Seluruh jenis sampah dari lingkungan yayasan ditampung dan dikelola secara sistematis oleh para santri Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah. (Foto: dok istimewa/Ayu)
Rembang, NU Online
Secercah sinarnya cahaya matahari dan senyum sumringah di pagi hari. Para santri bergotong-royong membawa dan memilih sampah, kegiatan program pengelolaan berbasis pesantren ini berdiri di Yayasan Al-Anwar 3. Tim pengelola sampah menampung segala jenis sampah di PPS Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kecamatan Sarang, Rembang, Jawa Tengah.
Program yang mulai diinisiasi sejak 2021 ini baru berjalan optimal pada 2024, seiring meningkatnya kesadaran dan partisipasi santri.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengelolaan sampah berbasis pesantren yang kini menjadi salah satu upaya nyata menjaga kebersihan lingkungan, salah satunya mendorong penggunaan wadah makan dan tumbler sebagai pengganti plastik sekali pakai.
Upaya ini menjadi bukti bahwa pesantren tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pelopor dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui aksi nyata berbasis komunitas.
Program tersebut dikelola oleh Pusat Pengelolaan Sampah (PPS) Al-Anwar 3 yang berada di bawah binaan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sarang. Seluruh jenis sampah dari lingkungan yayasan ditampung dan dikelola secara sistematis oleh para santri.
Koordinator PPS Al-Anwar 3, Dwi Ikmal, menjelaskan bahwa program ini berawal dari kebutuhan mendesak dalam menangani volume sampah yang besar di lingkungan pesantren. Biaya pengelolaan sampah yang tinggi menjadi salah satu pemicu lahirnya inisiatif ini.
“Pengelolaan sampah membutuhkan biaya yang tidak sedikit setiap bulannya. Lalu pengasuh kami, Ibu Nyai Nadia Jirjis, mengusulkan untuk mendirikan pusat pengelolaan sampah berbasis pesantren agar seluruh sampah di yayasan bisa dikelola secara mandiri,” ujar Dwi kepada NU Online, Rabu (15/4/2026).
Ia menambahkan, tujuan utama program ini adalah mengelola sampah secara menyeluruh, mulai dari proses pengangkutan, pemilahan, hingga pengolahan akhir.
Dalam praktiknya, sistem pengelolaan sampah di PPS Al-Anwar 3 dilakukan secara terjadwal, yakni dua kali sehari pada pagi dan sore hari. Sampah yang dikumpulkan dari seluruh unit di yayasan kemudian dipilah di tempat khusus sesuai jenisnya, seperti organik, anorganik, dan bahan berbahaya dan beracun (B3).
Meski pemilahan awal sudah dilakukan di masing-masing unit, PPS tetap melakukan proses pemilahan ulang untuk memastikan tidak ada sampah yang tercampur.
“Terkadang masih ditemukan sampah yang belum terpisah dengan baik, sehingga kami lakukan pemilahan ulang di pusat pengelolaan,” tambahnya.
Namun, dalam pelaksanaannya, program ini tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu kendala utama adalah mengoordinasikan ribuan santri agar konsisten dalam menerapkan sistem pemilahan sampah secara mandiri.
Selain itu, keterbatasan sarana dan prasarana juga menjadi hambatan. Hingga saat ini, pengelolaan sampah masih dilakukan secara tradisional, termasuk dalam pengolahan sampah organik yang belum didukung peralatan modern seperti mesin pelet.
“Untuk pengolahan menjadi produk seperti paving pun, kami masih menggunakan cetakan sederhana,” sambungnya.
Meski demikian, PPS Al-Anwar 3 berhasil mengembangkan inovasi dengan mengolah sampah residu menjadi produk ramah lingkungan.
"Sampah residu yang terkumpul dibakar menggunakan tungku besar dengan minim asap, kemudian abu hasil pembakaran dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan paving," tutupnya.