Nasional

Akar Penyakit Pelit dan Obatnya ala Imam Al-Ghazali

Selasa, 3 Maret 2026 | 13:00 WIB

Akar Penyakit Pelit dan Obatnya ala Imam Al-Ghazali

Ilustrasi pelit. (Foto: NU Online/Freepik)

Jakarta, NU Online

 

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) mengatakan bahwa sifat pelit atau kikir bukan sekadar urusan manajemen keuangan yang ketat, melainkan sebuah penyakit kejiwaan yang berakar jauh di dalam batin manusia.

 

“Ketahuilah, sesungguhnya pelit itu sebabnya adalah hubbul mal atau cinta harta. Ini intinya," ujarnya dalam pengajian Ramadhan kitab Ihya' Ulum al-Din karya Imam Al-Ghazali yang ditayangkan melalui akun Youtube Ghazalia College, diakses pada Senin (2/3/2026).

 

Gus Ulil menyampaikan bahwa harta sebenarnya hanyalah sarana ibadah, namun sering kali manusia terjebak menjadikannya sebagai tujuan utama.

 

Menurutnya, ada dua penyebab utama seseorang menjadi kikir. Pertama, karena keinginan memenuhi syahwat yang dibarengi dengan panjang angan-angan. Orang merasa akan hidup selamanya sehingga terus menumpuk harta. Kedua, adanya rasa cinta yang berlebihan kepada keturunan.

 

“Anak itu bisa menjadi sumber sifat pelit. Seseorang berpikir, ‘Wah, saya harus mencukupi kebutuhan anak cucu saya,’ sehingga ia mendekap erat hartanya dan enggan berbagi,” tuturnya.

 

Ia mengutip sebuah hadits, “Anak itu adalah penyebab sifat pelit, penyebab ketakutan, dan penyebab kebodohan,” katanya.

 

Gus Ulil menekankan bahwa setiap penyakit batin harus dilawan. Jika pelit disebabkan oleh syahwat, maka obatnya adalah sikap qana’ah atau merasa cukup.

 

“Obatnya adalah dengan menanamkan kesadaran. Kita makan butuh berapa piring sih? Rumah butuh berapa meter? Kesadaran alqana’atu bil yasir atau merasa cukup dengan yang sedikit itulah kuncinya,” ucapnya.

 

Ia menyampaikan bahwa kematian adalah obat paling ampuh untuk memutus panjangnya angan-angan.

 

“Banyak orang yang banting tulang mengumpulkan harta, namun pada akhirnya juga akan meninggal dunia dan harta tersebut hanya menjadi rebutan ahli waris yang bisa jadi berakhir dengan berkelahian atau permusuhan,” tegasnya.

 

Gus Ulil menyampaikan bahwa segera mengeksekusi niat baik untuk bersedekah tanpa menunda-nunda. Ia memperingatkan adanya gangguan setan yang sering membisikkan ketakutan akan kemiskinan saat seseorang hendak berbagi.

 

“Begitu muncul keinginan sedekah, langsung eksekusi saja. Jangan berhenti, karena kalau berhenti, setan akan masuk dan menjanjikan kefakiran kepada Anda,” pungkasnya.