Tren Hirup Whip Pink, Dokter Ingatkan Bahayanya: Bisa Picu Gangguan Jantung
Sabtu, 7 Februari 2026 | 16:00 WIB
Jakarta, NU Online
Peredaran Whip Pink, tabung kuliner berisi gas nitrous oxide (N₂O), kian meresahkan. Produk yang sejatinya digunakan dalam industri makanan, seperti pembuatan whipped cream, disalahgunakan untuk memperoleh efek euforia sesaat. Padahal, dampaknya terhadap kesehatan dinilai serius dan berpotensi fatal.
Dokter Spesialis Jantung Rumah Sakit Universitas Airlangga, Dian Paramita, menjelaskan bahwa nitrous oxide secara legal digunakan sebagai bahan pendukung di industri makanan dan minuman. Namun, dalam praktik penyalahgunaan, gas tersebut dihirup untuk mendapatkan sensasi singkat.
“Dalam konteks penyalahgunaan, N₂O dihirup untuk mendapatkan efek euforia singkat,” ujar Dian kepada NU Online, Sabtu (7/2/2026).
Menurutnya, bahaya utama nitrous oxide bukan berasal dari efek toksik langsung, melainkan dari dampak sekundernya, terutama hipoksia atau kekurangan oksigen. Salah satu mekanisme berbahaya adalah diffusion hypoxia, yakni kondisi ketika N₂O menggantikan oksigen di alveoli paru-paru saat dihirup, terutama jika digunakan di ruang tertutup atau dengan masker.
Akibatnya, saturasi oksigen dapat turun drastis hingga menyebabkan pingsan bahkan kematian. “Setelah paparan kadar tinggi, gas ini dapat berdifusi kembali ke alveoli dan mengencerkan oksigen alveolar, sehingga hipoksia semakin mudah terjadi jika tidak ada suplai oksigen memadai,” jelasnya.
Dari sisi kardiologi, hipoksia memicu respons kompensasi berupa peningkatan denyut jantung (takikardia) dan peningkatan kerja jantung untuk menjaga suplai oksigen ke organ vital. Kondisi ini juga dapat menyebabkan vasokonstriksi pulmonal yang meningkatkan beban bilik kanan jantung. Pada kasus berat, situasi tersebut berpotensi menimbulkan gagal jantung kanan hingga kolaps.
Selain itu, hipoksia dan asidosis dapat mengganggu stabilitas listrik miokard sehingga memicu gangguan irama jantung (aritmia). Penurunan kadar oksigen meningkatkan iritabilitas miokard dan risiko iskemia, khususnya pada individu dengan riwayat penyakit jantung koroner.
“Hipoksia dan tingginya kadar asam dalam darah dapat menurunkan stabilitas listrik miokard dan memicu aritmia,” terang Dian.
Ia menambahkan, lonjakan hormon stres (katekolamin), ketidakseimbangan gas darah, hingga gangguan elektrolit dapat memperburuk kondisi tersebut. Dalam praktiknya, faktor seperti dehidrasi, kurang tidur, konsumsi alkohol, atau penggunaan zat lain juga dapat memperbesar risiko aritmia.
Dalam jangka panjang, penyalahgunaan N₂O juga berisiko menyebabkan neurotoksisitas akibat inaktivasi vitamin B12, yang dapat memicu anemia megaloblastik. Kondisi ini meningkatkan beban kerja jantung, terutama pada pasien dengan cadangan fungsi jantung rendah.
Paparan hipoksia berulang pun dapat memperparah penyakit jantung yang telah ada, termasuk iskemia dan gagal jantung, serta meningkatkan risiko pembekuan darah seperti deep vein thrombosis (DVT) dan emboli paru.
Dian menegaskan, meskipun efek euforia yang ditimbulkan Whip Pink berlangsung singkat, risiko akutnya bisa sangat fatal, mulai dari hipoksia, asfiksia, hingga aritmia mendadak.
“Padahal mekanisme bahayanya langsung mengenai oksigenasi, yang merupakan determinan utama keselamatan jantung dan otak,” pungkasnya.