Internasional

Gempa M7,8 Guncang Filipina: 35 Orang Meninggal Dunia, Ribuan Bangunan Rusak

Selasa, 9 Juni 2026 | 11:00 WIB

Gempa M7,8 Guncang Filipina: 35 Orang Meninggal Dunia,  Ribuan Bangunan Rusak

Bangunan di Univeritas Notre Dame of Dadiangas di Kota Santos rusak akibat gempa M7,8 pada Senin (8/6/2026). (Dok Univeritas Notre Dame of Dagiangas)

Jakarta, NU Online
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 yang mengguncang Mindanao, Filipina pada Senin (8/6/2026) pagi menyebabkan sedikitnya 35 orang meninggal dunia, puluhan ribu warga mengungsi, serta merusak berbagai fasilitas publik, termasuk ribuan sekolah yang sedang menjalankan kegiatan belajar mengajar.


Berdasarkan laporan Associated Press satu korban meninggal akibat serangan jantung, sedangkan 34 korban lainnya tewas setelah tertimpa reruntuhan bangunan di Provinsi Cotabato Selatan. Selain korban jiwa, sekitar 70.000 warga terpaksa mengungsi dan lebih dari seratus orang mengalami luka-luka.


Bencana tersebut juga memicu tanah longsor di sejumlah wilayah terdampak. “Gempa tersebut juga memicu tanah longsor di Glan, Provinsi Sarangani, yang menewasakan 13 warga,” ujar Rena Punzalan, Pejabat Mitigasi Bencana Provinsi Sarangani, Mindanao, dikutip NU Online, Selasa (9/6/2026).

 

Selain itu, gempa memicu gelombang tsunami setinggi satu meter yang sempat menerjang pesisir beberapa provinsi di bagian selatan Filipina. Peristiwa tersebut memperparah situasi darurat dan meningkatkan risiko bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pantai.


Kerusakan juga meluas ke sektor pendidikan. Mengutip laporan Inquirer, sebanyak 6.224 sekolah terdampak gempa. Akibatnya, sekitar 3,2 juta siswa dan 128.000 guru terdampak ketika proses belajar mengajar masih berlangsung.


Menteri Pendidikan Filipina Sonny Angara menyatakan bahwa keselamatan warga sekolah menjadi prioritas utama pemerintah. Kegiatan belajar mengajar di semua jenjang pendidikan di wilayah Mindanao yang terdampak telah ditangguhkan.


Ia menambahkan bahwa pemerintah juga mengerahkan tim keselamatan untuk memeriksa kondisi bangunan sekolah serta memastikan dukungan darurat tersedia bagi para siswa dan tenaga pendidik.


“Menindaklanjuti arahan Presiden, kami segera mengerahkan para insinyur kami di wilayah terdampak, khususnya di Kantor Regional Departemen Pendidikan XII untuk memeriksa fasilitas sekolah yang terkena dampak gempa,” ujar Sonny.

 

“Kami memahami kekhawatiran orang tua, guru, dan siswa. Ketika semuanya aman, kami akan melanjutkan analisis kami. Keselamata adalah prioritas utama,” lanjutnya.


Presiden Filipina Ferdinand Romualdez Marcos Jr. menjanjikan bantuan dana bagi daerah terdampak serta mengirimkan alat berat untuk mempercepat proses pembersihan puing-puing bangunan yang runtuh, seperti akses jalan, jembatan, hingga jaringan listrik yang terputus.


“Pemerintah nasional tengah bergerak dan kami tidak akan meninggalkan Mindanao,” ucap Ferdinand.


Hingga saat ini, pemerintah Filipina masih terus melakukan pendataan terhadap warga terdampak dan fasilitas umum yang mengalami kerusakan. Upaya tersebut untuk memastikan kebutuhan bantuan dapat disalurkan secara tepat sasaran sekaligus mempercepat proses pemulihan pascabencana di wilayah selatan Filipina.