Daerah

Kesaksian Warga Bitung Usai Gempa 7,6 M di Sulsel, Air Laut Sempat Naik ke Pesisir

NU Online  ·  Kamis, 2 April 2026 | 20:45 WIB

Kesaksian Warga Bitung Usai Gempa 7,6 M di Sulsel, Air Laut Sempat Naik ke Pesisir

Gambar hanya sebagai ilustrasi berita. (Foto: freepik)

Jakarta, NU Online

Warga di sejumlah wilayah pesisir Kota Bitung, Sulawesi Utara, masih bertahan di posko pengungsian usai gempa berkekuatan sekitar 7,6 magnitudo yang sempat memicu peringatan tsunami, Kamis (2/4/2026).


Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Bitung Aliyandi Langelo mengatakan bahwa sebagian masyarakat di kelurahan pesisir seperti Candi, Kecamatan Maesa, memilih mengungsi ke daerah yang lebih tinggi. Selain itu, ada pula warga yang tinggal sementara di rumah kerabat di kawasan dataran tinggi demi keamanan.


"Untuk saat ini, warga di pesisir masih ada yang bertahan di posko-posko pengungsian. Ada juga yang mengungsi ke rumah saudara di wilayah yang lebih tinggi,” ujarnya saat dihubungi NU Online.


Ali menjelaskan, sesaat setelah gempa terjadi, air laut di sejumlah titik pesisir sempat mengalami kenaikan. Namun, ketinggiannya relatif rendah dan tidak menimbulkan dampak besar.


"Sekitar lima menit setelah gempa, air laut sempat naik di pesisir, tapi hanya sampai mata kaki dan tidak jauh masuk ke daratan. Setelah itu langsung surut,” katanya.


Meski demikian, kondisi tersebut sempat memicu kepanikan warga yang tinggal di kawasan dekat pantai. Apalagi, sebagian wilayah Bitung berhadapan langsung dengan laut lepas, sehingga meningkatkan kekhawatiran akan potensi tsunami.


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mencabut peringatan dini tsunami sekitar pukul 15.00 WITA. Meski status sudah dinyatakan aman, sebagian warga masih memilih bertahan di lokasi pengungsian karena khawatir akan gempa susulan.


"Memang sudah dicabut peringatan tsunami, kondisi mulai kondusif. Tapi masih ada warga yang bertahan di pengungsian karena takut gempa susulan,” ungkap Ali.


Ali menceritakan setelah kejadian gempa utama, terjadi beberapa kali gempa susulan dengan kekuatan lebih kecil. Namun, intensitasnya tidak sebesar gempa pertama.


Hingga saat ini, situasi di Kota Bitung berangsur kondusif, meski kewaspadaan warga tetap tinggi, terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah pesisir.


Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bitung Narto Pakaya mengatakan guncangan gempa bumi yang terjadi di wilayah Kota Bitung terasa sangat kuat dengan durasi sekitar 10 hingga 20 detik. Kondisi tersebut sempat memicu kepanikan warga yang berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.


"Warga diminta menjauhi kawasan pantai dan muara sungai, serta segera melakukan evakuasi ke tempat yang lebih tinggi apabila merasakan gempa kuat atau menerima peringatan resmi dari pihak berwenang," jelasnya.


Sebelumnya, Wali Kota Bitung Hengky Honandar mengeluarkan imbauan kepada seluruh masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir, untuk tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana.


"Masyarakat diharapkan tidak panik. Tetap tenang agar dapat berpikir jernih, karena kepanikan dapat menyebabkan cedera maupun pengambilan keputusan yang salah,” imbaunya.


Pemerintah juga mengingatkan agar warga selalu mengikuti informasi resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika serta instansi terkait lainnya.


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat ada 93 aktivitas gempa bumi susulan di Sulawesi Utara pagi ini, Kamis (2/4/2026).


“Ini adalah hasil monitoring kami hingga pukul 12.00, itu telah terjadi 93 aktivitas gempa bumi susulan Bapak Ibu sekalian dengan magnitudo 2,8 hingga 5,8,” kata Kepala BMKG Prof. Teuku Faisal Fathani dalam Rapat Koordinasi Penanganan Darurat Bencana Gempa Sulawesi Utara.


Faisal mengungkap bahwa dampak getaran seperti ini terjadi di Kota Ternate dan Kota Manado, sehingga dirasakan oleh hampir semua masyarakat. Kemudian, intensitas dampak getaran 2 sampai 3 dirasakan di beberapa titik, seperti Gorontalo, Gorontalo Utara, Bone Bolango, Bone Selatan, dan Pohuwato.


Faisal juga mengatakan bahwa pihaknya sudah mendapatkan laporan keaktifan dari gunung api aktif di daerah Malukuk Utara. Kondisi ini diakibatkan adanya pergeseran pada gempa pagi ini.


"Kami mengimbau agar tetap memastikan informasi resmi yang bersumber dari BMKG," tegasnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang