Rais Syuriyah PWNU Jateng: Demak Harus Jadikan Walisongo sebagai Spirit Dasar Pergerakan
Selasa, 3 Februari 2026 | 08:00 WIB
Rais Syuriyah PWNU Jateng, KH Ubaidillah Shodaqoh, saat berikan mauidhoh hasanah di peringatan Harlah NU MWCNU Dempet Demak. (Foto: dokumentasi)
Demak, NU Online Jateng
Nuansa haru, khidmat, dan semangat kekeluargaan mewarnai peringatan Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama (NU) ke-1 Abad Masehi di tingkat Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Dempet, Kabupaten Demak, Ahad (1/2/2026).
Kegiatan tersebut digelar di halaman Gedung Kantor MWCNU Dempet yang masih dalam proses pembangunan, berlokasi di Dukuh Tempel, Desa Balerejo. Ratusan warga NU dari berbagai unsur—mulai pengurus Ranting, Syuriyah, Tanfidziyah, hingga seluruh Badan Otonom (Banom) se-Kecamatan Dempet—tampak memadati lokasi sejak siang hari.
Dalam tausiyahnya, Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh mengajak seluruh hadirin mensyukuri keistimewaan tanah Demak sebagai pusat peradaban Islam pertama di Pulau Jawa melalui Kerajaan Islam Bintoro. Menurutnya, Demak bukan sekadar wilayah administratif, tetapi tanah yang diberkahi karena menjadi pusat dakwah Wali Songo.
“Demak dipilih Allah swt sebagai pusat peradaban Islam di Jawa. Ini bukan kebetulan, tapi amanah sejarah. Maka NU di Demak harus menjadikan warisan Wali Songo ini sebagai spirit dasar pergerakan,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa rasa syukur tidak cukup diwujudkan lewat seremonial, melainkan dengan menjaga tradisi amaliyah para ulama, memperkuat fikrah (pemikiran) dan harakah (gerakan) ke-NU-an agar tetap kontekstual dan responsif terhadap perkembangan zaman.
Kiai Ubaid juga menekankan pentingnya soliditas organisasi. Menurutnya, tidak ada manusia yang sempurna kecuali Rasulullah saw, sehingga perbedaan dan kekurangan antar pengurus harus disikapi dengan saling memahami.
“Jangan mudah saling menyalahkan. Fokuslah pada khidmah. Jangan larut dalam polemik politik di tingkat pusat. Tugas kita adalah melayani umat,” ujarnya.
Bahkan dengan nada tegas, ia menyampaikan pesan kemanusiaan yang kuat. “Jika di wilayah NU Dempet ini ada satu orang saja yang tidak makan dalam sehari, maka lebih baik NU di wilayah itu dibubarkan,” katanya, yang disambut haru para hadirin.
Terkait pembangunan Gedung Kantor MWCNU Dempet, pengasuh pesantren Al Itqon Bugen Semarang ini meminta agar seluruh elemen NU memiliki komitmen yang bulat. Ia menargetkan pembangunan bisa dituntaskan dalam waktu lima bulan ke depan, agar segera dimanfaatkan sebagai pusat pelayanan umat.
“Gedung ini harus menjadi washilah untuk menggapai ghoyah, yakni khidmah kepada jamaah dan masyarakat,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, Kiai Ubaid juga memberi teladan langsung. Saat ada pedagang keliling melintas di tengah acara, beliau spontan mengeluarkan uang dari pecinya untuk berinfaq—sebuah isyarat kepedulian sosial yang sederhana namun sarat makna.
Sebelumnya, Ketua Panitia Pembangunan Gedung, KH Muhammad Roghib, melaporkan bahwa panitia telah melelang 30 tiang MWCNU dengan nilai Rp1,5 juta per tiang. Selain itu, terdapat wakaf tanah dengan nilai taksiran Rp400 ribu per meter persegi.
Selengkapnya klik di sini.