Dua Bulan Lebih Jembatan Putus, Petani Aceh Tengah Terpaksa Bayar Sling untuk Selamatkan Hasil Panen
Rabu, 11 Februari 2026 | 19:00 WIB
Warga Aceh Tengah memanfaatkan sling (tali baja penyeberangan) imbas jembatan belum diperbaikin selama dua bulan lebih. (Foto: dok warga)
Aceh Tengah, NU Online
Lebih dari dua bulan pascabanjir bandang yang terjadi pada November 2025, warga Kampung Bintang Pepara, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, belum sepenuhnya pulih. Jembatan penghubung Aceh Tengah-Bener Meriah yang menjadi akses utama distribusi hasil pertanian hilang terseret arus sungai.
Terputusnya akses tersebut berdampak langsung pada aktivitas ekonomi warga. Untuk menyeberangkan kopi, durian, alpukat, dan langsat yang tengah memasuki masa panen, petani terpaksa menggunakan jasa sling, tali baja penyeberangan, yang dipasang melintasi sungai.
Saleh, salah seorang petani, mengaku harus mengeluarkan biaya tambahan setiap kali menyeberang. “Saya dan sepeda motor Rp15.000. Kalau sekalian dengan hasil panen ditambah lagi Rp15.000, jadi total Rp30.000 sekali jalan,” ujarnya.
Biaya itu menjadi beban tersendiri di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil akibat bencana. Jika harus bolak-balik beberapa kali dalam sehari, pengeluaran yang dikeluarkan pun semakin besar.
Selain persoalan biaya, faktor keselamatan juga menjadi perhatian. Petani dan sepeda motor digantung di atas arus sungai yang masih deras. Setiap penyeberangan dilakukan dengan penuh kehati-hatian.
Data di lapangan menunjukkan hampir seluruh rumah di Kampung Bintang Pepara mengalami kerusakan akibat banjir dan longsor. Sebanyak 99 kepala keluarga hingga kini masih mengungsi di SMPN 32 Takengon. Warga tidak hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi juga sebagian lahan kebun sebagai sumber penghidupan.
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Tengah, Tgk Mursyidin, menilai pembangunan kembali jembatan tersebut merupakan kebutuhan mendesak. Menurutnya, pemulihan akses ekonomi masyarakat harus menjadi prioritas pascabencana.
“Jembatan ini bukan sekadar sarana penghubung, tetapi urat nadi kehidupan masyarakat. Ketika akses terputus, ekonomi ikut lumpuh. Kami berharap pemerintah mempercepat pembangunan kembali agar masyarakat bisa bangkit,” ujarnya, Rabu (11/2/2026).
Senada dengan itu, Ketua PW GP Ansor Aceh, Azwar A. Gani, menyampaikan keprihatinan atas kondisi warga yang harus mempertaruhkan keselamatan demi mengangkut hasil panen.
“Ini bukan hanya soal jembatan yang putus, tetapi soal keberlangsungan hidup masyarakat. Kami berharap ada langkah konkret dan cepat dari pemerintah agar akses ini segera dipulihkan,” katanya.
Ia menegaskan GP Ansor Aceh siap berkolaborasi dalam upaya kemanusiaan serta advokasi kepentingan warga terdampak bencana.
Bagi warga Bintang Pepara, jembatan yang hilang bukan sekadar infrastruktur, melainkan akses utama menuju pasar dan keberlangsungan ekonomi. Hingga kini, mereka masih menggantungkan distribusi hasil panen pada sling sederhana sembari menanti percepatan pembangunan kembali jembatan tersebut.