Daerah

Ditinjau dari Ilmu Hadits, Penyebar Hoaks Menjatuhkan Kredibilitas

Jumat, 16 Maret 2018 | 04:00 WIB

Jombang, NU Online
Ketua Yayasan Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang M Wafiyul Ahdi (Gus Wafi) menjelaskan, penyebar berita palsu atau hoaks akan berdampak serius terhadap kepercayaan masyarakat. Terutama di lingkungan sosial di mana yang bersangkutan tinggal.

Jika ditinjau dari ilmu hadist, dalam pandangan Gus Wafi, penyebar berita hoaks tersebut akan menjatuhkan kredibilitas orang yang dapat dipercaya sebagai penyebar informasi. Hal ini tentu akan berdampak buruk terhadap masa depan di tengah masyarakat.

"Ilmu hadist itu kan salah satunya membahas transmisi berita atau informasi dari satu orang ke orang lain dan seterusnya sampai dikatakan berita itu valid," katanya, Jum'at (16/3).

Valid dan tidaknya berita tersebut, lanjutnya, dipengaruhi oleh kualitas kredibilitas yang membawa informasi itu sendiri. "Misalnya dari A ke B, ke C dan seterusnya. Nah, sekarang orang-orang itu bagaimana karakter dan kepribadiannya, apakah memang sudah sesuai syarat pada ilmu hadist atau tidak?," jelas Gus Wafi.

Pada konteks fenomena masifnya berita hoaks belakangan ini, hal tersebut dipengaruhi oleh faktor tertentu yang mayoritas adalah faktor politik, kekuasaan serta kebencian terhadap suatu kelompok. Mereka, sambungnya, tidak mencoba berpikir jauh lagi akan dampak yang nantinya akan diterima.

"Nah, penyebar berita hoaks itu menjatuhkan kredibilitasnya. Berarti kalau dia sering menyebabkan berita-berita bohong atau negatif dia sudah menjatuhkan kredibilitasnya sebagai orang yang tidak layak untuk dipercaya," jelas pria yang juga Pengasuh Pesantren An-Najiyah Tambakberas ini. 

Untuk itu, kiai kelahiran Jombang 21 Maret 1979 ini mengimbau agar penyebar berita hoaks dapat berpikir ulang terhadap apa yang sudah menjadi pekerjaannya itu. "Makanya harus hati-hati menyebarkan informasi hoaks itu, karena akan memengaruhi kredibilitas orang yang layak dipercaya atau tidak layak," ucapnya.

Di samping itu ia juga menyarankan kepada khalayak untuk bijak dalam menyikapi berita-berita yang diterimanya. Masyarakat juga harus melek media sehingga mereka mulai bisa memetakan antara berita yang memang valid atau tidak alias hoaks. (Syamsul Arifin/Ibnu Nawawi)


Terkait