungan religius khas masyarakat Gayo.
Lingkungan keluarga dan pendidikan agama yang kuat disebut menjadi bagian penting dalam membentuk karakter Alfaruq hingga mampu melangkah menuju Tanah Suci di usia muda.
“Anak muda sekarang tetap punya semangat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ini menjadi contoh yang baik bagi generasi seusianya,” ujar Tgk Mursyidin tokoh Ulama dataran tinggi Gayo, Jumat (8/5/2026).
Tgk Mursyidin menambahkan keberangkatan Alfaruq menghadirkan pesan bahwa ibadah haji bukan hanya identik dengan usia lanjut. Di tengah perubahan zaman, semangat generasi muda Aceh dalam menjaga nilai-nilai agama masih terus tumbuh.
Bagi keluarganya, perjalanan itu bukan sekadar keberangkatan biasa. Mereka berharap pengalaman spiritual di Tanah Suci akan membentuk Alfaruq menjadi pribadi yang lebih matang, bijaksana, dan membawa manfaat bagi masyarakat sepulangnya nanti.
Semangat Jamaah Usia 101 Tahun
Sementara itu, dari Kota Langsa, kisah penuh haru datang dari sosok Ramlah Sali. Perempuan yang telah berusia 101 tahun itu tergabung dalam Kloter 4 dan menjadi salah satu jamaah tertua Aceh tahun ini.
Semangat menunaikan ibadah haji ditunjukkan Ramlah, jamaah asal Kota Langsa, Aceh, yang tercatat berusia 101 tahun pada musim haji 2026. Di usia yang telah melewati satu abad, Ramlah tetap berangkat ke Tanah Suci untuk memenuhi rukun Islam kelima dengan penuh keteguhan.
Ketua PCNU Kota Langsa, Tgk T Wildan, mengapresiasi semangat dan keteguhan Ramlah yang dinilai menjadi inspirasi bagi masyarakat. Menurutnya, meski berjalan perlahan dengan wajah penuh keteduhan, Ramlah tetap menunjukkan tekad kuat memenuhi panggilan Allah Swt menuju Baitullah.
“Beliau memberikan teladan tentang kekuatan iman dan kesungguhan dalam beribadah. Usia lanjut tidak memadamkan semangatnya untuk berhaji,” ujar Tgk T Wildan.
Perjalanan ibadah haji menurutnya bagi jamaah lanjut usia tentu memiliki tantangan tersendiri. Cuaca panas di Tanah Suci, aktivitas ibadah yang padat, hingga perjalanan panjang menjadi ujian berat, terutama bagi jemaah yang telah berusia sangat lanjut. Namun kondisi itu tidak menyurutkan langkah Ramlah.
"Warga di kampung halamannya mengenal Ramlah sebagai sosok sederhana dan taat beribadah. Selama bertahun-tahun, ia menyimpan harapan besar agar dapat melihat Ka’bah secara langsung dan berdoa di Tanah Haram, " ujarnya.
Lebih lanjut Tgk T Wildan menambahkanhHarapan tersebut akhirnya terwujud pada musim haji tahun ini. Keberangkatan Ramlah menjadi momen haru bagi keluarga dan masyarakat sekitar. Sejumlah warga turut melepas keberangkatannya sambil memanjatkan doa agar ia diberikan kesehatan serta kemudahan dalam menjalani seluruh rangkaian ibadah haji.
“Ini kebahagiaan luar biasa bagi keluarga. Di usia 101 tahun, beliau masih diberi kesempatan memenuhi panggilan Allah,” ujarnya.
Kisah Ramlah menjadi gambaran bahwa semangat beribadah dan kerinduan menuju Baitullah tidak mengenal batas usia.
Jamaah yang Beragam
Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Aceh, Arijal, menyampaikan bahwa musim haji tahun ini Aceh memberangkatkan sekitar 5.500 jamaah calon haji yang terbagi dalam 14 kelompok terbang. Menurutnya, keberangkatan jemaah termuda dan tertua menjadi warna tersendiri dalam pelaksanaan haji Aceh tahun ini.
Arijal mengatakan, mayoritas jamaah Aceh berada dalam kondisi sehat dan siap menjalankan ibadah di Tanah Suci. Ia juga menyebutkan semangat para jamaah lanjut usia menjadi motivasi bagi seluruh petugas haji dalam memberikan pelayanan terbaik.
“Jamaah kita sangat beragam. Ada yang masih sangat muda, ada pula yang sudah melewati usia satu abad. Namun semuanya memiliki semangat yang sama untuk memenuhi panggilan Allah,” ujar Arijal.
Sementara itu, Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Tgk. H. Faisal Ali atau yang akrab disapa Abu Sibreh, turut memberikan apresiasi atas semangat para jamaah tersebut. Menurutnya, kehadiran jemaah termuda dan tertua menjadi bukti bahwa panggilan ibadah haji tidak mengenal batas usia.
“Semangat para jamaah, terutama yang sudah lanjut usia, adalah inspirasi bagi kita semua. Ini menunjukkan betapa kuatnya kerinduan seorang hamba kepada Allah SWT,” ujar Abu Sibreh.
Abu Sibreh juga mengingatkan bahwa ibadah haji bukan hanya perjalanan fisik, tetapi perjalanan ruhani yang membutuhkan kesabaran, keikhlasan, dan kekuatan hati. Ia berharap seluruh jamaah Aceh diberikan kesehatan, kemudahan, dan keberkahan selama berada di Tanah Suci.
“Kami berharap seluruh jamaah kembali ke tanah air dengan membawa haji yang mabrur, menjadi pribadi yang lebih tawadhu, serta mampu memberi manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Kisah Alfaruq dan Ramlah menghadirkan potret tentang dua generasi yang dipertemukan dalam perjalanan suci yang sama. Satu berada di awal perjalanan hidup, sementara yang lain berada di ujung usia. Namun keduanya memiliki tujuan yang sama: memenuhi panggilan menuju Baitullah.
Alfaruq menjadi simbol harapan generasi muda Aceh yang tetap menjaga nilai-nilai religius di tengah perkembangan zaman. Sedangkan Ramlah menghadirkan pesan tentang kesabaran, keteguhan hati, dan keyakinan bahwa tidak ada kata terlambat untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Di tengah lautan jamaah yang memenuhi perjalanan menuju Tanah Suci tahun ini, langkah Alfaruq dan Ramlah menghadirkan pesan sederhana namun mendalam: panggilan menuju Baitullah akan selalu menemukan jalannya bagi mereka yang menyimpan iman dan harapan di dalam hati.