Internasional

Ramadhan di Masjid Al Muhajirin Pyeongtaek, Korea Selatan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 18:00 WIB

Ramadhan di Masjid Al Muhajirin Pyeongtaek, Korea Selatan

Dai NU bersama PCINU Korea Selatan (Foto: dok PCINU Korsel)

Bulan suci Ramadhan menjadi momentum istimewa bagi umat Islam di berbagai penjuru dunia. Bagi saya sendiri Ramadhan 1447 H ini terasa sangat istimewa sebab dapat memenuhi undangan dari PCINU Korea Selatan. Tugas saya adalah sebagai dai dan imam teraweh di salah satu masjid di Kota Pyeongtaek (dibaca: Piyongtek). Kota ini adalah sebuah kota penting di Provinsi Gyeonggi-do, bagian barat daya Korea Selatan. Kota ini berada sekitar 65 km di selatan Seoul dan dikenal sebagai kota industri dan militer internasional.


Masjid yang saya tempati ini bernama Masjid Al Muhajirin yang berarti orang-orang hijrah. Penyematan nama ini memiliki filosofi yang sangat mendalam, yaitu tempat berhijrahnya orang-orang yang hendak mendekatkan diri kepada Allah Swt, serta tempat membangun hubungan silaturrahmi antar-PMI (Pekerja Migran Indonesia) yang datang dari berbagai penjuru kota di Indonesia.

 

Masjid Al Muhajirin ini berada di flat lantai 3, di atas kafe,  dan berada di tengah-tengah keramaian kota, berdekatan dengan pasar dan stasiun Kota Pyeongtaek. Tujuannya untuk memudahkan para jamaah dan orang yang hendak shalat.


Menurut para pengurus PCINU Korea Selatan, dalam sejarahnya, masjid ini telah mengalami perpindahan tiga kali. Pada awal didirikan, masjid ini menyewa sebuah bangunan satu lantai di flat yang dekat dengan stasiun kereta. Setelah habis kontrak, masjid pindah ke bangunan yang sekarang saya tempati di lantai dua. Namun, dengan beberapa alasan, sang pemilik menyuruh pengurus masjid pindah ke lantai tiga, yang sampai sekarang menjadi tempat dakwah dan syiar agama di Kota Pyeongtaek.


Masjid ini bukan sekadar masjid biasa, tetapi memiliki badan usaha yang menunjang perkembangan dan kemakmuran masjid, yaitu sebuah kantin mini yang menjual berbagai aneka makanan menu halal. Tiap minggu kantin ini ramai dikunjungi dan dibeli oleh jamaah yang tinggal di asramanya masing-masing sebagai bekal kebutuhan mereka.


Hal yang unik dari jamaah masjid ini adalah kebanyakan datang dari berbagai kota yang jauh dari Kota Pyeongtaek. Bahkan, untuk sampai ke masjid ini harus menempuh waktu hingga tiga jam dengan transfer kereta dua hingga tiga kali dari tempat tinggal mereka.

 

Saya menanyakan alasan mereka memilih menjadi jamaah masjid ini, padahal jarak tempuhnya sangat jauh, sementara terdapat masjid yang lebih dekat dengan asrama mereka. Jawaban mereka bervariasi.


“Saya jadi jamaah sini karena keterpautan hati saya dengan masjid ini. Ada rasa nyaman dan tenang berada di masjid ini," kata seorang jamaah.

 

Sebagian jamaah yang lain menjawab, “Setelah saya menganggur mencari pabrik baru, saya datang ke sini dan berkat masjid ini pula saya mendapatkan pabrik baru yang lebih bagus dari semula.”


Di samping itu, kebersamaan dan kekompakan yang dibangun oleh jamaah Masjid Al Muhajirin menjadi alasan utama kebanyakan jamaah.

 

Alasan mereka menjadi jamaah tetap di masjid ini beragam. Di antaranya karena terpaut hatinya dengan masjid ini akibat keakraban yang dibangun oleh sesama PMI. Ada pula yang beralasan bahwa ketika ia mencari pabrik baru setelah cuti atau menganggur sementara, ia singgah di masjid ini dan menemukan kesejukan yang mendalam serta mendapatkan pekerjaan baru. Sehingga hatinya terpaut untuk terus menjadi jamaah di masjid ini meskipun jarak asrama tempat tinggal dengan masjid sangat jauh.


Satu hal y​​​​​ang terasa lebih unik lagi, ada sebagian jamaah yang sebenarnya berdekatan dengan masjid lain, tetapi tetap memilih menjadi jamaah di masjid ini. Selain alasan kedekatan hati dan persaudaraan, ia juga beralasan bahwa semakin jauh kaki melangkah ke masjid, semakin banyak pahala yang didapat. Subhanallah.


Di setiap akhir pekan bulan Ramadhan terdapat momen yang sangat spesial, yaitu suasana hangat penuh kebersamaan. Para jamaah berkumpul di masjid untuk mengikuti rangkaian kegiatan keagamaan yang dimulai dengan ngaji bersama sebelum berbuka, kemudian dilanjutkan dengan ifthor (buka puasa) bersama.


Berbagai hidangan sederhana dibuat oleh para jamaah untuk dinikmati bersama saat waktu berbuka tiba. Momen ini menjadi sangat berharga bagi para pekerja dan perantau, karena selain melepas dahaga setelah berpuasa, mereka juga dapat merasakan kehangatan perjumpaan dan silaturahmi di antara sesama Muslim.

 

Setiap akhir pekan, bagi sebagian jamaah yang sehari-hari bekerja di pabrik dengan waktu yang panjang dan tenaga yang terkuras, pertemuan di masjid ini menjadi pengobat rindu akan suasana kebersamaan seperti di kampung halaman. Tawa, cerita, dan saling menyapa menghadirkan kehangatan yang menguatkan hati di tengah kehidupan perantauan.


Setelah ifthor bersama, kegiatan dilanjutkan dengan shalat isya’ dan teraweh, kemudian dilanjutkan dengan kajian kitab kuning yang membahas berbagai ilmu keislaman. Para jamaah mengikuti kajian dengan penuh perhatian, menjadikan kesempatan ini sebagai sarana menambah ilmu dan memperkuat pemahaman agama.


Suasana semakin khidmat ketika kegiatan dilanjutkan dengan tadarus Al-Quran bersama. Lantunan ayat-ayat suci Al-Quran menggema di dalam masjid, menghadirkan ketenangan spiritual di tengah hiruk-pikuk kehidupan negeri industri.


Meskipun berada di tengah negara yang mayoritas non-Muslim, semangat ukhuwah Islamiyah terasa sangat kuat di Masjid Al Muhajirin Pyeongtaek. Ramadhan menjadi waktu yang mempererat persaudaraan, menguatkan iman, serta menghadirkan kehangatan silaturahmi bagi para Muslim yang menjalani kehidupan sebagai perantau di Korea Selatan.


Moh. Fathurrozi, Ketua Prodi Ilmu Al Qur'an dan Tafsir di Fakultas Dakwah dan Ushuluddindi IAI Al Khoziny Buduran, Dai Go Global LD PBNU 2026 dengan penguasan ke Korea Selatan