Daerah

Lebaran di Tenda, Warga Geudumbak Aceh Utara Masih Tunggu Bantuan

Rabu, 25 Maret 2026 | 18:00 WIB

Lebaran di Tenda, Warga Geudumbak Aceh Utara Masih Tunggu Bantuan

Empat bulan pascabanjir besar, sebagian warga masih bertahan di tenda darurat dan merasa jauh dari suasana hangat yang biasa terjadi saat hari raya. (Foto: NU Online/Helmi Abu Bakar)

Aceh Utara, NU Online

Lebaran yang biasanya penuh kebahagiaan tahun ini terasa berbeda bagi warga Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara. Empat bulan pascabanjir besar, sebagian warga masih bertahan di tenda darurat dan merasa jauh dari suasana hangat yang biasa terjadi saat hari raya.


Di desa yang dihuni hampir 500 kepala keluarga itu, dampak banjir pada 25 November 2025 masih membekas. Ratusan rumah hilang dan hancur akibat terjangan air dan kayu gelondongan, menyisakan puluhan rumah yang masih berdiri. Kondisi ini membuat sebagian warga belum memiliki tempat tinggal yang layak hingga memasuki Idulfitri.


Rasyidin (39), warga Geudumbak, mengatakan Lebaran tahun ini dilalui dalam keterbatasan. Ia menyebut masih ada warga yang bermalam di tenda karena rumah mereka belum bisa ditempati.


“Lebaran kali ini tidak seperti dulu. Masih ada warga yang tidur di tenda karena rumahnya belum bisa ditempati,” ujarnya kepada NU Online, Selasa (24/3/2026).


Menurutnya, kondisi tersebut menjadi kenyataan pahit yang harus diterima warga. Di saat masyarakat lain bersiap menyambut Lebaran dengan kegembiraan, warga Geudumbak justru masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar.


Rasyidin menambahkan, bantuan yang dijanjikan pemerintah hingga kini belum sepenuhnya diterima warga. Bantuan sebesar Rp8 juta per kepala keluarga tersebut merupakan Bantuan Stimulan Sosial Ekonomi dan Hunian, yang terdiri atas Rp3 juta untuk kebutuhan isi rumah dan Rp5 juta untuk pemulihan ekonomi.


Selain itu, warga juga dijanjikan bantuan jatah hidup (jadup) sebesar Rp450 ribu per jiwa per bulan. Namun hingga kini, bantuan tersebut masih dinantikan oleh sebagian masyarakat.


“Bantuan itu sudah disampaikan, tetapi sampai sekarang belum kami terima sepenuhnya. Jadup juga belum cair,” katanya.


Keterlambatan bantuan membuat warga harus bertahan dengan kemampuan sendiri. Mereka mengandalkan solidaritas dan gotong royong untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


“Untuk makan dan kebutuhan lain, kami saling membantu. Tidak bisa menunggu bantuan turun semua,” ujarnya.


Ia menyebut banyak warga kehilangan seluruh harta benda akibat banjir, mulai dari rumah, peralatan rumah tangga, pakaian, hingga kebutuhan dasar lainnya.


“Yang hilang itu semuanya. Jadi bantuan sangat kami harapkan untuk bisa memulai kembali,” tambahnya.


Selain persoalan bantuan, kondisi hunian juga masih menjadi tantangan besar. Sebagian warga masih tinggal di tenda darurat, sementara hunian sementara (huntara) belum sepenuhnya rampung.


“Masih ada yang di tenda, ada juga yang tinggal seadanya. Huntara belum selesai semua,” ujarnya.


Kondisi ini membuat suasana Lebaran terasa berat. Tradisi berkumpul bersama keluarga di rumah tidak lagi bisa dirasakan oleh sebagian warga.


“Biasanya Lebaran kami berkumpul di rumah. Sekarang banyak yang tidak punya rumah lagi,” katanya.


Di tengah keterbatasan itu, warga berupaya bangkit dengan memanfaatkan kayu gelondongan yang terbawa banjir sebagai bahan bangunan. “Kayu gelondongan kami ambil dan gunakan untuk membangun rumah seadanya,” ujarnya.


Namun tidak semua warga mampu membangun kembali rumahnya. Keterbatasan tenaga dan biaya menjadi kendala utama. “Tidak semua bisa membangun sendiri. Ada yang masih sangat terbatas,” tambahnya.


Selain itu, persoalan pendataan bantuan juga menjadi perhatian. Rasyidin menyebut masih ada warga terdampak yang belum terdata sebagai penerima bantuan. “Ada yang benar-benar terdampak, tetapi belum terdata. Itu yang kami harapkan bisa diperbaiki,” katanya.


Di tengah berbagai keterbatasan, semangat gotong royong tetap menjadi kekuatan utama warga Geudumbak. “Kami saling membantu. Itu yang membuat kami bisa bertahan sampai sekarang,” ujarnya.


Ia berharap bantuan yang dijanjikan segera direalisasikan agar warga dapat kembali hidup layak. “Kami hanya ingin bisa bangkit lagi. Semoga bantuan segera sampai,” katanya.


Empat bulan pascabanjir, Geudumbak masih menyimpan luka. Sebagian warga kehilangan mata pencaharian dan kini bergantung pada bantuan. Di tengah gema takbir Lebaran, mereka tidak hanya merayakan hari raya, tetapi juga terus berjuang untuk bangkit.


Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Ketua PWNU Aceh, Tgk Iskandar Zulkarnaen, menegaskan bahwa bantuan bagi korban bencana tidak boleh tertunda, terlebih hingga melewati momentum penting seperti Lebaran.


“Bantuan tidak boleh terlambat, apalagi dalam kondisi darurat seperti ini. Ini menyangkut kebutuhan dasar masyarakat,” ujarnya.


Ia menilai keterlambatan bantuan dapat memperpanjang penderitaan warga yang seharusnya mulai bangkit.


Menurutnya, dalam perspektif keislaman, kepedulian terhadap korban bencana merupakan bagian dari tanggung jawab sosial yang tidak bisa ditunda.


“Ini bukan sekadar persoalan administratif, tetapi amanah. Negara dan semua pihak harus hadir memastikan masyarakat tidak ditinggalkan,” tegasnya.


Ia juga menyoroti pentingnya keakuratan data agar penyaluran bantuan tepat sasaran. “Pendataan harus akurat. Jangan sampai yang terdampak tidak menerima bantuan, sementara yang tidak terdampak justru mendapatkannya,” katanya.


Lebih lanjut, ia menekankan bahwa penanganan pascabencana harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya fokus pada bantuan awal, tetapi juga pemulihan jangka panjang. “Pemulihan bukan hanya membangun rumah, tetapi juga memulihkan kehidupan masyarakat secara utuh,” ujarnya.