Internasional

Ramadhan, 24 Dai LD PBNU Berdakwah di 8 Negara

Sabtu, 28 Februari 2026 | 07:00 WIB

Ramadhan, 24 Dai LD PBNU Berdakwah di 8 Negara

Pemberangkatan parai dai LD PBNU yang berdakwah di luar negeri pada Ramadhan 1447 (Foto: istimewa)

Jakarta, NU Online
Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) kembali mengirim para dai ke mancanegara untuk mengisi dakwah Ramadhan 1447 H/2026 M. Sebanyak 24 dai dikirim dalam program Nahdlatul Ulama Worldwide Dakwah untuk bertugas di 8 negara.

 

Para dai menjalankan misi dakwah di Australia, Selandia Baru, Hong Kong, Jepang, Jerman, Korea Selatan, Taiwan, dan Timor Leste.

 

Tahun 2026 ini menandai tahun keempat pelaksanaan program ini, yang dinilai membawa dampak positif dalam penguatan dakwah Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah di komunitas Muslim dunia.

 

Pelepasan para dai dilakukan secara daring melalui Zoom, Ahad (15/2/2026) dan dihadiri Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Zulfa Mustafa, Ketua LD PBNU KH Abdullah Syamsul Arifin, Sekretaris LD PBNU KH Nurul Badruttamam, KH Khoirul Huda Basyir, KH Ahmad Rosyidin Mawardi, serta jajaran pengurus lainnya.

 

Ketua LD PBNU Abdullah Syamsul Arifin menegaskan bahwa pengiriman dai ke luar negeri bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari ikhtiar strategis memperluas khidmah NU di tingkat global.

 

Menurutnya, pelayanan kepada umat tidak cukup diwujudkan melalui ceramah (qauli) semata, melainkan harus terimplementasi dalam gerakan nyata yang menyentuh kebutuhan umat.

 

Dakwah yang berorientasi pada pelayanan, ujarnya, akan melahirkan hayatan thayyibah (kehidupan yang baik), sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 97 tentang balasan bagi orang beriman yang beramal saleh.

 

“Di pundak para dai ada tanggung jawab besar. Pesan Islam harus disampaikan dengan bahasa yang menyejukkan dan menenteramkan, sehingga menjadi solusi atas problem keumatan, bukan sebaliknya,” katanya.

 

Ia menambahkan, dakwah di luar negeri harus disampaikan secara kontekstual dan adaptif terhadap kondisi sosial-budaya masyarakat setempat, khususnya bagi (warga NU) Nahdliyin di perantauan.

 

Wakil Ketua Umum PBNU Zulfa Mustafa menekankan bahwa para dai yang diberangkatkan hakikatnya adalah duta Nahdlatul Ulama sekaligus duta Indonesia. Karena itu, menjaga nama baik organisasi dan bangsa menjadi amanah utama selama bertugas.

 

Ia juga mengingatkan pentingnya prinsip dakwah yang proporsional, terutama dalam membedakan aspek ushul dan furu’ dalam ajaran Islam. Ushul merupakan prinsip yang disepakati (muttafaq ‘alaih), sedangkan furu’ adalah wilayah yang memungkinkan adanya perbedaan pendapat (mukhtalaf fihi).

 

"Pemahaman ini penting agar para dai tidak bersikap kaku atau reaktif dalam menghadapi dinamika keberagamaan di negara tujuan," kata Kiai Zulfa.

 

Sekretaris LD PBNU Nurul Badruttamam memastikan program Nahdlatul Ulama Worldwide Dakwah akan terus dikembangkan.

 

"Ke depan, program ini direncanakan bersinergi dengan sejumlah kementerian dan lembaga terkait, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), BPKH, serta Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi)," urai Kiai Nurul.


Adapun nama-nama Dai Go Global beserta penugasannya dalam program tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Muhammad Afif Agus (Australia)
  2. Muhammad Kholid (Selandia Baru)
  3. Ahmad Muhajir (Hong Kong)
  4. Muhammad Kholil (Hong Kong)
  5. Mohammad Khoiron (Jepang)
  6. Saiful Amar (Jepang)
  7. Dede Dendi (Jerman)
  8. Abdul Fattah Fahruddin (Timor Leste)
  9. Ahmad Giyamul Lail (Korea Selatan)
  10. Acep Sutisna (Korea Selatan)
  11. Anif Khanafi (Korea Selatan)
  12. Basyir Arif (Korea Selatan)
  13. Mahfud Ali Baihaki (Korea Selatan)
  14. Mahmud Salim (Korea Selatan)
  15. Mochammad Ibnu Rusyd Alfarabi (Korea Selatan)
  16. Muhammad Hidayat (Korea Selatan)
  17. Ridwan Bahruddin (Korea Selatan)
  18. Tarekh Era El-Raisy (Korea Selatan)
  19. Mochamat Solikin (Taiwan)
  20. Muhammad Ibnu Kafa (Taiwan)
  21. Muhammad Taqiyudin (Taiwan)
  22. Muhammad Zainut Thalibin (Taiwan)
  23. Rifki Yusak (Taiwan)
  24. Ricky Habibullah (Taiwan).
 

Melalui program ini, PBNU berharap dakwah Islam moderat khas Indonesia semakin menguat di tingkat global dan menghadirkan nilai-nilai keislaman yang damai, inklusif, serta solutif bagi masyarakat internasional.