Hadapi Dampak Banjir, Solidaritas Warga NU Peunaron Aceh Timur Menguat
Jumat, 2 Januari 2026 | 12:00 WIB
Aceh Timur, NU Online
Solidaritas dan gotong royong menjadi kekuatan utama warga Nahdlatul Ulama (NU) di Kecamatan Peunaron, Kabupaten Aceh Timur, dalam menghadapi dampak banjir yang melanda wilayah tersebut.
Di tengah keterbatasan akses dan minimnya bantuan yang masuk, warga NU bahu-membahu membersihkan lingkungan serta mendampingi sesama korban terdampak.
Kecamatan Peunaron merupakan salah satu wilayah yang terdampak cukup parah akibat banjir. Wilayah ini dikenal sebagai kawasan dengan mayoritas penduduk Nahdliyin, sehingga semangat kebersamaan dan ukhuwah tampak kuat dalam menghadapi musibah.
Kondisi lapangan tersebut terlihat saat rombongan NU Peduli Kemanusiaan Jawa Tengah berkunjung ke Peunaron pada Kamis (1/1/2025).
Rombongan disambut warga NU bersama jajaran pengurus PCNU Aceh Timur dan MWCNU Peunaron. Desa Peunaron Baru, salah satu desa yang masih sulit dijangkau akibat akses jalan berlumpur dan kerusakan infrastruktur, sehingga perjalanan harus ditempuh menggunakan mobil pikap.
Berdasarkan pantauan NU Online, rumah-rumah warga, fasilitas umum, serta jalan desa masih dipenuhi lumpur sisa banjir. Meski demikian, aktivitas gotong royong tampak berjalan.
Warga NU saling membantu membersihkan rumah, musholla, dan fasilitas umum, sekaligus mendampingi tetangga yang terdampak lebih berat.
Ketua PCNU Aceh Timur Tgk Sofwan menyampaikan bahwa mayoritas warga NU di Peunaron merupakan transmigran dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kondisi tersebut membuat ikatan emosional dan semangat kebersamaan terasa sangat kuat ketika bencana melanda.
“Di Peunaron ini saudara kita semua. Rata-rata penduduknya dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jadi ketika musibah terjadi, warga NU saling menguatkan dan saling membantu,” ujarnya.
Ia menuturkan bahwa wilayah Aceh Timur memiliki cakupan yang luas, sementara banyak titik terdampak banjir belum tersentuh relawan. Oleh karena itu, ia berharap kehadiran NU Peduli dapat memperkuat ikhtiar warga NU setempat dalam membantu para korban, terutama di desa-desa dengan akses jalan yang masih rusak.
"Wilayah kami banyak yang terdampak banjir dan rombongan relawan dari Keluarga Besar Nahdlatul Ulama untuk Aceh Timur belum ada yang masuk,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Katib Syuriyah PCNU Aceh Timur Tgk Maftuhin. Ia mengapresiasi kehadiran rombongan NU Peduli Jawa Tengah yang dinilainya menjadi penguat moral warga di tengah musibah.
“Kehadiran saudara-saudara dari Jawa Tengah merupakan penyejuk bagi kami di tengah musibah banjir yang melanda wilayah ini,” tuturnya.
Ia menegaskan dukungan penuh jajaran Syuriyah PCNU Aceh Timur terhadap rencana pembentukan posko bantuan sebagai wujud ukhuwah Nahdliyah. Ia juga memastikan kesiapan PCNU untuk membantu proses pendataan agar bantuan dapat disalurkan secara tepat sasaran.
“Meskipun bantuan yang diserahkan mungkin belum mencukupi untuk semua, nilai kebersamaan dan perhatian inilah yang paling berharga bagi warga di sini,” ujarnya.
Sekretaris NU Peduli Jawa Tengah Cucun Supredi menyebut bahwa kunjungan ke Aceh Timur memiliki kesan tersendiri karena mayoritas penduduknya merupakan warga NU.
“Kunjungan ke Aceh Timur terasa istimewa. Kami bersama Ketua PCNU Aceh Timur disambut meriah oleh pengurus MWC Peunaron, Fatayat, Muslimat, Ansor, dan Banser,” ujarnya.
Dalam kunjungan ke Dusun Dataran Indah, Gampong Peunaron Baru, Kecamatan Peunaron, Kabupaten Aceh Timur, tercatat sebanyak 225 rumah terendam banjir dan hanya menyisakan 11 rumah yang tidak terdampak. Sejumlah fasilitas umum seperti mushala dan TPQ juga ikut terendam. Tiga mushala dan dua TPQ terendam hingga ketinggian sekitar 1,5 meter.
Menurut Cucun, kondisi geografis dan akses jalan menjadi faktor utama minimnya bantuan yang masuk ke wilayah tersebut.
“Karena akses jalan yang baru normal serta tempatnya yang jauh dari keramaian, gampong tersebut belum banyak mendapatkan bantuan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa mayoritas warga Peunaron Baru merupakan transmigran dari Pulau Jawa dengan tradisi ke-NU-an yang sangat kental. Hal itu tampak dari peran aktif warga NU dan badan otonom NU dalam membantu sesama, mulai dari pembersihan lingkungan hingga pendampingan warga terdampak.
"Nuansa ke-NU-annya sangat kental dan sama seperti di Jawa Tengah," pungkasnya.
Kesaksian langsung juga disampaikan salah satu warga terdampak banjir di Desa Peunaron Baru, Wasilah. Ia menceritakan kondisi warga saat banjir datang di Dusun Dataran Indah.
"Banyak warga ketika banjir datang pada naik ke bukit-bukit, pada lari-larian, membawa barang seadanya," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa hingga satu bulan pascabanjir, kondisi kehidupan warga masih sangat terbatas karena bantuan yang masuk belum mencukupi.
"Sekarang di dalam lumpur masih satu lutut, kami juga tidur kadang di luar seadanya. Jadi bagaimana mau menjalankan aktifitas dan baru sedikit bantuan yang datang ke daerah kami," tambahnya.
________________________________
Para dermawan bisa donasi lewat NU Online Super App dengan mengklik banner "Darurat Bencana" yang ada di halaman Beranda atau via web filantropi di tautan berikut: https://filantropi.nu.or.id/galang-dana/yuk-bantu-korban-bencana-di-indonesia