Daerah

Di Tepi Danau Matano, PCNU Luwu Timur Sulsel Rapat Koordinasi

Ahad, 7 Juni 2026 | 06:00 WIB

Di Tepi Danau Matano, PCNU Luwu Timur Sulsel Rapat Koordinasi

Peserta Rakor PCNU Luwu Timur, Sulsel, Sabtu (5/6/2026). (Foto: Hery Miftahul Hadi)

Luwu Timur, NU Online

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan, menggelar rapat koordinasi yang melibatkan seluruh jajaran pengurus NU tingkat Cabang (PC), Majelis Wakil Cabang (MWC), serta perwakilan badan otonom dan lembaga.


Acara ini berlangsung hari Jumat dan Sabtu, 5-6 Juni 2026 di Vila Pande-pande, yang terletak di tepi Danau Matano, danau purba yang memiliki nilai sejarah tinggi. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai wadah koordinasi, penyamaan persepsi, sekaligus mempererat tali silaturahim antarpengurus dalam suasana yang nyaman dan kondusif.

 

Dalam sambutannya, Ketua PCNU Luwu Timur, H Mursaha Junaid mengingatkan seluruh pengurus untuk tidak hanya sekadar menyampaikan protes, tetapi lebih banyak menyampaikan usulan dan gagasan. Menurutnya, organisasi masih memerlukan banyak masukan untuk terus belajar dan mengembangkan potensi Nahdlatul Ulama.
 

 

"NU adalah kebangkitan ulama. Ulama memiliki ciri khas tersendiri, ibarat tanaman padi: semakin berisi, semakin merunduk," ujarnya.
 


Ia juga menyoroti bahwa salah satu penyebab kurangnya pergerakan organisasi adalah masih banyaknya pihak yang belum sepenuhnya memahami cita-cita dan tujuan berdirinya NU. Oleh karena itu, ia mengajak para pengurus untuk tidak ragu dalam berkhidmat di lingkungan NU, mengingat para ulama dan guru NU memiliki sanad keilmuan yang bersambung hingga kepada Rasulullah saw.

 

"Marilah kita tampilkan warna asli NU ini, terutama hingga ke tingkat akar rumput," tegasnya.


Ada tiga poin utama yang disampaikan dalam arahan tersebut, yaitu:

  1.  Amaliah NU – Pengamalan ajaran agama sesuai tradisi NU
  2. Fikrah NU – Cara berpikir dan pola pemahaman keislaman NU
  3. Harakah NU – Gerakan dan langkah nyata organisasi.
 

Sementara itu, Rais Syuriah PCNU Luwu Timur, Kiai Abdul Manan, mengutip pesan pendiri NU, KH. Hasyim Asy’ari: "Siapa saja yang menghidupkan NU, maka aku anggap dia sebagai santriku."


Ia juga menegaskan makna dalil bahwa barangsiapa yang menolong agama Allah, maka Allah pun akan menolongnya. Menurutnya, menghidupkan organisasi NU sejatinya adalah bentuk nyata menolong agama Allah.


"NU bergerak melalui dua jalur, yakni jalur pesantren dan jalur aktivis. Diharapkan warga NU memiliki sikap: muridnya ada di bumi, namun gurunya ada di langit," tambahnya. Ia juga menekankan peran penting pemuda dalam memajukan organisasi, serta mengingatkan semangat NU untuk kembali ke khitah atau jati diri awalnya.​​​​​​


Mengutip pesan dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Kiai Abdul Manan mengingatkan agar NU harus semakin bermanfaat bagi umat dan senantiasa mengikuti jejak khidmah para ulama. Ia juga mengingatkan akan dua hal yang dapat menjatuhkan seseorang, yaitu keterikatan pada harta dan hubungan dengan wanita yang tidak halal.


Turut hadir dalam kegiatan ini Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) yang juga anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah LuwuTimur, Nurchalis Azis.  Rapat ini juga menjadi ajang evaluasi kinerja lembaga-lembaga di bawah naungan NU agar dapat bekerja lebih optimal ke depannya.


​​​​​​​Kontributor: Hery Miftahul Hadi