Jelang Ramadhan, NU Peduli Dirikan Fasilitas Darurat bagi Korban Tanah Bergerak di Tegal
Senin, 16 Februari 2026 | 06:00 WIB
Tegal, NU Online
Bencana tanah bergerak yang melanda Desa Padasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Ratusan warga terdampak terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat pergerakan tanah yang terus berlangsung, terutama saat hujan berintensitas tinggi masih mengguyur wilayah tersebut.
Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah (LPBI PWNU Jateng), Pudji Wibowo, mengatakan tim NU Peduli Jawa Tengah akan membangun sekolah dan mushala darurat bagi warga terdampak. Langkah tersebut dilakukan menjelang bulan Ramadhan di tengah ketidakpastian hunian sementara (huntara) bagi ratusan warga yang masih bertahan di pengungsian.
“LPBI NU bersama lembaga dan badan otonom di tingkat Jawa Tengah yang tergabung dalam Tim NU Peduli Kemanusiaan Jawa Tengah sudah melakukan asesmen di Padasari. Dari hasil asesmen itu, tindak lanjutnya adalah memperkuat respons tanggap kebencanaan,” ujarnya kepada NU Online, Ahad (15/2/2026) malam.
Ia menjelaskan, mushala darurat menjadi kebutuhan mendesak bagi para pengungsi. Fasilitas tersebut akan dibangun di posko pengungsian PCNU Kabupaten Tegal yang berlokasi di SDN 02 Padasari.
“Banyak warga yang kehilangan rumah dan masih menunggu kepastian huntara, sehingga dua bangunan darurat ini sangat dibutuhkan,” katanya.
Selain warga umum, dampak bencana juga dirasakan para santri Pesantren Al-Adalah. NU Peduli Jateng berencana membangun kelas darurat agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan, khususnya menjelang Ramadhan yang biasanya diisi dengan program-program khusus.
“Kami akan mengupayakan pembangunan kelas darurat dari bahan yang ringan, mudah, dan cepat dibangun, agar para santri tetap bisa belajar,” ujarnya.
Dalam aspek bantuan kemanusiaan, NU Peduli Jateng telah mengoperasikan dapur umum, menyalurkan bahan sembako, serta membagikan makanan ringan kepada para pengungsi. Meski demikian, persoalan kesehatan masih menjadi perhatian.
“Dari sisi kesehatan, alhamdulillah ada dukungan LKNU setempat. Namun, warga dan santri banyak mengalami batuk dan flu karena perubahan kondisi tempat tinggal dari rumah ke pengungsian,” jelasnya.
Ancaman bencana pun belum sepenuhnya reda. Wibowo menyebut pergerakan tanah masih terjadi seiring tingginya curah hujan. “Hingga sekarang tanah masih bergerak karena hujan dengan intensitas cukup tinggi masih turun,” katanya.
Ia menegaskan pemerintah perlu segera mengambil langkah tegas terkait relokasi warga terdampak. “Pemerintah harus segera merelokasi hunian warga,” tegasnya.
Wibowo berharap, sebelum Ramadhan tiba, warga sudah dapat menempati hunian sementara agar dapat menjalankan ibadah dengan lebih aman dan layak. “Semoga bencana ini segera pulih dan kondisi kembali baik,” pungkasnya.