Internasional

Sepi Tanpa Takbiran, Cerita WNI Jalani Lebaran Pertama di Jepang

Senin, 23 Maret 2026 | 20:00 WIB

Sepi Tanpa Takbiran, Cerita WNI Jalani Lebaran Pertama di Jepang

Suasana Idul Fitri di Masjid Indonesia Nagoya Jepang. (Foto: Nur Fuadah)

Gifu, NU Online

 

Di sudut sebuah kota di Prefektur Gifu, gema takbir yang biasanya menggetarkan hati di tanah air terasa nyaris tak terdengar. Tahun ini menjadi kali pertama Nur Fuadah merayakan Idul Fitri jauh dari kampung halaman dan keluarga.

 

Perempuan yang merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) asal Desa Amongrogo, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Jawa Tengah ini pernah aktif sebagai Wakil Ketua Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Limpung periode 2020–2022. Kini, ia bekerja sebagai day service, yakni layanan harian perawatan lansia di Prefektur Gifu, Jepang.

 

Keputusan untuk tidak pulang di momen lebaran bukan perkara mudah. Ia mengaku harus mempertimbangkan biaya perjalanan yang cukup besar.

 

“Tahun ini adalah tahun pertama saya di Jepang. Pulang ke Indonesia pastinya memerlukan biaya yang cukup mahal, jadi saya memutuskan untuk tidak mudik,” ungkap Nur Fuadah kepada NU Online Ahad (22/3/2026).

 

Lebaran yang biasanya identik dengan berkumpul dengan keluarga serta silaturahim, menurutnya, kini terasa sangat berbeda.

 

“Sepi, tidak ada gema takbir, tidak ada kehangatan keluarga dan pastinya tidak ada opor ketupat,” ujar Alumni Universitas Islam Negeri KH Abdurrahman Wahid Pekalongan itu.

 

Meski demikian, pengalaman tersebut justru memberinya pelajaran berharga tentang bagaimana menjalani Idul Fitri sebagai bagian dari minoritas Muslim di Jepang.

 

“Di Jepang saya belajar satu hal, merayakan Idul Fitri sebagai kaum minoritas pastinya tidak mudah. Perlu adanya aturan-aturan yang kudu ditaati. Terlebih kami sebagai pendatang harus menjunjung tinggi bumi yang kita pijak,” jelasnya.

 

Ia juga menggambarkan suasana pelaksanaan shalat Idul Fitri yang berbeda dibandingkan di Indonesia.

 

“Shalat Idul Fitri dilakukan dengan keheningan dan kami harus mengantre shalat dengan tertib tanpa mengganggu masyarakat lokal,” katanya.

 

Beruntung, keberadaan komunitas Muslim dan warga Indonesia di Jepang cukup membantu. Informasi terkait pelaksanaan shalat Idul Fitri ia dapatkan dari jaringan pertemanan hingga organisasi seperti PCINU Jepang.

 

“Alhamdulillah di Jepang banyak masjid yang menyelenggarakan shalat Idul Fitri. Infonya kita dapatkan dari teman-teman komunitas dan organisasi masyarakat seperti PCINU Jepang,” ujarnya.

 

Setelah melaksanakan shalat Idul Fitri, ia memilih menghabiskan waktu dengan cara sederhana bersama teman-teman.

 

“Saya sendiri hanya melaksanakan shalat Id, setelah itu berkumpul dengan teman-teman. Opor, ketupat, dan nastar saya tidak sempat membuatnya,” katanya.

 

Di tengah suasana perantauan, momen yang paling ia rindukan tetaplah kebersamaan dengan keluarga.

 

“Pastinya momen berkumpul dengan keluarga,” ucapnya.

 

Pada hari yang fitri itu, ia juga tidak lupa menghubungi orang terdekatnya di kampung halaman. “Ibu saya, beliau orang pertama yang saya hubungi untuk memohon maaf,” tuturnya.

 

Untuk mengurangi rasa sepi, ia menyiasatinya dengan bertemu sesama teman perantau. “Meet up dengan teman-teman, hal ini bisa mengurangi rasa sepi,” katanya.

 

Lebaran kali ini menjadi pengalaman pertama sekaligus paling berkesan baginya selama berada di luar negeri. “Ini pertama kalinya saya merayakan Lebaran di perantauan dan menjadi Lebaran paling berkesan,” ungkapnya.

 

Meski telah beradaptasi dengan kehidupan di Jepang, harapan untuk pulang tetap ia simpan. “Jika tidak ada halangan, harapannya ingin pulang. Ingin berkumpul dengan keluarga,” pungkasnya.