Daerah

Ngaji At-Tibyan Bangun Takzim Nahdliyin Bandung Barat

Jumat, 9 Maret 2018 | 15:30 WIB

Bandung Barat, NU Online
Wakil Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bandung Barat, KH Abdul Madjid mengungkapkan dua penyebab putusnya silaturahim. Pertama, menurutnya, adalah perbedaan pendapat.

“Di antara penyebab putusnya silaturahim adalah karena perbedaan pendapat, lebih-lebih beda dalam ‘pendapatan’,” ujarnya saat mengisi pengajian kitab At-Tibyan di Kantor PCNU Kabupaten Bandung Barat, Kamis (8/3).

Ia menuturkan, sejatinya tidak lagi ada pendapat. Hanya saja, pandangan orang itu didasarkan atas pemikiran ulama terdahulu yang sudah termaktub dalam kitab-kitabnya. “Yang ada adalah sikap ittiba penjelasan para ulama,” katanya.

Hal lain yang menyebabkan putusnya silaturahim adalah hasud. “Tidak senang melihat orang lain mengalami kemajuan sehingga berusaha memprovokasi orang lain dengan mencari kekurangannya,” terangnya.

Mestinya, yang dibangun bukanlah hasud, melainkan takzim, baik terhadap orang yang lebih matang secara usia maupun keilmuan.

Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Bandung Barat KH Ahmad Maulana ZA menjelaskan takzim terhadap para sepuh dan ulama merupakan sikap khas NU. 

Dalam mukadimah Attibyan, ada teks shalawat kepada Nabi SAW. Jika ingin shalawat yang dibaca itu juga ditujukan untuk keluarga dan sahabatnya, cukup dengan menambahkan wa alihi wa shahbihi setelah lafal shalla Allahu ‘alihi wassallam

“Tapi Hadratussyekh Mbah Hasyim menambah wa’ala alihi tidak langsung wa alihi,” terangnya. Jadi penggunaan kata ‘ala adalah sebagai penghormatan, imbuhnya.

Dari dulu sampai saat ini, tradisi takzim kepada ulama sangat melekat di kalangan Nahdliyyin. Menurutnya, betapapun bisa dan majunya warga NU saat ini ataupun nanti, itu merupakan buah wasilah dan berkah para ulama dan guru. (Saprudin/Syakrinf/Ibnu Nawawi)


Terkait