Kesehatan

Minyak Ikan: Ikhtiar Mencegah Diabetes LADA dalam Thibbun Nabawi

Rabu, 24 Juni 2026 | 14:40 WIB

Minyak Ikan: Ikhtiar Mencegah Diabetes LADA dalam Thibbun Nabawi

Minyak ikan. Sumber: Canva.

Diabetes Melitus, atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai kencing manis, masih menjadi salah satu problem kesehatan yang belum selesai hingga hari ini. Penyakit ini tidak hanya mengganggu kadar gula darah, tetapi juga memengaruhi stamina, daya tahan tubuh, dan kualitas hidup seseorang.


Selama ini masyarakat lebih banyak mengenal Diabetes Melitus tipe 1 dan tipe 2. Namun, ada satu jenis diabetes lain yang juga mulai banyak diperhatikan, yaitu Latent Autoimmune Diabetes in Adult atau LADA. Penyakit ini sering disebut sebagai diabetes tipe 1,5 karena memiliki karakteristik yang berada di antara diabetes tipe 1 dan tipe 2.


Salah satu keluhan yang sering dialami penderita diabetes adalah tubuh terasa lemas dan kurang bertenaga. Hal ini terjadi karena gula darah tidak dapat dimanfaatkan sel tubuh secara optimal sebagai sumber energi. Akibatnya, stamina mudah menurun, aktivitas terganggu, dan tubuh cepat lelah.


Karena itu, pembahasan tentang diabetes tidak cukup hanya berhenti pada pengobatan. Pencegahan juga sangat penting. Salah satu hal yang menarik untuk dibahas adalah peran makanan bergizi, terutama ikan berlemak dan minyak ikan, dalam membantu menjaga kesehatan tubuh.


Pertanyaannya, apakah minyak ikan dapat membantu menurunkan risiko LADA dan diabetes lainnya? Apakah kandungan gizinya juga bermanfaat untuk meningkatkan stamina? Dan bagaimana menariknya, dalam tradisi Islam, ada keterangan hadits tentang makanan pertama penduduk surga yang berhubungan dengan hati ikan Hūt?


Minyak Ikan dan Potensinya untuk Mencegah LADA

LADA atau diabetes tipe 1,5 merupakan penyakit autoimun yang menyerang sel penghasil insulin di pankreas. Pada kondisi ini, tubuh secara perlahan mengalami gangguan dalam mengatur gula darah. Karena sifatnya yang berkembang secara perlahan, LADA sering kali tidak teridentifikasi sejak awal.


Salah satu nutrisi yang banyak dikaitkan dengan kesehatan metabolik adalah omega-3. Nutrisi ini banyak terdapat pada ikan berlemak dan minyak ikan. Dalam pola makan modern, konsumsi ikan juga menjadi bagian penting dari Diet Mediterania, yaitu pola makan yang dikenal baik untuk kesehatan jantung, pembuluh darah, tekanan darah, dan metabolisme tubuh.


Hasil penelitian di Swedia menunjukkan bahwa konsumsi ikan berlemak berpotensi menurunkan risiko LADA. Dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa konsumsi lebih dari satu porsi ikan berlemak setiap minggu berkaitan dengan penurunan risiko LADA. Penelitian ini dilakukan oleh Lofvenborg dkk. dengan judul “Fatty fish consumption and risk of latent autoimmune diabetes in adults,” yang diterbitkan dalam Nutrition & Diabetes, 20 Oktober 2014; 4(10): e139, doi: 10.1038/nutd.2014.36.


Temuan ini tentu tidak berarti bahwa minyak ikan adalah obat tunggal untuk diabetes. Namun, ia menunjukkan bahwa pola makan yang kaya ikan berlemak dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk menjaga kesehatan, terutama bila disertai pola hidup yang baik, aktivitas fisik, tidur yang cukup, dan pemeriksaan kesehatan secara berkala.


Hati Ikan, Omega-3, dan Nutrisi Penting Lainnya

Salah satu bagian ikan yang kaya minyak adalah hati. Pada jenis ikan tertentu, terutama ikan besar dan ikan berlemak, minyak tidak hanya terdapat pada daging, tetapi juga pada hati dan organ lainnya. Ikan seperti tuna, sidat, sardin, lemuru, cucut, beberapa jenis hiu, pari, dan ikan besar lainnya dikenal memiliki kandungan minyak yang bermanfaat.


Jenis-jenis ikan tersebut tidak seluruhnya berasal dari kelompok yang sama. Ada ikan bertulang lunak, ikan sejati, dan ada pula mamalia laut yang bentuk tubuhnya menyerupai ikan. Ikan sejati bernapas dengan insang, sedangkan mamalia laut seperti paus bernapas dengan paru-paru. Meski demikian, keduanya sama-sama dikenal memiliki kandungan minyak dan nutrisi tertentu pada jaringan tubuhnya.


Hati dan daging ikan berlemak mengandung banyak nutrisi yang bermanfaat, seperti omega-3, vitamin A, vitamin D, squalene, dan berbagai zat lain yang baik untuk kesehatan. Kandungan inilah yang membuat ikan berlemak sering dibahas dalam ilmu gizi, farmasi, dan kesehatan masyarakat.


Dalam bahasa Arab, ikan besar sering disebut dengan istilah Hūt (حوت). Istilah ini dapat mencakup ikan besar seperti hiu, paus, dan jenis ikan besar lainnya. Penggunaan istilah Hūt bersifat relatif, sehingga dapat merujuk pada binatang laut berukuran besar yang dikenal dalam konteks bahasa Arab klasik.


Hati Ikan Hūt dalam Hadits

Menariknya, dalam hadits disebutkan bahwa makanan pertama penduduk surga adalah tambahan dari hati ikan Hūt. Tentu, makanan surga tidak dapat disamakan dengan makanan dunia. Namun, keterangan ini menunjukkan gambaran istimewa tentang organ hati ikan Hūt dalam tradisi Islam.


Dalam hadits riwayat Imam Bukhari disebutkan:


أَوَّلُ شَيْءٍ يَأْكُلُهُ أَهْلُ الْجَنَّةِ زِيَادَةُ كَبِدِ الْحُوْتِ


Artinya, “Sesuatu yang pertama kali dimakan oleh penduduk surga adalah tambahan hati ikan Hūt.” (HR. Bukhari)

Ibnu Hajar menjelaskan bahwa makanan pertama yang akan dimakan oleh penghuni surga adalah lobus tambahan hati ikan Hūt. Lobus tambahan ini merupakan bagian yang menggantung pada hati, dan dalam penjelasan ulama disebut sebagai bagian yang sangat lezat dan memuaskan.


Dalam kajian biologi, bagian yang disebut sebagai tambahan pada hati ikan dapat dikaitkan dengan lobus kaudatif, yaitu organ tambahan yang terletak di antara lobus hati kanan dan lobus hati kiri. Pada ikan hiu karang, deskripsi morfologi hati ini pernah dibahas oleh De Melo dkk. dalam “Morphological description of blue shark liver, Prionace glauca (Linnaeus, 1758), Elasmobranchii, Carcharhiniformes,” yang diterbitkan dalam International Journal of Advanced Engineering Research and Science 6(5), 286–290, tahun 2019.


Dengan pengertian Hūt sebagai ikan besar, hiu karang, cucut, dan jenis ikan besar lainnya dapat termasuk dalam cakupan istilah tersebut. Namun, sekali lagi, hati ikan Hūt yang menjadi makanan penduduk surga tentu memiliki hakikat dan kenikmatan yang berbeda dari apa yang ada di dunia.


Vitamin D, LADA, dan Kesehatan Tubuh

Selain omega-3, minyak ikan juga dikenal mengandung vitamin D. Vitamin ini sangat penting untuk kesehatan tulang, daya tahan tubuh, dan fungsi metabolisme. Dalam beberapa kajian, vitamin D juga dikaitkan dengan kesehatan autoimun, termasuk pada diabetes autoimun seperti LADA.


Penelitian Morelatau dkk. membahas kemungkinan peran vitamin D sebagai strategi tambahan dalam pengelolaan diabetes autoimun, termasuk LADA. Kajian tersebut diterbitkan dengan judul “Vitamin D Supplementation as a Therapeutic Strategy in Autoimmune Diabetes: Insights and Implications for LADA Management,” dalam Nutrients, 16(23): 4072, tahun 2024.


Meski hasilnya menjanjikan, penggunaan vitamin D tetap perlu dipahami secara proporsional. Vitamin D bukan pengganti pengobatan diabetes. Suplementasi juga sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan tubuh dan, bila perlu, dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan, terutama bagi orang yang sudah memiliki penyakit tertentu atau sedang menjalani terapi medis.


Squalene: Kandungan Minyak Ikan yang Dikaitkan dengan Stamina

Kandungan lain yang menarik dari minyak ikan tertentu adalah squalene. Zat ini berbentuk cairan mirip minyak, tetapi tidak mudah membeku ketika dimasukkan ke dalam freezer. Squalene banyak dibahas karena potensinya dalam mendukung kesehatan tubuh.


Beberapa manfaat yang sering dikaitkan dengan squalene antara lain membantu memperlancar peredaran darah, mendukung penurunan kadar kolesterol, digunakan sebagai bahan kosmetik untuk kesehatan kulit, serta memiliki potensi antiradang dan antikanker. Squalene juga dikenal dalam beberapa tradisi kesehatan di Asia Timur, termasuk Jepang, sebagai salah satu bahan bernilai tinggi.


Pada jenis ikan cucut seperti hiu botol atau Centrophorus atromarginatus, hati ikan diketahui mengandung squalene dalam jumlah besar. Ikan jenis ini banyak ditemukan di perairan Nusantara. Karena itu, minyak dari hati ikan cucut sering dikaitkan dengan manfaat untuk menjaga stamina, terutama bagi orang yang membutuhkan energi tambahan dalam bekerja atau beraktivitas berat.


Jenis hūṭ lain yang disebut memiliki kandungan squalene adalah paus sei atau paus balin. Penelitian Hashimoto dan Namuro menunjukkan bahwa minyak dari paus balin mengandung squalene. Penelitian tersebut berjudul “Unsaponifiable Matter of Sei-Whale Blubber Oil Presence of Pristane and Squalene,” diterbitkan dalam Yukagaku Oil Chemistry, Vol. 16, No. 12, halaman 657–661, tahun 1967.


Namun, terdapat catatan menarik dari sisi anatomi. Penelitian disertasi doktoral Massaro dari Universitas Charles menyebutkan bahwa hati ikan paus dikategorikan sebagai hati tidak berlobus. Keterangan ini terdapat dalam disertasi “Repopulation of decellularized scaffold with cells: Development and optimization of repopulation techniques for engineering functional vessel and liver tissue,” Charles University, Republik Ceko, tahun 2025, halaman 43. 


Cara Mengonsumsi Ikan Berminyak dengan Lebih Sehat

Bila dikaitkan dengan pencegahan LADA dan diabetes secara umum, konsumsi ikan berlemak dapat menjadi bagian dari pola makan yang sehat. Masyarakat dapat meningkatkan konsumsi ikan berminyak secara rutin, misalnya sekitar 3–5 porsi dalam satu minggu, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi tubuh masing-masing.


Manfaat pola konsumsi ikan tidak hanya berkaitan dengan diabetes, tetapi dengan kesehatan jantung dan pembuluh darah. Omega-3, vitamin D, dan zat gizi lain dalam ikan berlemak dapat mendukung fungsi tubuh dengan lebih baik bila dikonsumsi dalam pola makan seimbang.


Cara pengolahan juga penting. Ikan sebaiknya tidak terlalu sering digoreng, apalagi jika minyaknya digunakan berulang kali. Cara yang lebih baik adalah dipanggang, direbus, dibakar, dikukus, atau dipepes. Dengan cara ini, kandungan gizinya lebih terjaga dan tambahan lemak dari proses penggorengan dapat dikurangi.


Ikan berminyak yang mudah dijumpai oleh masyarakat antara lain sardin, lemuru, tuna, lele, dan sidat. Bila sulit mendapatkan ikan besar yang masuk dalam kategori Hūt, ikan-ikan lokal yang tersedia di pasar tetap dapat menjadi pilihan yang baik. Bagi yang ingin lebih praktis, kapsul minyak ikan juga dapat digunakan, tetapi sebaiknya tetap memperhatikan dosis, kualitas produk, serta kondisi kesehatan masing-masing.


Minyak ikan merupakan salah satu sumber nutrisi penting yang berpotensi mendukung kesehatan tubuh. Kandungan omega-3, vitamin D, dan squalene di dalamnya dapat berperan dalam menjaga metabolisme, mendukung stamina, dan membantu ikhtiar pencegahan penyakit tertentu, termasuk LADA, meskipun tetap tidak dapat menggantikan pemeriksaan dan penanganan medis.


Dalam perspektif Islam, pembahasan tentang hati ikan Hūt menjadi semakin menarik karena disebutkan dalam hadits sebagai makanan pertama bagi penduduk surga. Tentu, kenikmatan surga berada di luar jangkauan perbandingan dengan dunia. Namun, keterangan ini memberi ruang untuk merenungkan bahwa ciptaan Allah di laut menyimpan banyak rahasia, baik dari sisi nutrisi, kesehatan, maupun tanda-tanda kebesaran-Nya.


Karena itu, mengonsumsi ikan berminyak dengan cara yang sehat dapat menjadi bagian dari ikhtiar menjaga kesehatan tubuh. Di dunia, ia bermanfaat sebagai sumber nutrisi. Kelak di akhirat, hati ikan Hūt disebut sebagai bagian dari hidangan pembuka bagi penduduk surga. Wallahu a’lam bis shawab.


Ustadz Yuhansyah Nurfauzi, Apoteker dan peneliti farmasi.