Idul Adha di Gampong Blang Dalam: Semangat Kurban dan Gotong Royong Bangkitkan Harapan
Kamis, 28 Mei 2026 | 21:30 WIB
Proses penyembelihan hewan kurban di Gampong Blang Dalam, Kecamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. (Foto: NU Online/Helmi)
Pidie Jaya, NU Online
Suasana Iduladha 1447 Hijriah di Gampong Blang Dalam, Kecamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, terasa berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bekas lumpur banjir bandang akhir 2025 memang perlahan mulai mengering, namun jejak musibah masih membekas di wajah dan ingatan masyarakat.
Di tengah kondisi tersebut, warga tetap menjaga satu tradisi yang tidak pernah padam, yakni semangat kurban dan kebersamaan.
Sejak pagi hari raya, masyarakat mulai berkumpul di meunasah dan lokasi penyembelihan hewan kurban. Suara takbir berpadu dengan aktivitas gotong royong warga yang sibuk menyiapkan tempat penyembelihan, memotong daging, hingga membagikannya kepada masyarakat.
Bagi warga Blang Dalam, Iduladha tahun ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum untuk bangkit bersama setelah musibah besar yang sempat mengguncang kehidupan mereka.
Keuchik Gampong Blang Dalam, Mukhtar, mengatakan masyarakat masih menyimpan trauma pascabanjir bandang yang melanda kawasan tersebut beberapa bulan lalu dan menjadi salah satu banjir terparah di Kecamatan Bandar Dua. Namun, di tengah keterbatasan dan proses pemulihan ekonomi, antusiasme warga untuk berkurban tetap tinggi.
“Alhamdulillah masyarakat tetap semangat berkurban. Walaupun sempat diuji dengan musibah besar, tradisi berbagi dan kebersamaan di gampong ini tetap hidup,” ujarnya kepada NU Online, Sabtu (30/5/2026).
Alumni terbaik DTD Ansor angkatan ke-3 Pidie Jaya itu mengatakan semangat kurban tahun ini justru terasa lebih menyentuh karena masyarakat memahami arti saling membantu setelah bersama-sama melewati masa sulit.
Ia mengatakan banyak warga yang sebelumnya terdampak banjir tetap ikut bergotong royong membantu proses penyembelihan dan pembagian daging kurban meskipun kondisi ekonomi mereka belum sepenuhnya pulih.
“Momentum Iduladha membuat masyarakat kembali berkumpul. Ada rasa haru karena kita bisa kembali merayakan hari besar bersama setelah ujian yang berat,” katanya.
Di sudut lain lokasi kurban, sejumlah pemuda tampak membungkus daging untuk dibagikan kepada warga. Anak-anak kecil berlarian di sekitar meunasah, sementara kaum ibu menyiapkan hidangan sederhana bagi masyarakat yang ikut bergotong royong.
Kehangatan itu seakan menjadi penawar luka setelah bencana yang sempat merendam rumah, sawah, dan aktivitas masyarakat di kawasan tersebut.
Teungku Imum Gampong Blang Dalam, Tgk Junaidi, alumni STIS Ummul Ayman Pidie Jaya, mengatakan pascabanjir memang terjadi penurunan jumlah hewan kurban karena kondisi ekonomi masyarakat belum sepenuhnya pulih.
“Tahun ini ada enam hewan kurban, yakni empat lembu serta masing-masing satu ekor kibas dan kambing,” ujarnya.
Tgk Junaidi menjelaskan bahwa Iduladha mengajarkan masyarakat tentang makna kesabaran, pengorbanan, dan kepedulian sosial.
“Kurban bukan hanya menyembelih hewan, tetapi tentang bagaimana kita belajar ikhlas, peduli kepada sesama, dan tetap bersyukur dalam keadaan sulit,” tuturnya.
Menurutnya, musibah banjir membuat masyarakat semakin memahami pentingnya solidaritas sosial. Ia menilai budaya gotong royong yang masih kuat di tengah masyarakat Aceh menjadi kekuatan utama dalam menghadapi bencana.
“Ketika banjir datang, masyarakat saling membantu. Begitu juga saat Iduladha, semua kembali berkumpul dalam semangat berbagi dan memperkuat ukhuwah,” katanya.
Alumni Dayah Ruhul Fata Seulimeum itu juga mengingatkan generasi muda agar tetap menjaga tradisi kurban dan semangat kebersamaan yang selama ini menjadi bagian penting budaya masyarakat Aceh.
Di tengah proses pemulihan pascabencana, tradisi kurban di Gampong Blang Dalam menjadi simbol harapan bahwa masyarakat perlahan mulai bangkit. Luka akibat banjir mungkin belum sepenuhnya hilang, tetapi semangat berbagi dan persaudaraan tetap menyala di tengah masyarakat.
Bagi warga Blang Dalam, Iduladha tahun ini bukan hanya tentang daging kurban, melainkan tentang keyakinan bahwa setelah musibah selalu ada harapan dan setelah kesulitan akan hadir kemudahan.