Jateng

NU Peduli Kemanusiaan Jateng Petakan Kebutuhan Korban Tanah Bergerak di Tegal

NU Online  ·  Jumat, 13 Februari 2026 | 15:00 WIB

NU Peduli Kemanusiaan Jateng Petakan Kebutuhan Korban Tanah Bergerak di Tegal

Tim NU Peduli Kemanusiaan PWNU Jateng saat asesmen bencana tanah bergerak di Tegal (Foto: dokumentasi)

Tegal, NU Online Jateng 

NU Peduli Kemanusiaan PWNU Jawa Tengah melakukan asesmen langsung ke lokasi terdampak bencana tanah bergerak di Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal. 

 

Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan kondisi lapangan sekaligus memetakan kebutuhan mendesak para korban, khususnya di lingkungan Pondok Pesantren Al Adalah.

 

Tim asesmen terdiri dari Direktur NU Care-LAZISNU Jateng R Wibowo, Wakil Ketua LPBI PWNU Jateng Mukhlisin, Sekretaris LPBI PWNU Jateng Cucun Supredi, serta Wakil Sekretaris LP Ma’arif PWNU Jateng Fikri Sholakhuddin.

 

Kepada NU Online Jateng, Jumat (13/2/2026), Cucun Supredi menjelaskan hasil asesmen dua kompleks Pondok Pesantren Al Adalah, yakni Al Adalah 1 di Dusun Tigasari, Desa Padasari, dan Al Adalah 2 di Desa Capar.

 

Di lokasi Al Adalah 2, Desa Capar, hanya terdapat dua bangunan utama yang masih difungsikan, yakni rumah pengasuh pesantren Kiai Tasrifin dan satu gedung asrama putra-putri.

 

“Dari hasil asesmen kemarin (9/2) kami mencatat untuk asrama, lantai dua dihuni santri putra sebanyak 234 orang dengan alas seadanya, sedangkan lantai satu difungsikan sebagai tempat ibadah sekaligus asrama santri putri sebanyak 292 orang. Sebagian santri putri juga menempati rumah pengasuh,” terang Cucun.

 

Di lokasi ini juga telah dibuka Pos Kesehatan dan Pos Dapur Umum untuk memenuhi kebutuhan makan sebanyak 526 santri setiap hari. Selain itu, terdapat lahan kosong yang direncanakan untuk pembangunan pesantren, karena seluruh aktivitas dari Al Adalah 1 kini dipindahkan ke lokasi ini.

 

Sementara itu, kondisi di Al Adalah 1 Dusun Tigasari, Desa Padasari, terbilang paling memprihatinkan. Dari 22 bangunan yang ada, hanya tiga yang tersisa. Namun, ketiganya tidak dapat difungsikan karena akses jalan menuju lokasi terputus dan bangunan di sekitarnya telah roboh.

 

“Sebanyak 13 bangunan dalam satu kompleks, termasuk pondok pesantren dan gedung SMA, roboh rata dengan tanah. Jika digabung dengan bangunan SMP, total ada 22 bangunan, dan hanya tiga yang tersisa,” jelasnya.

 

Sebelum bencana, kompleks ini menaungi enam bangunan SMA, sembilan bangunan SMP, serta satu unit PAUD. Akses menuju lokasi kini hanya bisa dilalui kendaraan sampai Pos Pengungsian PCNU Kabupaten Tegal, kemudian dilanjutkan menggunakan sepeda motor. Kondisi jalan di Dusun Tigasari juga patah dan longsor sehingga membutuhkan kewaspadaan ekstra.

 

Kebutuhan Mendesak Pendidikan

Akibat kerusakan total tersebut, seluruh proses belajar mengajar kini digabungkan di Al Adalah 2. Namun, kapasitas yang terbatas membuat kegiatan pendidikan belum berjalan optimal.

 

Untuk kembali menormalkan pembelajaran, pesantren membutuhkan lahan sekitar tiga hektare guna pembangunan sarana baru. Dari total kebutuhan tersebut, dua hektare masih belum mencapai kesepakatan harga dan tengah dicarikan donatur.

 

Selain itu, dibutuhkan 15 ruang kelas belajar (rombel) yang terdiri dari sembilan ruang SMP dan enam ruang SMA. Setiap ruang direncanakan berukuran 7 x 8 meter dengan memanfaatkan material sisa seperti galvalum, baja ringan, serta pintu dan jendela yang masih layak.

 

“Banyak kitab, buku pelajaran, dan sarana belajar lainnya rusak tertimbun reruntuhan. Meja dan kursi juga sebagian besar tidak bisa digunakan lagi,” imbuh Cucun.

 

Selengkapnya klik di sini.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang