Arafah, Muzdalifah, dan Mina: Tiga Jejak Spiritualitas Puncak dalam Perjalanan Haji
Sabtu, 30 Mei 2026 | 12:00 WIB
Makkah, NU Online
Di antara seluruh rangkaian ibadah haji, ada tiga tempat yang selalu meninggalkan jejak mendalam dalam hati setiap jamaah, yakni Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Ketiganya bukan sekadar lokasi geografis dalam manasik haji, melainkan ruang spiritual yang sarat makna penghambaan, pengorbanan, kesabaran, dan kesetaraan manusia di hadapan Allah SWT.
Bagi jamaah haji, perjalanan menuju Arafah, mabit di Muzdalifah, hingga melempar jumrah di Mina menjadi fase yang paling menguras tenaga sekaligus paling membekas dalam ingatan. Di tempat-tempat itu, jutaan manusia dari berbagai bangsa melebur tanpa sekat status sosial, warna kulit, maupun jabatan dunia.
Salah seorang jamaah haji sekaligus ulama senior Pidie Jaya, Tgk H Tarmizi Judon, pimpinan Dayah Anwarul Munawwarah yang berlokasi di Meuko Baroh, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, mengatakan bahwa ibadah haji sesungguhnya merupakan perjalanan penyucian jiwa yang mengajarkan manusia tentang hakikat kehidupan dan kepasrahan kepada Allah SWT.
“Ketika berada di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, manusia benar-benar merasakan dirinya kecil di hadapan Allah. Semua ego runtuh, semua status dunia hilang,” ujarnya, Jumat (30/5/2026).
Arafah: Padang Mahsyar yang Menggetarkan
Arafah merupakan puncak ibadah haji. Padang luas yang berada di luar Kota Makkah itu menjadi tempat berkumpul jutaan jamaah pada 9 Dzulhijjah untuk melaksanakan wukuf.
Suasana Arafah selalu menghadirkan getaran ruhani yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Tangisan doa, lantunan talbiyah, dan dzikir memenuhi padang tersebut sejak siang hingga matahari terbenam.
Menantu almarhum Abu Kuta Krueng, ulama kharismatik Aceh, itu menjelaskan bahwa Arafah bukan hanya tempat sahnya ibadah haji, tetapi juga simbol besar tentang kehidupan akhirat dan hari kebangkitan manusia.
“Arafah seperti gambaran kecil Padang Mahsyar. Semua manusia berkumpul memakai pakaian sederhana, memohon ampunan, berharap rahmat Allah,” katanya.
Di tempat itu pula terdapat Jabal Rahmah yang diyakini sebagai lokasi pertemuan Nabi Adam AS dan Siti Hawa setelah dipisahkan Allah SWT ketika diturunkan ke bumi. Karena itu, Arafah juga menjadi simbol pertemuan, pengampunan, dan kasih sayang Allah kepada manusia.
Banyak jamaah menyebut momen wukuf sebagai saat paling mengharukan dalam hidup mereka. Bahkan, jamaah yang sakit tetap berusaha hadir di Arafah meski harus ditandu demi memperoleh kesempurnaan ibadah haji.
Muzdalifah: Malam Tafakur di Tanah Terbuka
Usai wukuf, jamaah bergerak menuju Muzdalifah selepas Maghrib. Di hamparan tanah terbuka itu, jutaan jamaah bermalam di bawah langit tanpa kemewahan dunia.
Di sinilah jamaah mulai mengumpulkan batu-batu kecil untuk persiapan melempar jumrah di Mina.
Ulama yang akrab disapa Abati Kuta Krueng itu menjelaskan bahwa Muzdalifah mengajarkan manusia tentang kesederhanaan dan ketundukan total kepada Allah SWT.
“Di Muzdalifah, manusia belajar bahwa hidup ini sementara. Tidur di tanah terbuka bersama jutaan orang membuat manusia sadar bahwa semua akan kembali kepada Allah,” ujarnya.
Bermalam di Muzdalifah merupakan bagian wajib dalam ibadah haji. Tempat tersebut juga dikenal dengan nama Masy'aril Haram, kawasan suci yang menjadi tempat jamaah memperbanyak dzikir dan doa sebelum menuju Mina.
Mina dan Simbol Perlawanan terhadap Hawa Nafsu
Setelah bermalam di Muzdalifah, jamaah melanjutkan perjalanan ke Mina untuk melaksanakan lontar jumrah.
Mina dikenal sebagai kota tenda karena ribuan tenda berdiri di lembah tersebut setiap musim haji. Di sinilah jamaah menjalani mabit dan melaksanakan lontar jumrah sebagai simbol perlawanan terhadap godaan setan dan hawa nafsu.
“Lempar jumrah bukan sekadar melempar batu. Itu simbol melawan kesombongan, amarah, keserakahan, dan sifat buruk dalam diri manusia,” kata Abati.
Di Mina terdapat tiga lokasi jumrah, yakni Ula, Wustha, dan Aqabah. Selain itu, terdapat Masjid Khaif, tempat Rasulullah SAW pernah melaksanakan shalat dan khutbah saat berhaji.
Mina juga menjadi lokasi penyembelihan hewan kurban yang mengingatkan umat Islam pada keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam menjalankan perintah Allah SWT dengan penuh keikhlasan.
Menurut Abati, nilai terbesar dari perjalanan Arafah, Muzdalifah, dan Mina bukan hanya terletak pada ritual lahiriah, tetapi juga perubahan batin setelah kembali dari Tanah Suci.
“Haji mengajarkan kesabaran, pengorbanan, kedisiplinan, dan persaudaraan. Orang yang benar-benar memahami makna haji akan lebih lembut hatinya dan lebih peduli kepada sesama,” ujarnya.
Ia menambahkan, kerinduan terhadap Tanah Suci selalu hidup dalam hati umat Islam, terutama bagi mereka yang pernah merasakan suasana spiritual di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
“Bagi yang pernah berhaji, kenangan itu tidak pernah hilang. Sedangkan bagi yang belum berangkat, semoga Allah mudahkan suatu hari nanti menjadi tamu-Nya,” pungkasnya.
Di tengah jutaan manusia yang bergerak menuju tempat-tempat suci itu, menurut Abati, ibadah haji sesungguhnya mengajarkan bahwa manusia berasal dari Tuhan yang sama dan akan kembali kepada Tuhan yang sama. Arafah mengajarkan penghambaan, Muzdalifah mengajarkan kesederhanaan, dan Mina mengajarkan pengorbanan serta perjuangan melawan hawa nafsu.
“Itulah perjalanan ruhani yang selalu dirindukan umat Islam sepanjang masa,” pungkasnya.