MBG Tetap Dibagikan Selama Ramadhan, Ahli Gizi Soroti Risiko Ultra-Processed Food
Kamis, 19 Februari 2026 | 14:30 WIB
Jakarta, NU Online
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipastikan tetap berjalan selama bulan Ramadhan. Kebijakan tersebut dinilai sebagai bentuk komitmen agar layanan pemenuhan gizi anak tidak terputus, meski menghadapi sejumlah tantangan teknis dan operasional.
Angga Rizqiawan, dosen Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, menilai keputusan tersebut pada dasarnya positif. Namun, ia menekankan bahwa pelaksanaan MBG di bulan puasa membutuhkan penyesuaian yang matang.
“Umumnya MBG diberikan pada waktu makan siang. Sementara pada bulan puasa, dengan mayoritas sasaran menjalankan ibadah puasa, waktu tersebut menjadi kurang relevan untuk dikonsumsi saat itu,” ujar Angga kepada NU Online, Selasa lalu.
Tantangan Menu Kering dan Ultra-Processed Food
Menurutnya, apabila menu disesuaikan menjadi makanan kering untuk dibawa pulang, tantangan utama adalah memastikan makanan tidak didominasi produk ultra-processed food (UPF). Komposisi menu tetap harus memenuhi prinsip gizi seimbang dan keberagaman pangan secara konsisten selama kurang lebih 30 hari.
Ia juga menyoroti aspek daya terima. Jika makanan ditujukan untuk berbuka, sebagian anak mungkin lebih memilih makanan yang disiapkan keluarga, sehingga kontribusi MBG terhadap asupan harian bisa bervariasi.
“Yang terpenting bukan sekadar program tetap berjalan, tetapi bagaimana program tetap bermanfaat,” tegasnya.
Selain itu, format makanan kering berpotensi menyulitkan pemenuhan zat gizi tertentu seperti serat, vitamin, dan mineral. Beberapa produk kering juga cenderung lebih tinggi gula atau garam sehingga pemilihan jenis pangan harus dilakukan secara cermat agar tetap selaras dengan prinsip gizi seimbang.
Monitoring dan Evaluasi Perlu Adaptif
Angga menegaskan bahwa dalam tahapan intervensi gizi, kepatuhan konsumsi dan ketercapaian sasaran merupakan aspek krusial. Pada konteks Ramadhan, mekanisme pemantauan berpotensi lebih sulit sehingga perlu skema monitoring yang realistis dan adaptif.
Beberapa indikator yang dapat dipantau antara lain:
- Asupan zat gizi, melalui recall 3x24 jam atau food record secara berkala.
- Status gizi, seperti berat badan, tinggi badan, dan IMT menurut umur.
- Kondisi fungsional, seperti keluhan lemas, konsentrasi belajar, serta frekuensi sakit atau ketidakhadiran siswa.
Ia mencontohkan evaluasi dapat dilakukan sebelum, pertengahan, dan setelah Ramadhan untuk melihat dampak program terhadap status gizi dan fungsi belajar anak.
“Dengan pendekatan ini, penilaian menjadi lebih seimbang, tidak hanya menilai program diberikan, tetapi juga program berdampak,” jelasnya.
Penyesuaian Waktu dan Logistik
Angga menambahkan, kebutuhan gizi harian anak tetap sama saat berpuasa maupun tidak. Yang berubah adalah waktu makan serta penyesuaian porsi dan frekuensi konsumsi agar kebutuhan gizi terpenuhi dalam rentang waktu lebih singkat antara berbuka dan sahur.
Penyesuaian waktu distribusi, misalnya mendekati waktu berbuka atau melalui skema konsumsi di rumah, layak dipertimbangkan. Namun, hal tersebut harus dibarengi dengan pertimbangan keamanan pangan, kelayakan distribusi, daya terima, serta kepatuhan konsumsi.
Ia juga mengingatkan risiko standar gizi jika bahan MBG dibawa pulang tanpa monitoring ketat, termasuk memastikan bahan benar diprioritaskan untuk anak dan dikonsumsi sesuai tujuan program.
Perlu Siklus Perbaikan Berkelanjutan
Jika kebijakan ini berlanjut setiap tahun, Angga menilai penting adanya siklus monitoring, evaluasi, perbaikan berkelanjutan. Beberapa aspek yang perlu diperkuat antara lain:
- Monitoring dan evaluasi terprogram serta transparan.
- Keamanan pangan dan higiene sanitasi.
- Pembinaan kapasitas pelaksana.
- Mekanisme pelaporan dan umpan balik dari sekolah, orang tua, dan siswa.
“Dengan perbaikan tersebut, program dapat semakin kuat dari sisi manfaat, tata kelola, dan penerimaan masyarakat,” pungkasnya.