Jatim

Ketua PWNU Jatim Sebut Peringatan Harlah 1 Abad NU sebagai Wujud Syukuri Perjalanan

Kamis, 8 Januari 2026 | 08:00 WIB

Ketua PWNU Jatim Sebut Peringatan Harlah 1 Abad NU sebagai Wujud Syukuri Perjalanan

Ketua PWNU Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz. (Foto: tangkap layar NU Jatim Channel)

Malang, NU Online Jatim

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz. menyampaikan bahwa tasyakuran Hari Lahir (Harlah) 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU) versi Masehi merupakan momentum yang mungkin tidak pernah terbayangkan oleh para muassis. Menurutnya, peringatan ini bukan hanya untuk mengenang sejarah, tetapi juga untuk mensyukuri dan menikmati perjalanan NU hingga mencapai usia satu abad.


Hal tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan dalam Kick Off Harlah 1 Abad NU versi Masehi yang diselenggarakan PWNU Jatim bertajuk 'Memperkokoh Jam’iyah Tradisi, Kontribusi, dan Meningkatkan Peradaban'. Kegiatan ini dipusatkan di Auditorium Prof Dr KH M Tolchah Hasan Universitas Islam Malang (Unisma), Rabu (7/1/2026).


“Satu Abad NU ini sesuai dengan penanggalan Masehi. Tema memperkokoh jam’iyah adalah wujud semangat NU yang sejak awal didirikan sebagai rumah besar bersama,” ujarnya.


Gus Kikin sapaan akrabnya menerangkan, NU didirikan pada tahun 1926 sebagai jam’iyah yang mandiri. Pada masa penjajahan Belanda, NU tidak mungkin berkolaborasi dengan pemerintah. Kondisi tersebut sangat berbeda dengan masa kini.


“Sekarang situasinya lebih kondusif. NU mengadakan kegiatan, mengundang gubernur, wali kota, dan bupati. Ini menunjukkan keakraban antara ulama dan umara. Jam’iyah NU didirikan sebagai rumah bagi seluruh umat Islam di Indonesia,” terangnya.


Gus Kikin menegaskan bahwa, NU tidak hanya diperuntukkan bagi kalangan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) semata, tetapi bersifat inklusif. Ia mengingat pesan Hadratusyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Qonun Asasi yang mengajak seluruh lapisan masyarakat baik kaya atau miskin untuk sama-sama bergabung dalam Nahdlatul Ulama dengan landasan cinta, kasih sayang, dan persatuan.


“Tidak ada organisasi di dunia ini yang arwah para pendirinya turut berkumpul. Muassis NU mengajarkan agar berkumpul tidak hanya dengan jasad, tetapi juga menghadirkan arwah dan hati. Jika itu dilakukan, maka seharusnya tidak ada pertengkaran di NU,” ungkapnya.


Selengkapnya klik di sini.