KH Ubaidullah Shodaqoh: Sejak Berdiri, NU Telah Mainkan Peran di Tingkat Global
Ahad, 5 April 2026 | 16:00 WIB
Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, KH Ubaidillah Shodaqoh saat berikan tausyiahnya di Halal Bihalal PCNU Kudus (Foto: dokumentasi)
Kudus, NU Online Jateng
Seruan peran strategis Nahdlatul Ulama (NU) dalam isu global kembali mengemuka dalam forum Halal Bihalal PCNU Kudus yang digelar pada Rabu (1/4/2026) di Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Qur’an.
Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, KH Ubaidullah Shodaqoh, menegaskan bahwa sejak awal berdirinya, NU tidak hanya bergerak di level lokal, tetapi telah memberi pengaruh nyata dalam konstelasi global.
Dalam tausiahnya, ia mengingatkan kembali peristiwa historis Komite Hijaz sebagai tonggak diplomasi internasional ulama NU. Kala itu, para kiai melakukan lobi kepada penguasa Arab Saudi guna mempertahankan situs-situs penting Islam, termasuk makam Rasulullah saw yang terancam dibongkar.
“Sejak berdiri, NU sudah terlibat dalam percaturan global. Komite Hijaz menjadi bukti bagaimana para ulama menjaga simbol mahabbaturrasul—cinta mendalam kepada Nabi Muhammad saw,” tegasnya.
Menurutnya, langkah tersebut bukan sekadar upaya menjaga warisan sejarah, melainkan juga bentuk ikhtiar merawat ikatan spiritual umat Islam dengan Rasulullah sebagai sumber keteladanan.
Kiai Ubaid menambahkan, semangat mahabbaturrasul yang diwariskan para ulama harus terus dihidupkan dalam konteks kekinian. Menjaga jejak Rasul, kata dia, tidak berhenti pada simbol fisik, tetapi juga diwujudkan dalam menjaga nilai-nilai kemanusiaan, perdamaian, dan keberlanjutan kehidupan.
“Jika dahulu ulama menjaga jejak Rasul di Tanah Suci, hari ini kita memiliki tanggung jawab menjaga peradaban dunia dari kerusakan, baik akibat konflik maupun krisis lingkungan,” ujarnya.
Pesan ini dinilai relevan dengan situasi global yang tengah diwarnai konflik antarnegara dan krisis kemanusiaan lintas batas.
Sementara itu, Rais Syuriah PCNU Kudus, KH M Ulil Albab Arwani, mengajak warga NU untuk terus menghidupkan tradisi keagamaan an-Nahdliyah di masjid, pesantren, dan mushala sebagai pusat penguatan spiritual.
Ketua PCNU Kudus, HM Asyrofi Masyito, juga menekankan pentingnya menjaga soliditas organisasi sebagai fondasi gerakan.
“Setelah saling memaafkan, kita kembali pada semangat khidmah. Dari sinilah NU bisa terus memberi manfaat yang lebih luas,” ujarnya.
Selengkapnya klik di sini.