Nasional

Cara Islam Muliakan Rajab: Hindari Berbuat Zalim hingga Tingkatkan Muthala'ah

Kamis, 8 Januari 2026 | 11:00 WIB

Cara Islam Muliakan Rajab: Hindari Berbuat Zalim hingga Tingkatkan Muthala'ah

Ilustrasi bulan Rajab. (Foto: NU Online)

Jakarta, NU Online

 

Di dalam al-Quran surah at-Taubah ayat 36 disebutkan ada empat bulan haram alias yang mulia. Para ulama bersepakat bahwa empat bulan tersebut yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Hal ini mengacu kepada hadis Nabi Muhammad saw sebagaimana disampaikan Ibnu Jarir di dalam karya tafsirnya Jami'ul Bayan.

 

Pada bulan termasuk Rajab, al-Quran dengan tegas menganjurkan setiap umat Islam untuk menghindari perbuatan zalim kepada diri sendiri. Keterangan ini dinyatakan oleh ulama asal Persia Abu Muhammad al-Husain bin Mas'ud al-Baghawi di dalam Ma'alimut Tanzil fi Tafsiril Qur'an karyanya.

 

"Bahwa yang dimaksud dengan larangan Allah kepada manusia untuk tidak menzalimi diri sendiri pada ayat di atas, adalah dengan tidak merusak kemuliaan bulan haram dengan melakukan maksiat, dan meninggalkan taat," jelas Ustadz Sunnatullah dalam artikel Larangan Mendzalimi Diri Sendiri pada Bulan Rajab, dikutip Kamis (8/1/2026).

 

Selain penjelasan itu, Imam al-Baghawi juga mengemukakan pandangan lain terjemah dari zalim kepada diri sendiri. Menurutnya, menzalimi bisa dimaknai dengan menghalalkan setiap sesuatu yang telah jelas diharamkan dalam Islam. Pandangan ini dialamatkan kepada Ibnu Abbas.

 

"Dari penjelasan al-Baghawi di atas, dapat kita pahami bahwa sakralitas bulan haram, termasuk bulan Rajab adalah dengan memperbanyak melakukan kebaikan dan ketaatan, sedangkan tindakan yang merusak nilai-nilai sakral tersebut adalah melakukan kemaksiatan dengan berbagai macam bentuknya," kata Ustadz Sunnatullah menyimpulkan.

 

Lebih lanjut, terkait alasan menzalimi diri sendiri, salah seorang pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan, Bangkalan itu mengutip pandangan Syekh Wahbah Az-Zuhaili. Menurutnya, hal demikian merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada umat Islam. Pasalnya, suatu amal dalam bulan ketujuh Hijriah ini dilipatgandakan melebihi bulan-bulan lainnya.

 

"Allah memilih dan menghendaki beberapa bulan untuk melipatgandakan semua amal kebaikan dan kejelekan di dalamnya, hal ini boleh-boleh saja bagi Allah, dan merupakan sesuai yang jaiz (boleh-boleh) saja bagi-Nya," ujarnya.

 

Sementara itu, Rais Syuriyah PBNU KH Bahauddin Nursalim mengungkapkan bahwa bulan Rajab adalah momentum dibukanya pintu rahmat oleh Allah ta'ala. Pandangan ini merujuk kepada pernyataan Nabi Muhammad yang menganjurkan umat Islam untuk mencari keutamaan dan rahmat Allah swt.

 

Dalam praktiknya, ulama asal Rembang Jawa Tengah itu memiliki amalan khusus saat memasuki bulan Rajab. Gus Baha meningkatkan muthala'ah dan fokus menemani santri asuhannya untuk menyongsong khataman.

 

"Bahkan Gus Baha meliburkan beberapa pengajian rutinanannya ketika memasuki bulan Rajab seperti ngaji Tafsir Jalalain setiap hari Rabu di pesantrennya dan beberapa rutinan lain di luar Kabupaten Rembang," tulis Syarif Abdurrahman dalam artikel Gus Baha: Pintu Rahmat Allah Dibuka Lebar di Bulan Rajab.

 

Gus Baha pun menganjurkan agar umat Islam dapat meningkatkan sedekahnya selama bulan Rajab. Anjuran ini disandarkan kepada sebuah kisah di dalam Al-Minanul Kubro karya Imam Sya'roni tentang kepastian masuk surga bagi mereka yang bersedekah kepada Allah swt.