Jumat Pertama Jamaah Haji Indonesia di Masjidil Haram, Suasana Padat dan Tertib
Sabtu, 2 Mei 2026 | 08:00 WIB
Makkah, NU Online
Suasana Masjidil Haram menunjukkan denyut khas musim haji. Jumat (1/5/2026) atau 14 Dzulqa’dah 1447 H menjadi Jumat pertama bagi jamaah haji Indonesia musim haji 2026 di Tanah Suci. Sejak pagi, jamaah telah memenuhi area pelataran. Dari ketinggian, hamparan itu tampak berwarna, perpaduan kain ihram putih, gamis hitam, serta payung-payung yang terbuka untuk menghalau terik matahari.
Di lantai dua, formasi jamaah terbagi dalam beberapa lapis aktivitas. Di bagian paling depan, area dikhususkan untuk thawaf pengguna kursi roda. Jalur ini dipisahkan dengan pembatas, sementara di belakangnya terbentuk sekitar empat hingga lima saf jamaah yang beribadah. Di lapisan berikutnya, area thawaf kembali terbuka, sebelum diikuti saf jamaah yang bersiap menunaikan salat Jumat. Di bagian paling belakang, tampak jamaah perempuan, sebagian beristirahat, sebagian lain tetap beribadah.
Kepadatan paling terasa di area thawaf lantai dasar, terutama di sekitar lampu hijau yang menandai garis sejajar dengan Hajar Aswad. Di titik tersebut, arus melambat karena banyak jamaah mengangkat tangan sebagai isyarat penghormatan. Sementara dari arah Maqam Ibrahim menuju titik itu, pergerakan relatif lebih lancar.
Jamaah yang hadir berasal dari berbagai negara, seperti Bangladesh, India, Pakistan, Turki, hingga Malaysia. Di antara mereka, pengguna kursi roda juga tampak cukup banyak. Jalur khusus kursi roda memiliki lebar yang memungkinkan tiga unit berjalan berdampingan, meski di beberapa titik jamaah harus berhati-hati saat saling menyalip.
Kursi roda yang didorong petugas resmi Masjidil Haram cenderung melaju lebih cepat, sementara yang didorong keluarga atau relawan bergerak lebih lambat. Sejumlah jamaah juga terlihat menggunakan kursi roda listrik.
Memasuki pukul 11.00 waktu setempat, saf di belakang pembatas mulai bertambah. Namun di sejumlah titik, petugas keamanan (askar) menahan laju jamaah agar tidak memasuki area thawaf. Menjelang pukul 11.30, penjagaan diperketat di pintu-pintu masuk jalur kursi roda. Petugas menutup akses untuk sterilisasi, memastikan seluruh pengguna kursi roda telah keluar dari area thawaf.
Bahkan jamaah yang tinggal menyisakan satu putaran thawaf tetap diminta keluar. Setelah area dinyatakan kosong, pembatas mulai digeser. Jamaah yang menunggu di belakang perlahan maju mendekati pagar pembatas, membuka pandangan yang lebih leluasa ke arah Ka’bah.
Menjelang azan, sebagian jamaah di saf depan berdiri, mengabadikan momen dengan foto dan video, atau berdoa sambil mengangkat tangan. Thawaf sendiri tidak sepenuhnya berhenti. Jamaah yang berjalan kaki tetap melanjutkan putaran, sementara pengguna kursi roda yang belum selesai bergabung ke jalur umum di lantai dua.
Saat azan berkumandang, sebagian jamaah langsung membentuk saf, sementara lainnya menyelesaikan thawaf sebelum bersiap mengikuti khutbah.
Di salah satu titik tidak jauh dari area salat sunah thawaf, lima jamaah perempuan pengguna kursi roda tampak berhenti menunggu. Mereka memilih bertahan di tempat hingga salat Jumat selesai, sembari sesekali menerima air zamzam yang dibagikan petugas.
Salat Jumat dipimpin oleh Usamah bin Abdullah Khayyat. Dalam khutbahnya, ia mengingatkan bahwa tanda diterimanya amal adalah konsistensi dalam ketaatan, berpindah dari satu kebaikan ke kebaikan lain serta menjauhi maksiat. Ia juga menekankan keutamaan bulan-bulan haram sebagai momentum memperbanyak amal saleh dan meninggalkan keburukan.
“Hati akan hidup dengan iman dan ketaatan, dan akan mati dengan kelalaian serta dosa,” pesannya.
Usai salat, aktivitas kembali mengalir. Sebagian jamaah melanjutkan thawaf, sebagian lain meminum zamzam atau berdoa. Ritme Masjidil Haram kembali seperti semula, padat namun teratur.
Sekitar 20 menit setelah salat, pembatas area thawaf kursi roda sempat belum diatur kembali. Momen ini dimanfaatkan jamaah untuk mendekat ke pagar, mengabadikan gambar, melakukan panggilan video dengan keluarga, atau sekadar memandang Ka’bah dari jarak lebih dekat.
Tak lama kemudian, petugas kembali menggeser pembatas ke posisi semula, membuka ruang bagi jalur thawaf kursi roda.
Di Masjidil Haram, bahkan pada Jumat pertama jamaah haji Indonesia sekalipun, satu hal tetap sama: pergerakan tidak pernah benar-benar berhenti.