Pengasuh Pondok Kauman Lasem, KH Muhammad Zaim Ahmad Ma’shum pada kegiatan kegiatan Haflah Akhirussanah Pesantren Nurul Huda Salaf Pringsewu, Ahad (1/2/2026). (Foto: Istimewa)
Pringsewu, NU Online Lampung
Ilmu dan akhlak dalam proses pendidikan diibaratkan seperti meja dan kaki-kakinya. Akhlak yang didapat dari pendidikan menjadi bagian utama, seperti permukaan meja. Sedangkan ilmu pengetahuan yang didapat dari pengajaran menjadi penopang seperti kaki meja. Keduanya saling menguatkan untuk mewujudkan fungsi dari meja.
Paduan ilmu dan akhlak inilah menurut KH Muhammad Zaim Ahmad Ma’shum (Gus Zaim), Pengasuh Pondok Kauman Lasem menjadi kelebihan dari pesantren. Ia menyebut pesantren memadukan ilmu dan akhlak. Namun dalam pesantren, akhlak atau pendidikan tetap berada di posisi utama. Pengajaran ilmu berada di bawahnya, tetapi tetap menyatu dan saling menguatkan.
“Ibarat meja, permukaan meja adalah pendidikan atau akhlak, sedangkan kaki-kaki meja adalah pengajaran ilmu. Tanpa kaki meja, meja tidak bisa berdiri. Namun fungsi utama meja tetap pada permukaannya. Begitu pula pesantren, akhlak berada di atas, ilmu berada di bawah sebagai penopang,” katanya pada kegiatan Haflah Akhirussanah Pesantren Nurul Huda Salaf Pringsewu, Ahad (1/2/2026).
Gus Zaim mengatakan, ilmu dalam pesantren dipahami sebagai wasilah atau sarana menuju akhlak. Ilmu bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah terbentuknya iman yang kuat dan akhlak yang mulia. Jangan dibalik dengan menjadikan ilmu sebagai tujuan utama tanpa arah akhlak dan iman.
“Orang yang hanya mengagung-agungkan pikiran dan rasio semata tanpa bimbingan akhlak dan iman akan tersesat,” ungkapnya.
Lebih lanjut Gus Zaim menyampaikan bahwa pendidikan lebih bersifat pembentukan karakter, sedangkan pengajaran lebih bersifat verbal dan rasional. Pendidikan menanamkan iman, rasa, akhlak, dan amal. Sementara pengajaran menanamkan ilmu pengetahuan lahiriah. Pesantren memadukan keduanya, namun tetap menempatkan pendidikan karakter di posisi utama.
Menurutnya, pesantren memiliki keunikan yang tidak dimiliki lembaga pendidikan lain. Alumni pesantren memiliki ikatan moral yang kuat dengan pesantren dan kiainya.
“Ketika ada kegiatan seperti haul kiai, alumni datang tanpa harus diundang. Bagi santri, sekali menjadi santri, selamanya tetap santri. Tidak ada istilah mantan santri,” jelasnya.
Hubungan antara kiai dan santri bukan hanya hubungan akademik, tetapi hubungan moral dan batin. Santri dididik dengan kasih sayang, keteladanan, dan perhatian. Banyak kisah menunjukkan bagaimana kyai mendidik dengan pendekatan akhlak, bukan sekadar hukuman atau kemarahan.
Selengkapnya klik di sini.