Warga Enang-Enang Bener Meriah Bangun Jembatan Swadaya Senilai Rp1,08 Miliar
Selasa, 7 Juli 2026 | 09:00 WIB
Bener Meriah, NU Online
Warga kawasan Tajuk Enang-Enang, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, bergotong royong memperbaiki jembatan dan jalan darurat yang rusak akibat bencana.
Jembatan Enang-Enang tersebut diresmikan melalui sebuah upacara sederhana pada Kamis (2/7/2026). Pembangunannya menggunakan dana swadaya masyarakat dan para donatur yang jumlahnya mencapai Rp1,08 miliar. Warga secara bahu-membahu memperbaiki jembatan dan akses jalan yang rusak akibat banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah Aceh pada akhir November 2025.
Sebelum prosesi pengguntingan pita, masyarakat menggelar doa bersama yang dipimpin ulama muda Aceh, Teungku Muhammad Yusuf yang akrab disapa Abiya Jeunieb. Doa tersebut menjadi ungkapan rasa syukur masyarakat sekaligus harapan agar jembatan dan jalan darurat itu memberikan manfaat serta keselamatan bagi setiap pengendara yang melintas.
Pelopor gerakan pembangunan Enang-Enang, Sahrial Abadi, tidak mampu menyembunyikan rasa harunya. Dengan suara bergetar, ia menyampaikan terima kasih kepada masyarakat dan seluruh donatur yang telah bergotong royong mewujudkan pembangunan tersebut.
“Hari ini jalan resmi kita buka. Warga sudah bisa melintas karena proses pengaspalan telah selesai. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu,” kata Sahrial.
Di hadapan masyarakat dan sejumlah tokoh yang hadir, Sahrial juga menyampaikan secara terbuka jumlah dana swadaya yang berhasil dihimpun. Total dana yang terkumpul mencapai sekitar Rp1,08 miliar. Dari jumlah tersebut, sebanyak Rp526 juta telah digunakan untuk membiayai operasional alat berat, pembelian material batu, pengerasan jalan, pembangunan jalan darurat, perbaikan jembatan, dan pengaspalan.
Sementara sisa dana sebesar Rp555,89 juta akan digunakan untuk menyelesaikan sejumlah pekerjaan fisik yang belum rampung. Pekerjaan itu antara lain pembangunan dinding penahan jalan atau lining, fasilitas tempat berwudhu, serta penyempurnaan kawasan tempat peristirahatan di sekitar jembatan.
Sahrial menegaskan bahwa keterbukaan pengelolaan dana menjadi prinsip utama panitia pembangunan. Laporan penerimaan dan penggunaan dana akan terus diperbarui serta disampaikan kepada masyarakat. “Seluruh anggaran swadaya yang diberikan masyarakat secara sukarela akan kami sampaikan secara terbuka kepada publik. Ini adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Berawal dari kebutuhan warga
Gerakan swadaya masyarakat Bener Meriah dan Aceh Tengah tersebut berawal dari kekecewaan warga terhadap lambannya penanganan akses transportasi yang rusak sementara fasilitas tersebut dirasakan sangat mendesak..
Jalur nasional Bireuen–Takengon di kawasan Enang-Enang mengalami kerusakan parah akibat banjir bandang dan tanah longsor pada akhir November 2025. Rusaknya jalur tersebut sempat mengganggu urat nadi perekonomian masyarakat di dataran tinggi Gayo. Distribusi bahan kebutuhan pokok dan logistik tersendat, sementara masyarakat harus menggunakan jalur alternatif dengan jarak tempuh yang lebih jauh.
Masyarakat kemudian menerima informasi bahwa pembangunan jembatan permanen oleh pemerintah pusat baru diprogramkan melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Aceh pada 2027. Warga memilih tidak menunggu terlalu lama dalam kondisi akses transportasi yang terbatas. Mereka kemudian mengambil inisiatif mengumpulkan dana dan melakukan pembangunan secara gotong royong.
Wakil Ketua PWNU Aceh, H Iskandar Zulkarnaen, mengapresiasi semangat gotong royong masyarakat dalam membuka kembali akses jalan tersebut. Menurutnya, swadaya warga menunjukkan kuatnya solidaritas sosial dan kepedulian masyarakat terhadap kepentingan bersama.
Ia berharap pemerintah segera memberikan perhatian serius dan mempercepat pembangunan jembatan permanen agar masyarakat dapat melintas dengan aman serta aktivitas perekonomian di kawasan dataran tinggi Gayo kembali berjalan normal.
Ketua PW GP Ansor Aceh, Azwar A Gani, juga mengapresiasi semangat kebersamaan masyarakat Enang-Enang. Gerakan tersebut dinilai menunjukkan kuatnya nilai gotong royong dan kepedulian sosial masyarakat Aceh ketika menghadapi keadaan darurat. Meskipun jalan darurat tersebut telah diaspal dan jembatan sudah dapat dilalui, masyarakat diminta tetap berhati-hati. Status jalan dan jembatan tersebut masih merupakan akses darurat serta belum melalui pengujian kelayakan teknis sebagaimana proyek jalan nasional.
Dinas Perhubungan dan Satuan Lalu Lintas setempat mengimbau kendaraan roda empat atau lebih yang membawa muatan berat, seperti truk logistik besar dan truk tronton, agar tetap menggunakan jalur alternatif resmi yang telah ditentukan. Pembatasan kendaraan berat diperlukan untuk mencegah terjadinya penurunan struktur tanah dan kerusakan jembatan sebelum pembangunan permanen oleh pemerintah pusat terealisasi.
Baca Juga