Internasional

UNICEF: 300 Anak Tewas di Gaza dalam 300 Hari, Serangan Pemukim di Tepi Barat Terus Berlanjut

Jumat, 7 Agustus 2026 | 13:00 WIB

UNICEF: 300 Anak Tewas di Gaza dalam 300 Hari, Serangan Pemukim di Tepi Barat Terus Berlanjut

Iring-iringan mengantar jenazah anak-anak Gaza Palestina korban genosida Israel. (Foto: WAFA)

Jakarta, NU Online

Sedikitnya 300 anak Palestina dilaporkan tewas di Jalur Gaza dalam kurun 300 hari terakhir atau rata-rata satu anak meninggal setiap hari akibat serangan militer Israel yang terus berlangsung. Data tersebut disampaikan United Nations Children's Fund (UNICEF) pada Kamis (6/8/2026) seperti dilansir Arab News.


UNICEF juga melaporkan ratusan anak lainnya mengalami luka-luka dalam periode yang sama akibat serangan artileri, tembakan, maupun serangan dari laut.


Sementara itu, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan atau United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) menyebut anak-anak di Gaza masih hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Mereka menghadapi kepadatan di tempat-tempat pengungsian serta keterbatasan akses terhadap air bersih dan layanan kesehatan.


Di Tepi Barat yang diduduki, OCHA mencatat serangan pemukim Israel dan operasi militer Israel terus berdampak pada kehidupan warga Palestina, termasuk merusak rumah serta sumber mata pencaharian mereka.


Pada Rabu malam, pemukim Israel dilaporkan membakar sejumlah rumah di komunitas Palestina Tuba, kawasan Masafer Yatta, Hebron. Serangan tersebut memaksa tiga keluarga yang terdiri atas 14 anak mengungsi dan berlindung di rumah kerabat maupun tetangga.


Selain itu, beberapa warga dilaporkan mengalami luka-luka, termasuk dua anak. OCHA juga menyebut sistem pembangkit listrik tenaga surya serta sekitar 10 ton pakan ternak hancur bersama berbagai aset milik warga lainnya.


Sejak awal Januari hingga akhir Juli 2026, OCHA mendokumentasikan lebih dari 1.380 insiden yang melibatkan pemukim Israel. Insiden-insiden tersebut mengakibatkan korban jiwa, korban luka, kerusakan properti, atau kombinasi dari ketiganya. Jumlah itu setara dengan rata-rata enam hingga tujuh insiden setiap hari yang terjadi di sekitar 250 komunitas Palestina.


Dalam periode yang sama, lebih dari 2.300 warga Palestina terpaksa mengungsi akibat serangan pemukim dan pembatasan akses yang menyertainya.


OCHA kembali menegaskan bahwa warga Palestina di wilayah pendudukan harus memperoleh perlindungan. Lembaga tersebut juga mendesak agar para pelaku kekerasan dimintai pertanggungjawaban sesuai ketentuan hukum yang berlaku.


Di Kegubernuran Yerusalem, ribuan warga Palestina di Kamp Qalandia masih berada dalam kondisi terisolasi untuk hari kedua berturut-turut setelah pasukan Israel melancarkan operasi militer berskala besar di kawasan tersebut.


Menurut OCHA, para pekerja kemanusiaan hingga kini belum dapat mengakses kamp tersebut secara aman. Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan warga serta kemampuan mereka memperoleh layanan darurat, mengakses pelayanan dasar, dan menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk pergi ke tempat kerja.