Permintaan Tinggi, Harga Daging Meugang Idul Fitri di Banda Aceh dan Aceh Besar Naik hingga Rp150 ribu Lebih
Kamis, 19 Maret 2026 | 16:30 WIB
Banda Aceh, NU Online
Harga daging sapi pada tradisi meugang menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah di Banda Aceh dan Aceh Besar mengalami fluktuasi, berkisar antara Rp150.000 hingga Rp180.000 per kilogram, Rabu (18/3/2026). Kenaikan ini dipicu oleh tingginya permintaan masyarakat dalam menyambut hari raya.
Pantauan di sejumlah pasar tradisional menunjukkan suasana yang lebih ramai dibanding hari biasa. Tradisi meugang yang menjadi bagian dari budaya masyarakat Aceh mendorong peningkatan konsumsi daging secara signifikan, sehingga berdampak pada harga di tingkat pedagang.
Salah seorang pedagang daging di Banda Aceh, Bustamam, mengaku kenaikan harga tidak dapat dihindari karena harga dari peternak sudah tinggi sejak awal.
“Harga modal dari peternak memang sudah naik menjelang Lebaran. Kami menyesuaikan di kisaran Rp170 ribu sampai Rp180 ribu per kilogram,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan bahwa meskipun permintaan tetap tinggi, daya beli masyarakat mulai mengalami penyesuaian.
“Daya beli masih ada, tapi sebagian masyarakat membeli tidak sebanyak sebelumnya, mungkin karena kondisi ekonomi saat ini,” tambahnya.
Di sisi lain, masyarakat mencoba mencari alternatif dengan memanfaatkan program pasar murah yang disediakan pemerintah. Mawar, warga Lambaro, mengaku memilih membeli daging di pasar murah karena selisih harga yang cukup signifikan.
“Kalau di pasar biasa harganya cukup berat, bisa sampai Rp180 ribu. Di pasar murah lebih terjangkau, jadi bisa sekalian beli kebutuhan dapur lainnya,” katanya.
Pemerintah Kota Banda Aceh sendiri telah menggelar pasar murah selama dua hari, 17–18 Maret 2026, sebagai langkah untuk menjaga stabilitas harga dan membantu masyarakat. Dalam program tersebut, daging sapi dijual dengan harga Rp140.000 per kilogram.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kota Banda Aceh Iskandar menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari upaya pengendalian inflasi serta menjaga daya beli masyarakat.
“Penyediaan daging dengan harga terjangkau diharapkan dapat membantu masyarakat sekaligus menjaga stabilitas harga di pasar,” ujarnya.
Menanggapi fenomena tersebut, Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Aceh Besar Musiarifsyah Putra menilai bahwa fluktuasi harga daging saat meugang merupakan hal yang kerap terjadi setiap tahun. Namun demikian, ia menekankan pentingnya perhatian terhadap daya beli masyarakat.
“Tradisi meugang adalah bagian penting dari budaya Aceh. Namun kita juga perlu memastikan bahwa masyarakat tetap mampu menjangkaunya, terutama di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil,” ujarnya.
Ia mengapresiasi langkah pemerintah dalam menghadirkan pasar murah sebagai bentuk intervensi yang membantu masyarakat, khususnya kalangan menengah ke bawah.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah, pedagang, dan masyarakat sangat penting untuk menjaga keseimbangan antara tradisi dan kondisi ekonomi.
“Kita berharap tradisi meugang tetap terjaga, tetapi juga diiringi dengan kebijakan yang mampu menjaga kestabilan harga dan daya beli masyarakat,” tambahnya.
Meski terjadi kenaikan harga, tradisi meugang tetap berlangsung semarak. Bagi masyarakat Aceh, meugang bukan sekadar membeli daging, tetapi juga momentum kebersamaan keluarga dalam menyambut hari raya Idulfitri.
Dengan berbagai upaya yang dilakukan, diharapkan masyarakat tetap dapat menjalankan tradisi tersebut dengan penuh kebahagiaan tanpa terbebani oleh lonjakan harga yang signifikan.